KABAR BIREUEN- Lembaga Maitri Karuna Jaya Matangglumpangdua Peusangan mengadakan sembahyang untuk arwah orang tua yang sudah meninggal, Selasa (5/9/2023) di kediaman Elvi Suifong, pimpinan lembaga tersebut di Gampong Keude Matang, Peusangan, Bireuen.
Elvi Suifong menyebutkan, kegiatan Ulambana Chu Thou ini dilakukan untuk menyebrang arwah ke alam yang lebih baik, yang dipersembahkan oleh anak-anaknya kepada arwah orang tuanya sebagai tanda hormat dan kasih sayang.
“Kita menghadirkan Biksu Zhan Yi, dari Jakarta untuk memimpin sembahyang hari ini, yang diikuti 60 umat Budha Bireuen, Matangglumpangdua, Samalanga, Lhokseumawe, Takengon dan Kuala Simpang,” sebut wanita yang akrab disapa Cici Elvi itu.
Juga tampak hadir Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Budha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Ketut Panji Budiawan SH,S.Ag, dan Pembimas Hindu.
Biksu Zhan Yi, yang merupakan pimpinan Budhist Education Center di Jakarta itu dalam ceramahnya menyampaikan pentingnya belah kasih dengan sesama.
“Orang Tibet punya patung dewa rezeki di rumahnya, seharusnya mereka sudah kaya semua, tapi kok masih miskin, itu ada dua penyebabnya, pertama kurang berdana dan kurang berusaha. berdana dengan ucapan kita yang tidak menyakiti orang lain,” jelasnya.
Kedua, katanya, berdana dengan perbuatan, ada yang berdana dengan modal yang sangat sedikit, yaitu senyum. Kalian harus banyak senyum.
Saat berlangsungnya acara, Cici Evi menyerahkan jubah biksu diiringi isak tangis harunya kepada Biksu Zhan Yi dan langsung dipakai oleh biksu yang sempat beberapa tahun belajar di Taiwan tersebut.
Sembahyang untuk mengingat orang tua yang meninggal itu diisi dengan melantunkan doa-doa dan memberikan persembahan aneka buah, sayur dan makanan.
Biksu Zhan Yi kepada Kabar Bireuen menyebutkan, kegiatan ini biasanya berdana kepada bikhu, melimpahkan jasanya kepada orang tua atau sanak saudara yang sudah meninggal agar mereka lebih berbahagia di sana.
Namun, karena kegiatannya digelar di sini, maka diisi dengan acara sembahyang untuk mengingat orang tua yang sudah meninggal.
Acara seperti ini, katanya, juga untuk mengingatkankan orang yang masih hidup supaya selalu berbuat baik dan hidup di jalan kebenaran agar ketika mati tidak sengsara.
“Kepada umat Budha di Aceh agar jadi orang yang baik, di dalam hati, di mulut dan diperbuatan. Jangan berkedok orang beragama, berkedok orang baik, tapi mulutnya pedas. Perbuatan juga harus baik,” pesan Biksu Zhan Yi.
Perayaan Ulambana ini merupakan salah satu hari suci umat Buddhis yang diselenggarakan pada tanggal pertama hingga ke-15 penanggalan Imlek.
Pada hari tersebut, para Bhikkhu Sangha sedang menjalankan masa Vassa (retret selama Musim Hujan berlangsung).
Setelah menjalankan masa tersebut, banyak bhikkhu yang mengalami peningkatan dalam kehidupan spritualnya sehingga menjadi “lahan teramat subur” untuk menanam kebajikan.
Para umat Buddha yang memberikan persembahan kepada mereka akan memperoleh karma baik lebih besar daripada biasanya.
Umat juga bisa melimpahkan jasa kebajikan yang diperoleh dari persembahan tersebut untuk roh leluhur mereka serta makhluk-makhluk yang menderita di alam peta (alam hantu kelaparan).
Pada kesempatan itu, secara pribadi, pemilik Stroop Manis Cap Mawar Matangglumpangdua itu menyerahkan bantuan sosial (baksos) berupa sembako terdiri dari beras, minyak, gula dan telur untuk karyawannya. (Ihkwati)









