KABAR BIREUEN, Bireuen – Manajemen RSUD dr Fauziah Bireuen memastikan tidak ada pasien yang diabaikan atau ditelantarkan, meskipun saat ini sedang menghadapi peningkatan jumlah kunjungan yang sangat signifikan.
“Kami memastikan tidak ada pasien yang diabaikan oleh petugas. Sebaliknya, rumah sakit terus berupaya memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, termasuk ketika kapasitas pelayanan sedang menghadapi tekanan.”
Hal itu ditegaskan Direktur RSUD dr Fauziah Bireuen, dr. Minar Mushari, SpS kepada Kabar Bireuen melalui telepon selulernya, Kamis (22/10/2026) menanggapi informasi seorang pasien yang terlihat duduk di lantai dalam kondisi terpasang infus di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Fauziah Bireuen, Rabu malam, 21 Oktober 2026,
Ia mengatakan, terjadinya peningkatan kunjungan pasien pada rumah sakit pelat merah itu dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas sejumlah rumah sakit swasta yang dilaporkan penuh, sehingga RSUD dr Fauziah menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat Kabupaten Bireuen dan sekitarnya dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
“Kapasitas rumah sakit swasta rata-rata penuh, makanya terjadinya peningkatan jumlah pasien di Rumah Sakit Fauziah (RSUD dr Fauziah),” katanya.
Manajemen rumah sakit, kata dr Minar, perlu meluruskan agar masyarakat memperoleh informasi secara utuh dan berimbang.
BACA JUGA: Capaian RSUD dr Fauziah Bireuen di Masa Kepemimpinan Mukhlis-Razuardi
Di tengah tingginya jumlah pasien, sebutnya, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Bireuen ini tetap berkomitmen memberikan pelayanan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan kegawatdaruratan.
“Ini bentuk tanggung jawab rumah sakit pemerintah dalam menjamin akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” jelasnya.
Terkait pasien yang terlihat duduk di lantai dengan infus terpasang, ia menegaskan, kondisi tersebut bukan merupakan standar maupun kebijakan pelayanan RSUD dr Fauziah Bireuen.
“Keberadaan pasien di lantai sebagaimana terlihat dalam foto tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai bentuk penelantaran atau tidak diberikannya pelayanan medis. Perlu dilakukan penelusuran terhadap kondisi dan kronologi sebenarnya agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap objektif,” paparnya.
Kepadatan pasien di IGD, lanjutnya, merupakan tantangan pelayanan yang harus dilihat secara menyeluruh. Pihak RS tetap berupaya memberikan penanganan kepada pasien yang datang, meskipun ketersediaan tempat tidur dan ruang rawat inap menghadapi tekanan akibat tingginya kebutuhan pelayanan.
“Perlu dipahami bahwa IGD merupakan fasilitas pelayanan kegawatdaruratan yang memprioritaskan penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatan medis, bukan semata-mata berdasarkan urutan kedatangan,” jelasnya dengan tegas.
Menurutnya, manajemen terus melakukan koordinasi dengan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), petugas IGD, dan seluruh ruang rawat inap untuk mempercepat proses pemindahan pasien, mengoptimalkan ketersediaan tempat tidur, serta memastikan kesinambungan pelayanan medis.
Ia berharap, penyebaran informasi pelayanan pada rumah sakit agar disampaikan secara objektif, berimbang, dan mempertimbangkan kondisi pelayanan secara keseluruhan.
“Satu kejadian yang terlihat dalam foto tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan kualitas seluruh pelayanan RSUD dr Fauziah. Terlebih di tengah upaya tenaga medis dan tenaga kesehatan yang terus memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam kondisi jumlah pasien yang tinggi,” tegasnya.
Terakhir, kata dr Minar, RSUD dr Fauziah Bireuen hadir untuk melayani masyarakat, bukan menghindari tanggung jawab.
“Tingginya jumlah pasien merupakan tantangan yang terus kami tangani dengan mengutamakan keselamatan, profesionalisme, dan pelayanan yang manusiawi,” pungkasnya. (Rizanur)











