KABAR BIREUEN, Bireuen – Meski hingga kini tuntutan para korban banjir belum juga dipenuhi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, mereka tak patah semangat dan tetap bertahan ‘berkemah’ di pekarangan Kantor Bupati Bireuen (Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen). Jumlah mereka bukannya berkurang, malah kini bertambah lagi korban bencana mengungsi ke sana.
Pada Rabu (25/3/2026) malam, datang lagi lima kepala keluarga (KK) korban bencana dari Gampong Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa.
Mereka memasang tiga tenda darurat BNPB di bagian selatan Mushalla Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen. Ketiga tenda yang dipasang berdampingan itu, satu berwarna oranye dan dua lagi putih. Dengan bertambahnya tamu baru tersebut, sekarang tenda darurat di pekarangan Kantor Bupati Bireuen berjumlah sembilan unit.
Marzuki, seorang korban banjir dari Salah Sirong Jaya, mengatakan, dirinya datang mengungsi ke pekarangan Kantor Bupati Bireuen bersama istri dan dua anak mereka atas keinginan sendiri. Selama ini, Marzuki bersama keluarga menempati tenda darurat di tempat pengungsian Gampong Salah Sirong Jaya.
“Kami tidak tahan lagi hidup kepanasan dalam tenda di kampung yang sudah empat bulan. Sekarang kami datang kemari dan bergabung dengan rekan-rekan senasib di sini, untuk sama-sama menuntut hak kami sebagai korban bencana kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen,” ujar Marzuki kepada Kabar Bireuen di lokasi pengungsian tersebut, Kamis (26/3/2026).
BACA JUGA: Tuntut Huntara, Pengungsi Korban Banjir Dirikan Tenda di Halaman Kantor Bupati Bireuen
Dia menyampaikan, saat banjir akhir November tahun lalu, rumah beserta isinya lenyap diterjang banjir. Lahannya juga berubah menjadi sungai.
“Karena itu, saya sangat membutuhkan huntara sebagai tempat tinggal sementara. Saya juga tidak mendapatkan Dana Tunggu Hunian (DTH),” ungkap Marzuki.

Hal yang sama disampaikan Wahruddin. Dia mengaku, rumah beserta tanah miliknya hilang diterjang banjir. Selama ini, dia menumpang tinggal sementara di rumah tetangganya.
“Tenda BNPB yang diberikan untuk pengungsi di Salah Sirong Jaya tidak mencukupi, Makanya, sebagian kami terpaksa numpang tinggal sementara di rumah-rumah warga yang tidak rusak parah dan masih bisa ditempati,” jelas Wahruddin.
Sekarang, dia merasa tidak memungkinkan lagi terlalu lama tinggal di rumah tetangganya. Apalagi penghasilannya juga tidak ada, untuk bisa membantu biaya kebutuhan sehari-hari tetangganya tersebut.
“DTH juga tidak ada. Kalau ada DTH, kan bisa saya gunakan untuk membantu biaya kebutuhan hidup sehari-hari tetangga saya itu,” keluh Wahruddin.
Seorang korban banjir lain warga Salah Sirong Jaya yang juga kehilangan rumah, mengaku datang mengungsi ke halaman Kantor Bupati Bireuen atas kemauan sendiri. Dia menuntut agar segera disediakan huntara, sambil menunggu adanya solusi pembangunan huntap bagi korban banjir yang kehilangan rumah sekaligus lahannya.
“Kemungkinan, ada lagi rekan-rekan kami di Salah Sirong Jaya yang juga kehilangan rumah, akan datang menyusul kami kemari,” sebutnya. ((Suryadi)










