KABAR BIREUEN, Jangka – Puluhan hektare lahan persawahan di Gampong Pulo Iboih, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, masih terbengkalai hingga Senin (13/4/2026), meski bencana banjir dan tanah longsor telah berlalu sejak lima bulan lalu. Lambannya pemulihan infrastruktur pertanian membuat petani kehilangan sumber penghidupan, sekaligus melumpuhkan roda ekonomi desa.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi warga yang sejak November 2025 menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Hingga kini, belum terlihat langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen untuk mengembalikan fungsi lahan yang rusak akibat bencana.
Mantan Keuchik Pulo Iboih yang juga petani setempat, Zulkifli Syakban, mengungkapkan kekecewaannya atas minimnya respons pemerintah daerah. Ia menilai, pembiaran tersebut berdampak langsung pada terputusnya rantai ekonomi masyarakat.
“Sangat kita sesalkan. Hingga saat ini belum kita lihat ada sedikit pun progres pemulihan di lahan persawahan. Kami merasa pemerintah daerah seperti menutup mata terhadap kondisi kami di sini,” ujar Zulkifli.
Menurutnya, lumpuhnya sektor pertanian tidak hanya berdampak pada pemilik lahan, tetapi juga memicu efek domino terhadap kelompok masyarakat rentan. Selama ini, hamparan sawah di desa tersebut menjadi sumber penghidupan bagi buruh tani harian, termasuk para janda dan warga berpenghasilan rendah.
Dalam kondisi normal, mereka memperoleh penghasilan dari berbagai aktivitas pertanian, mulai dari menanam padi, membersihkan gulma, hingga panen. Namun kini, aktivitas itu terhenti total akibat lahan yang belum bisa digarap.
BACA JUGA: Selamatkan Sektor Pangan, Sawah Rusak Sedang dan Ringan di Bireuen Mulai Direhabilitasi Februari Ini
Ketidakpastian ini membuat banyak warga kehilangan pendapatan utama. Zulkifli pun mendesak agar pemerintah segera turun tangan melakukan pemulihan infrastruktur pertanian agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
“Kami sangat berharap Pemkab Bireuen segera turun tangan memulihkan lahan pertanian. Kalau sawah hidup lagi, bukan cuma pemilik lahan yang terbantu, tapi ibu-ibu janda dan warga kecil di sini bisa kembali bekerja jadi buruh harian untuk menyambung hidup. Jangan biarkan kami terus-terusan dalam ketidakpastian,” pungkasnya. (Suryadi)











