KABAR BIREUEN– Bupati Bireuen H. Saifannur S.Sos meninjau langsung kegiatan gotong royong pembersihan saluran irigasi di Keude Matangglumpangdua, Peusangan, Bireuen, Minggu (17/9/2017).
Bupati Saifannur pada kesempatan itu mengajak semua masyarakat agar menggalakkan gotong royong, jangan malas untuk bergotong royong, karena itu untuk kepentingan bersama.
“Kalau tidak ada kebersamasn, botol air mineral, sampah kota dibuang begitu saja ke saluran air. Tidak boleh lagi buang sampah sembarangan. Mari gotong royong bersama, termasuk instansi terkait dan masyarakat,” sebitnya.
Untuk menggalakkan kembali gotong royong di desa dan sekitar saluran air, Saifannur akan mengeluarkan instruksi kepada seluruh camat, imum mukim untuk melaksanakan gotong royong setiap hari Minggu.
Kios di atas saluran harus dibersihkan dan ditertibkan, tak boleh lagi ada bangunan atau kios liar di atas saluran air. Masyarakat harus menjaga kebersihan, karena itu bagian dari iman.
“Bangunan liar jangan dibangun lagi, jangan bikin runyam, kasih tahu mereka agar masyarakat petani tak sengsara gara-gara gagal panen. Semua juga cari makan, tapi harus sesuai aturan, tata ruang kota seperti apa,” harapnya.
Dikatakan Saifannur, untuk merawat air, dia telah meminta uang ke gubernur untuk merawat saluran yang hancur, yang berdampak pada 6700 hektar sawah.
Pemeliharaan saluran irigasi, sebutnya, sangatlah mahal, karena itu harap dipelihara, karena kalau terganggu air, yang akan rugi masyarakat.
“Sudah dua kali gagal panen dengan kerugian ditaksir mencapai Ro 300 miliar. Pemkan Bireuen tak tinggal diam cari solusi, apa langkah ke depan untuk masyarakat,” jelasnya.
Dia meminta perhatian masyarakat agar terus melakukan gotong royong tiap Hari Minggu, jangan gotong royong hanya hari ini saja. Tolong kesadaran masyarakat gotong royong 2-3 jam untuk membersihkan desa. Kepada Kejrun Rayeuk, tolong buat rapat kembali.
Kejruen Chiek Peusangan, Anwar mengatakan, bangunan liar di sekitar saluran air sangat mengganggu kelancaran air.
Tumpukan sampah di PPL 8, Pasar Ikan Matangglumpangdua, terganggu distrbusi airnya ke 350 ha sawah meliputi Desa Matangglumpangdua Meunasah Dayah, Matang Sagoe, Matang Mesjid, Matang Cot Paseh.
Kejadian ini, katanya, terjadi di setiap musim tanam terjadi, sehingga, keterlambatan tanam padi sawah meliputi desa tersebut. Akibatnya tanaman padi rentan diserang hama penyakit karena tidak sesuai jadwal musim tanam.
Harapan petani, sebutnya, saluran alternatif yang dari Ulee Matang mengarah yang banyak sampah dan bangunan permanen agar dibongkar, sehingga memudahkan dilakukan pembersihan baik manual maupun alat berat.
Tampak hadir pada gotong royong tersebut, Camat Peusangan, Amiruddin BA, Danramil 06 Peusangan, Kapten Inf Baidarlani, Keujruen Rayeuk Peusangan, H Yusri Abdullah, Sertu Muzakir, anggota koramil Peusangan dan masyarakat. ( Ihkwati).










