KABAR BIREUEN – Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) Jakarta menjalin kerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bireuen, dalam rangka melaksanakan program Jurnalis Warga (JW) bagi masyarakat setempat. Ini sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan kualitas layanan publik, dengan melibatkan warga sebagai aktor utama dalam proses advokasi.

Acara sosialisasi, konsolidasi, dan rekrutmen JW ini, untuk menjalankan program tersebut, telah dilaksanakan di Jameueun Kupie, Gampong Cot Bada Baroh, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Sabtu (27/3/2021).

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah perwakilan dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Bireuen, PWI, Karang Taruna, KNPI, akademisi dan mahasiswa, PT Radio Andyta Peusangan, Sekolah Anti Korupsi (SAK), perwakilan tokoh perempuan dan Tenaga Pendamping Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD).

Dalam kesempatan itu, Koordinator Jurnalis Warga (KJW) Bireuen, Murni M. Nasir, menjelaskan, PPMN telah menyelenggarakan Program JW di puluhan kabupaten dan belasan provinsi di Indonesia sejak tujuh tahun lalu. Kabupaten Bireuen sendiri telah menjalankan program JW ini sejak 2017

Tahun ini, kata dia, gerakan JW PPMN dilaksanakan hanya di empat wilayah yakni Aceh (Bireuen), Jawa Timur (Jember), Sulawesi Selatan (Luwu Utara) dan Papua (Jaya Pura).

“Tahun 2021 ini, kita akan fokus mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelayanan publik di Kabupaten Bireuen, khusus untuk sektor kesehatan, pendidikan dan administrasi kependudukan (Adminduk),” ujar Murni.

Menurut Murni, sebelumnya pendampingan program tersebut dilakukan dengan merekrut dan mendampingi jurnalis warga di level gampong (desa). Namun, kali ini menerapkan konsep yang berbeda. PPMN menggandeng sejumlah pihak untuk bekerja sama, yaitu lembaga kepemudaan level kabupaten, akademisi, pegiat desa, dan universitas.

Mekanisme perekrutannya, meminta rekomendasi dari masing-masing pihak tersebut untuk menjadi jurnalis warga. Sehingga, nantinya di setiap kecamatan memiliki jurnalis warga untuk dibina di level kabupaten.

“Misalnya, KNPI dan Karang Taruna Bireuen akan merekomendasikan masing-masing anggotanya dari pengurus kecamatan untuk menjadi jurnalis warga. Begitu juga dengan pihak universitas, akan merekomendasikan mahasiswanya untuk menjadi peserta jurnalis warga,” terang Murni.

Selanjutnya, sebut perempuan aktivis antikorupsi ini, semua delegasi dalam program tersebut dibentuk menjadi Forum Jurnalis Warga Kabupaten Bireuen. Mereka akan dibina oleh PPMN, bekerja sama dengan PWI Bireuen.

“Program penguatan jurnalis warga yang tersebar di semua kecamatan dalam Kabupaten Bireuen, menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kualitas layanan publik, dengan melibatkan warga, khususnya pemuda dan pemudi sebagai aktor utama dalam proses advokasi,” papar Murni.

Dia mengharapkan, jurnalis warga yang dibentuk di tingkat kabupaten ini, mampu mengadvokasi isu-isu di sektor kesehatan, pendidikan dan adminduk yang ada di unit layanan publik melalui tulisan yang dipublikasikan. Nantinya, jurnalis warga juga akan ditingkatkan kapasitasnya, demi tercapai tujuan sebagaimana yang dharapkan.

Bahkan, pihaknya tetap menjaga keberlanjutan mereka, karena didukung oleh PWI Bireuen. Selain itu, juga akan bekerja sama dengan pihak pemerintah setempat.

“Kolaborasi dan partisipasi ini, akan membuka jalan untuk lebih transparan dan akuntabel. Sehingga, mampu mendorong perbaikan layanan dan pembangunan berbasis kebutuhan publik,” harap Murni.

Sementara Ketua PWI Bireuen, Suryadi, menyambut baik kerja sama tersebut. Dia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan PPMN kepada PWI Bireuen, untuk membina jurnalis warga.

Suryadi menyatakan, PWI Bireuen siap membina jurnalis warga, agar bisa menjadi alat kontrol sosial dan menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat. Terutama, mengadvokasi isu-isu seputar pelayanan bidang kesehatan, pendidikan dan adminduk.

“Jurnalis warga memang bukan wartawan profesional, dalam artian bukan pekerjaan utamanya sebagai wartawan. Namun, tulisan atau karya yang dihasilkan jurnalis warga, juga harus menaati kaedah-kaedah jurnalistik. Informasi yang disampaikan harus fakta, bukan hoax atau fitnah. Tetap harus berpedoman pada Undang-undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik,” jelas Suryadi.

Menurut Suryadi, sebenarnya tanpa kita sadari di era keterbukaan informasi ini, hampir setiap masyarakat telah menjadi jurnalis warga. Ini seiring dengan banyaknya tersedia saluran untuk menyampaikan informasi, baik di media massa online maupun berbagai jenis media sosial.

“Cuma kebanyakan informasi yang disampaikan di media sosial, tidak lengkap. Bahkan, ada yang malah membingungkan pembaca,” ujar Suryadi.

Karena itu, kata dia, jurnalis warga membutuhkan pembinaan, agar bisa menjadi penyampai informasi yang baik dan benar serta bertanggung jawab. Informasi yang dipublikasikan, juga jangan sampai melanggar aturan atau hukum yang berlaku. Misalnya, melanggar UU ITE.

Semua pihak yang hadir pada acara sosialisasi, konsolidasi, dan rekrutmen JW ini, sangat mendukung program tersebut. Mereka berkomitmen menyukseskan program yang didukung USAID dan Internews ini secara berkelanjutan.

Kepada perwakilan organisasi atau lembaga tadi, diminta menyampaikan nama-nama anggota masing-masing yang jumlahnya bervariasi dan akan direkrut menjadi peserta program JW. Jumlah mereka keseluruhan sebanyak 20 orang.

Nantinya, mereka akan dibimbing dan dibina oleh PPMN bersama PWI Bireuen selama enam bulan, melalui pelatihan-pelatihan atau workshop secara berkala. Menurut Murni M. Nasir, kalau dinilai berhasil, tidak tertutup kemungkinan program JW ini akan diperpanjang masanya hingga lima tahun. (Rizanur)