
Oleh: Mutia Hasdi
Ibu Rumah Tangga Penikmat Odong-odong di Bireuen
KEMARIN malam, tepatnya malam Minggu, 13 September 2025, aku ke Alun-alun Kota Bireuen. Jajanan sekitar Tugu Kota Juang tampak ramai seperti biasanya. Muda-mudi duduk bergerombol sambil bercengkerama, keluarga-keluarga kecil berjalan santai menikmati suasana malam. Alun-alun benar-benar hidup dengan keriuhan khas malam Minggu, sebuah denyut kota yang menandakan Bireuen tak pernah sepi.
Namun, di tengah keramaian itu, ada satu hal yang hilang. Anak-anakku merengek manja, menunjuk ke arah jalan, dan bertanya: “Mama, odong-odongnya ke mana? Kok nggak ada ya, Ma?”
Dengan lembut aku menjawab, seakan mendongeng menenangkan mereka. “Odong-odongnya lagi istirahat, sayang. Dia capek keliling kota setiap malam. Mungkin besok kalau sudah baikan, dia bisa jalan lagi”.
Begitulah jelasku, dengan bahasa mendongeng, agar mereka bisa menerima kenyataan tanpa kecewa berlebihan. Malam itu aku sadar, denyut kecil yang biasa menyemarakkan Bireuen sudah berhenti: odong-odong tak lagi beroperasi.
Padahal, odong-odong bukan sekadar hiburan anak-anak. Ia adalah bagian dari roda ekonomi masyarakat kecil di Bireuen. Menghentikan operasinya sama juga dengan mematikan mata pencaharian rakyat kecil, sekaligus menghilangkan ruang kegembiraan sederhana bagi anak-anak.
Bayangkan, betapa banyak keluarga yang selama ini menggantungkan hidup pada kendaraan berwarna-warni itu? Ada yang berperan sebagai pengemudi, ada yang mejaga musik dan lampu, bahkan ada pula pedagang kecil ikut kecipratan rezeki karena anak-anak ingin jajan sebelum atau setelah naik odong-odong. Semua itu berputar dalam lingkaran kecil ekonomi malam Bireuen.
Dari sisi sosial, odong-odong menghadirkan kebahagiaan sederhana. Anak-anak bisa mengenal kota dengan cara menyenangkan. Duduk bersama teman sebaya, tertawa, menyanyi mengikuti musik yang diputar, dan melambai ke orang-orang di pinggir jalan. Hiburan ini murah, meriah dan penuh kenangan.
Saya masih ingat ketika anak sulung saya pertama kali naik odong-odong. Wajahnya berbinar seakan menemukan dunia baru. Bukan hanya anak-anak saya, hampir setiap malam Minggu selalu terlihat orang tua yang rela mengantre hanya untuk melihat anaknya tersenyum puas setelah berkeliling kota dengan odong-odong. Bahkan, muda-mudi pun kadang ikut tertarik naik odong-odong, sekadar bernostalgia atau mencari hiburan ringan yang berbeda dari biasanya.
Odong-odong pada akhirnya bukan hanya milik anak-anak, melainkan juga menjadi sarana sederhana untuk meningkatkan kebersamaan lintas usia. Itulah pemandangan khas Bireuen yang kini telah hilang.
Alasan penghentian odong-odong sering dikaitkan dengan kemacetan dan kebisingan. Namun, mari kita lihat dengan jujur. Apakah benar-benar odong-odong penyebab utama kemacetan? Bukankah parkir kendaraan di badan jalan, khususnya di depan kafe-kafe di pusat kota, juga menghambat arus lalu lintas?
Jika alasan kemacetan dipakai, seharusnya semua parkir liar juga mendapat perhatian yang sama. Begitu juga dengan alasan kebisingan. Lagu-lagu di odong-odong dianggap mengganggu ketenangan, terlebih karena di Bireuen dikenal dengan Kota Santri.
Lantas, bagaimana dengan musik keras bahkan karaoke di kafe-kafe yang kadang terdengar hingga ke rumah warga di sekitarnya? Mengapa justru odong-odong yang membawa kebahagiaan bagi anak-anak harus diperlakukan berbeda?
Sementara itu, parkir liar dan musik bising dari kafe seakan dibiarkan begitu saja, mungkin karena sudah ada aturan khusus dari pemerintah, atau barangkali diaggap wajar karena alasan ekonomi. Jika demikian, bukankah odong-odong pun bisa diperlakukan dengan prinsip yang sama, diatur, bukan dimatikan?
Sebagai sebuah kota yang berkembang, wajar jika Bireuen ingin menjaga ketertiban lalu lintas dan ketenangan suasana. Namun, langkah yang diambil seharusnya bukan berupa pelarangan total, melainkan pengaturan yang bijak.
Pemerintah bisa mengatur titik start atau lokasi parkir khusus bagi odong-odong agar tidak mengganggu lalu lintas. Jam operasional dapat ditentukan, misalnya beroperasi setelah shalat isya. Menentukan jalur tertentu yang aman bagi pengendara lain dan juga bagi odong-odong itu sendiri. Volume musik yang diputar pun bisa dibatasi agar tidak mengganggu aktivitas di sekitar masjid, mushalla, dan rumah sakit.
Jika aturan dilanggar, barulah sanksi dijatuhkan. Mulai dari teguran, denda, hingga pencabutan izin jika terus mengulanginya. Dengan cara ini, keadilan mungkin hadir bukan lewat pelanggaran, melainkan penertiban yang manusiawi. Karena sejatinya, kota yang bijak bukanlah kota yang memadamkan riang rakyat kecil, tetapi kota yang memberi ruang bagi mereka untuk hidup layak, tanpa harus menghapus senyum anak-anak.
Perlu diingat, odong-odong adalah hiburan rakyat. Tidak semua keluarga mampu membawa anak-anak mereka ke taman bermain modern atau pusat hiburan besar yang menghabiskan banyak rupiah. Odong-odong hadir sebagai alternatif yang sederhana namun bermakna.
Anak-anak bisa tertawa sambil melihat indahnya kota Bireuen di malam hari dari atas odong-odong yang ditumpanginya. Orang tua bisa tersenyum lega sambil menjawab setiap pertanyaan polos dari anaknya “Itu apa, Mak? Itu apa, Ayah? Itu masjid besar tempat Papa shalat kemarin kan?”
Pemilik odong-odong pun bisa pulang membawa rezeki halal untuk keluarganya di rumah. Kehadirannya benar-benar membuat kota terasa ramah bagi semua lapisan masyarakat, bukan hanya bagi mereka yang mampu. Tanpa odong-odong, wajah Bireuen yang semarak itu terasa ada yang hilang.
Bireuen dikenal sebagai kota santri, tempat nilai-nilai harmoni dijunjung tinggi. Semestinya, dalam soal odong-odong pun, harmoni itu bisa diwujudkan. Anak-anak tetap bisa tertawa, rakyat kecil tetap bisa mencari nafkah, dan ketertiban kota tetap terjaga.
Jangan biarkan sebuah kota yang ramai kehilangan denyut kecil dan membuatnya terasa lebih hidup. Karena pada akhirnya, ukuran sebuah kota bukan hanya dari gedung yang berdiri megah atau jalan yang tertata rapi, tetapi juga dari seberapa ramah ia terhadap warganya, terutama anak-anak dan rakyat kecil yang sering kali suaranya tak terdengar. [*]
Penulis berdomisili di Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen











