KABAR BIREUEN, Bireuen – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bireuen mengadakan Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Tahun 2025.
Kegiatan itu berlangsung di Aula Hotel Bireuen Jaya, Kamis 28 Agustus 2025, dibuka Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Bireuen, Hanafiah,S.P., CGCAE.,FRMP.
Dalam sambutannya, Hanafiah mengatakan, pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat Kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.
Keberhasilan pembangunan kesehatan serta pelayanan yang baik dan prima untuk masyarakat menjadi tanggung jawab bersama, dan yang terpenting adalah melakukan tindakan pencegahan atau preventif terhadap penyakit tidak menular dan penyakit menular.
Kondisi sekarang kabupaten Bireuen sedang mengalami peningkatan kasus PD31 (Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi) yaitu kasus campak, difteri dan pertusis serta berbagai penyakit menular lainnya seperti TBC, HIV, DBD, hepatitis, kusta, Diare, ISPA dan sebagainya.
Menurutnya, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, angka kejadian penyakit tidak menular semakin meningkat dari tahun ketahun, penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, kanker dan penyakit jantung kini menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia.
“Dalam hal ini Kabupaten Bireuen sudah bebas dari penyakit menular frambusia dan mendapatkan sertifikat dari Kementerian Kesehatan,” jelas Hanafiah.
Hal ini menjadi motivasi untuk meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat khususnya di Kabupaten Bireuen.
Melalui pertemuan koordinasi dan evaluasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ini, Pj Sekda Bireuen ini mengajak semua elemen pemerintah dan masyarakat berperan aktif dalam mencapai target nasional yang telah ditetapkan.
“Kita menyadari, penanganan masalah kesehatan bukan hanya tugas Dinas Kesehatan semata, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Lanjutnya, beberapa masalah dan hambatan dalam pelaksanaan di lapangan tentu tidak bisa diatasi oleh jajaran Dinas Kesehatan sendiri, sehingga sangat perlu adanya koordinasi dengan lintas sektor terkait dan peran serta tokoh masyarakat.
Edukasi dan sosialisasi yang gencar kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta imunisasi lengkap yang diberikan oleh Puskesmas merupakan kunci untuk mencegah penyebaran penyakit, baik penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi maupun penyakit-penyakit lainnya.
“Sehingga dapat diketahui dan dapat dicegah secara cepat hingga tercapainya derajat kesehatan yang baik,” ujarnya.

Kepada Camat dan Kepala Puskesmas agar dapat berperan aktif dalam meningkatkan deteksi dini, upaya preventif dan respon penyakit agar terwujudnya masyarakat Bireuen yang sehat.
Hanafiah menekankan, pentingnya sinergi dan kolaborasi antara semua pihak terkait dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan masyarakat.
Bisa berbagi pengalaman, mengidentifikasi permasalahan, dan menemukan solusi bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
“Sehingga dapat menghasilkan rekomendasi dan rencana aksi yang tepat untuk meningkatkan capaian program pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayah kita,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabid P2P Dinkes Bireuen, dr. Rini Noviyanti, M.K.M melaporkan, maksud dan tujuan utama Pertemuan Koordinasi Bidang P2P ini untuk mengevaluasi capaian program pencegahan dan pengendalian penyakit, di wilayah Kabupaten Bireuen selama satu tahun terakhir.
Meningkatkan sinergitas, koordinasi dan kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, Pemerintah Kecamatan, serta Lintas Sektor terkait dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat.
Merumuskan strategi bersama untuk akselerasi pencapaian target program P2P serta meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan respon cepat terhadap penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Dan menghasilkan komitmen bersama dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret dan implementatif,” jelasnya.
Disebutkan, kegiatan yang berlangsung satu hari, Kamis, 28 Agustus 2025 di Aula Hotel Bireuen Jaya, diikuti 186 orang.
Besarnya jumlah dan beragamnya unsur peserta menunjukkan betapa penting dan strategisnya isu pencegahan dan pengendalian penyakit ini untuk kita tangani secara bersama-sama.
Diharapkan melalui forum ini akan lahir diskusi-diskusi yang produktif, gagasan-gagasan inovatif, dan yang terpenting adalah penguatan komitmen untuk bergerak bersama.
“Keberhasilan program P2P bukanlah semata-mata tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan tanggung jawab kita semua,” kata Rini Noviyanti. (Hermanto)












