KABAR BIREUEN, Banda Aceh-Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh menggelar Workshop Integrasi Persalinan Model Syariah (PMS) ke dalam Kurikulum Pendidikan Kebidanan Berbasis Outcome-Based Education (OBE) pada 12–14 Agustus 2026 di Banda Aceh.
Workshop tersebut diikuti 28 dosen pengampu mata kuliah dari Prodi DIII dan Sarjana Terapan Kebidanan, baik kampus utama maupun PSDKU, juga dilakukan melalui daring (zoom).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh yang dilaksanakan oleh Dr. Lilis Suryani, SST., SKM., M.Kes., Dr. Bdn. Sulastri, S.SiT., M.Kes., dan Dr. Irnawati, SSiT., M.Kes., dengan dukungan pendanaan Simlitabkes Kementerian Kesehatan RI Tahun 2026.
Persalinan Model Syariah adalah inovasi pelayanan kebidanan yang dikembangkan Dr. Bdn. Sulastri, dan Dr. Lilis Suryani, pada tahun 2016, dan diimplementasikan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sejak 2017 serta meraih Anugerah Inovasi Aceh 2023.
Inovasi tersebut mengintegrasikan praktik kebidanan berbasis bukti dengan pemenuhan kebutuhan spiritual ibu selama proses persalinan melalui pelayanan yang aman, nyaman, bermartabat, menjaga privasi dan aurat, serta sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Menurut laporan Ketua Tim Pengabdian, Dr. Lilis Suryani, workshop ini dilaksanakan sebagai respons terhadap kebutuhan pengembangan pendidikan kebidanan di Aceh yang tidak hanya menekankan kompetensi klinis, tetapi juga perlu memperhatikan nilai-nilai Islam, aspek spiritual, budaya, serta prinsip pelayanan kesehatan masyarakat yang berpusat pada perempuan.
“Dalam konteks Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam, integrasi nilai-nilai Islam menjadi bagian penting dalam pengembangan kurikulum agar lulusan mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat,” sebutnya.
Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh, Cut Nurhasanah, SSiT., M.Kes., mengatakan integrasi Persalinan Model Syariah ke dalam kurikulum merupakan langkah strategis untuk memperkuat karakter lulusan sekaligus menjawab kebutuhan pelayanan kebidanan di Aceh.
Workshop menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keahlian untuk memperkuat perspektif akademik, syariah, pelayanan kesehatan, dan pengembangan kurikulum. Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Guru Besar FMIPA USK, memberikan materi mengenai “Urgensi Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Visi, Misi dan Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi”.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Muhammad Yasir Yusuf, M.A. Guru Besar UIN Arraniry dan Dewan Pakar Syariah RSUDZA, menyampaikan materi “Regulasi dan Prinsip Syariah dalam Pelayanan Kesehatan dan Praktik Kebidanan”.
Pengembang PMS, Dr. Bdn. Sulastri, dan Dr. Lilis Suryani, memaparkan materi mengenai konsep, filosofi, inovasi, serta implementasi Persalinan Model Syariah.
Selanjutnya dr. Isra Firmansyah, Sp.A., Ph.D., FISQua, sebagai Project Leader dan memiliki pengalaman dalam implementasi PMS di rumah sakit, memaparkan tentang “Strategi Implementasi dan Diseminasi Persalinan Model Syariah dalam Pelayanan Kebidanan di Rumah Sakit”.
Sementara itu, Ferina, SST., S.Keb., Bd., M.Keb. dari Poltekkes Kemenkes Bandung memberikan penguatan mengenai “Strategi Integrasi Persalinan Model Syariah ke dalam Kurikulum Pendidikan Kebidanan Berbasis OBE”.
Workshop dirancang tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta secara langsung terlibat dalam proses penyusunan dan pengembangan perangkat kurikulum.
Dokumen yang dikembangkan meliputi CPL, CPMK, Sub-CPMK, bahan kajian, Rencana Pembelajaran Semester (RPS), modul pembelajaran, SOP praktikum, serta blueprint OSCE yang mengintegrasikan Persalinan Model Syariah.
Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh, Dr. Abdurrahman, S.Kp., M.Pd., berharap workshop ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pendidikan kebidanan yang berkarakter Islami, sekaligus membuka peluang untuk mendiseminasikan dan mereplikasi integrasi Persalinan Model Syariah pada institusi pendidikan kebidanan lainnya di Aceh.
Pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi Poltekkes Kemenkes Aceh, yaitu “Menjadi Institusi Pendidikan Kesehatan yang Unggul, Berkarakter Islami, dan Berdaya Saing Global Tahun 2034.”
“Kami berharap Persalinan Model Syariah tidak berhenti sebagai inovasi dalam pelayanan kebidanan, tetapi dapat ditransformasikan menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembelajaran kebidanan,” harap Dr. Abdurrahman.
Dengan demikian, calon bidan tidak hanya memiliki kompetensi klinis dan berbasis bukti, tetapi juga mampu memberikan asuhan yang menghormati martabat perempuan, memperhatikan aspek spiritual, serta selaras dengan nilai-nilai Islam dan kebutuhan masyarakat Aceh. (Red)











