KABAR BIREUEN, Bireuen – Warga Gampong Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Furqan, mengharapkan perbaikan lahan sawah yang tertimbun lumpur sekitar 10 hektare di desanya akibat banjir November 2025 lalu.
Selain itu, kebutuhan lainnya yang diperlukan masyarakat pascabencana adalah pengadaan kembali sarana pompanisasi yang hilang akibat banjir bandang, serta perbaikan saluran irigasi sawah.
Hal itu disampaikannya saat audiensi Gerakan Masyarakat Sipil yang dikoordinir GeRAK Bireuen dengan legislatif dan eksekutif terkait penanganan pascabencana di Bireuen, Selasa (10/3/2026) di Ruang Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPRK Bireuen.
Audiensi tersebut dihadiri Wakil Ketua I DPRK dari PKB, Surya Dharma, Wakil Ketua II DPRK Bireuen, Muslem Abdullah, Ketua Komisi I, Nova Syamaun, anggota dewan, Tgk M Jafar, Pj Sekda Bireuen, Hanafiah, Asisten I Setdakab, Mulyadi, Asisten II Setdakab Bireuen, Mawardi, Plt Asisten III, Azhari, Kadis PUPR, Fadhli Amir, Kadis Perkim, Fadhli, Kadis Sosial, Ismunandar, Plt Kalak BPBD, Doli Mardian, Kadis Kesehatan, dr.Irwan.
Furqan menyebutkan, selain itu, masyarakat juga membutuhkan normalisasi tambak dan pematang tambak yang rusak dengan luas sekitar 87 hektare.
“Kami juga berharap agar ada pengadaan perahu bagi nelayan yang hilang, serta penyediaan sanitasi air bersih (PDAM) untuk kebutuhan warga,” harapnya.
Menanggapi hal tersebut, khusus mengenai sawah warga yang rusak, Pj Sekda Bireuen, Hanafiah mengatakan, pemerintah pusat akan mencetak sawah baru di Bireuen.
“Baru tadi pukul 14.00 WIB, ada zoom untuk membahas tender mengenai program cetak sawah baru Bireuen,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Bireuen, Mulyadi yang dikonfirmasi Kabar Bireuen, membenarkan rencana cetak sawah baru di Bireuen.
“Rencananya sawah baru yang akan dicetak seluas 138 hektare, bersebaran di beberapa kecamatan dengan menggunakan dana APBN,” ungkap Mulyadi.
Namun, terkait kapan pelaksanaanya, dia mengaku belum mengetahuinya karena itu urusan pemerintah pusat.
“Tapi persyaratan kita sudah lengkap,” ujarnya.
Dikatakannya, sekarang ada Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi (LIP) Kementan di Medan, Sumatera Utara yang membawahi Sumatera.
Mulyadi menjelaskan, berdasarkan hasil perhitungan, total kerusakan sawah di Kabupaten Bireuen terdiri dari beberapa kategori.
Untuk kerusakan berat tercatat seluas 1.323,07 hektare.
Sementara kerusakan sedang mengalami perubahan dari sebelumnya 672,12 hektare menjadi 685,27 hektare. Adapun kerusakan ringan mencapai 2.736,60 hektare. (Ihkwati)











