RSUD dr Fauziah Bireuen

INI adalah kejadian nyata yang saya alami langsung. Sejak Rabu pagi (24/6/2020), saya bolak-balik dari rumah ke RSUD dr Fauziah Bireuen. Ini saya lakukan, lantaran mertua saya sedang menjalani rawat inap di rumah sakit plat merah tersebut.

Ada sebuah kejadian langka yang saya alami, saat memarkir kendaraan di halaman depan UGD RSUD dr Fauziah. Kejadian tersebut terkesan, saya merasa seperti dipungli, karena harus membayar biaya parkir beberapa kali.  Anehnya, biaya parkir malam hari yang merupakan ongkos parkir yang tiga kali, dikutip oleh petugas security, bukan petugas parkir resmi.

Untuk lebih jelas, berikut ini saya paparkan kronologis kejadiannya. Saya tiba di RSU dr Fauziah pukul 11.00 WIB dan memarkirkan sepeda motor di halaman parkir, tepatnya di depan ruang UGD.

Saya harus buru-buru, lantaran mertua saya baru saja dimasukan ke ruang perawatan. Setelah memarkirkan kendaraan, saya langsung menuju ruangan perawatan.

Karena ada keperluan mengambil barang-barang di rumah, saya keluar sebentar sekira pukul 12.30 WIB. Seorang petugas parkir, tanpa memberikan karcis, mengutip biaya parkir kendaraan dari saya sebanyak Rp 2000. Tanpa basa-basi, saya kasih kasih terus sesuai permintaannya, karena memang itu sudah kewajiban saya membayar biaya parkir.

Sekira pukul 13.30 WIB, saya kembali ke RSUD dr Fauziah Bireuen untuk mengantar berbagai barang, seperti bantal, tikar dan keperluan lainnya.

Sore harinya pukul 15.20 WIB, saya keluar lagi dari RSUD dr Fauziah Bireuen, karena sudah banyak datang anggota keluarga. Lagi pula, pengunjung dibatasi.

Saat saya mengambil kendaraan, petugas parkir kembali menghampir saya dan meminta jatah uang parkir. Saya menjelaskan kepada petugas parkir tersebut, saya keluarga pasien rawat inap. Pertama tadi sudah saya kasih uang parkir.

Lalu pertugas parkir tersebut menjelaskan, kalau memang keluarga pasien rawat inap, tinggal kasih uang parkir satu kali lagi. Total biaya parkir yang sudah saya bayar sebanyak dua kali. Sesudah membayar dua kali, saya disarankan oleh petugas parkir, bila masuk nanti malam, tak perlu membayar biaya parkir lagi.

Namun, apa yang dikatakan petugas parkir sore tadi, tak berlaku pada malam harinya. Pukul 20.00 WIB, saya datang lagi ke RSUD dr Fauziah. Saya memarkirkan kendaraan di tempat yang sama.

Kemudian, saat saya keluar lagi dari rumah sakit sekira pukul 22.00 WIB, biaya parkir kembali dikutip dari saya. Anehnya, kali ini yang mengutip biaya parkir dari saya, bukan petugas resmi parkir, melainkan petugas security di pintu masuk RSUD dr Fauziah.

Awalnya, saya tidak bersedia membayar kutipan tersebut. Dengan memberikan penjelasan, saya adalah keluarga pasien rawat inap. Tadi sudah membayar biaya parkir dua kali, pagi dan sore hari.

Petugas security tersebut mengabaikan penjelasan saya. Malah, dia membentak saya. Sambil mengacungkan jari tangan kanannya ke arah wajah saya, dengan suara agak membentak, dia berusaha meminta jatah parkir sekali lagi.

Tak ada pilihan lain. Daripada ribu-ribut, saya terpaksa membayar lagi biaya parkir. Jadi, total biaya parkir sudah saya bayar sebanyak tiga kali.

Itulah kejadian yang saya alami. Sungguh ini sebuah pelayanan publik yang tidak sepatutnya terjadi di rumah sakit umum plat merah milik Pemerintah Kabupaten Bireuen.

Semoga melalui suara pembaca ini, pihak manajemen RSUD dr Fauziah Bireuen dapat mengevaluasi total sistem perparkiran di rumah sakit tersebut. Perlu diajarkan juga etika, agar oknum security seperti yang bertugas malam itu, tak mesti memaksa saat mengutip biaya parkir.

Untung saja, kejadian itu menimpa diri saya. Jika hal ini terjadi pada masyarakat Bireuen lainnya, sungguh sangat disayangkan. Coba bayangkan, jika masyarakat pendalaman yang menjaga keluarganya yang sakit,  hanya keluar sebentar untuk membeli nasi atau keperluan lainnya, terpaksa harus membayar biaya parkir beberapa kali. Ini sungguh naif.

Semoga saja Bupati Bireuen yang baru dilantik, Dr. H. Muzakkar A. Gani, SH., M.Si dan Direktur RSUD dr Fauziah Bireuen, dr Amir Addani, M.Kes, peka terhadap semua persoalan yang terjadi di rumah sakit tersebut.

Jangan hal-hal kecil seperti yang saya alami, disepelekan. Kalau meledak sewaktu-waktu, akan menjadi bumerang untuk pimpinan. Semoga ke depan ada perbaikan.

Wassalam

Penulis,

Fajri Bugak (Keluarga pasien dan aktif sebagai wartawan di Bireuen)

 

 

BAGIKAN