KABAR BIREUEN – Dalam adegan rekonstruksi pembunuhan Darwati yang digelar di halaman Mapolres Bireuen, Rabu (4/10/2017) kemarin, sebenarnya Rusli sudah berusaha mengajak istri tuanya itu pulang ke rumahnya di Gampong Pulo Panyang, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen.
Hal tersebut disampaikannya, saat mereka bertiga (Rusli, Darwati dan Herawati) telah berada di bawah pohon mangga yang jaraknya tidak begitu jauh dari TKP. Tapi, dia bersikeras tidak mau pulang.
Lalu, Rusli mengambil sepeda motor yang diparkir di bawah pohon mangga tersebut. Dia mengajak pulang Herawati. Rusli memboncenginya dan beranjak dari sana, untuk memisahkan istri pertama dan istri keduanya itu. Sedangkan Darwati ditinggal sendirian dalam kondisi kepala berdarah bersama anak dalam gendongannya.
Rusli membawa Herawati dan kemudian mampir di sebuah kandang lembu bantuan milik desa untuk berteduh, karena sudah turun hujan. Di sana, Rusli membuka baju, karena sudah basah kehujanan. Sabit diletakkan di atas papan di kandang sapi tersebut.
Jarak lokasi kejadian dengan kandang lembu tersebut sekitar 500 meter. Agak lama juga Rusli bersama Herawati berteduh di sana, karena hujan semakin deras. Dia menggigil kedinginan sambil memeluk lututnya.
Sementara Darwati yang tadi ditinggal sendirian, dengan tertatih-tatih berusaha pulang menuju rumahnya yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari Tempat Kejadian Perkara (TKP). Di perjalanan, dia sempat meminta tolong pada Amiruddin (saksi) yang saat itu sedang memberi makan lembunya di kandang.
Amiruddin menawarkan untuk mengantarnya pulang. Namun, Darwati mengatakan, dirinya masih sanggup pulang sendiri. Lalu, Amiruddin memotong daun pisang dan memberikan pada Darwati, agar dapat melindungi diri serta bayinya dari guyuran hujan.
Tak berapa jauh berjalan, HP Darwati terjatuh. Ketika hendak mengambilnya kembali, dia agak kesusahan dan tangannya tidak bisa menyentuh HP tersebut. Amiruddin membantu mengambilnya. Setelah itu, Darwati kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di sini Amiruddin tidak mengetahui lagi keberadaannya.
Setelah agak jauh berjalan dan mungkin karena sudah banyak mengeluarkan darah di kepalanya, Darwati terjatuh di pinggir jalan desa tersebut. Seorang warga setempat, Anwar Bin Ali Basyah (saksi) yang kebetulan lewat, melihat Darwati sudah tergeletak di pinggir jalan.
Namun, ketika Anwar melihat Darwati sudah tak sadarkan diri dan kondisi kepalanya berdarah, dia tidak berani menyentuhnya. Ditakutkan nanti, malah dia yang dipersalahkan telah mencelakai Darwati.
Karena itu, Anwar meninggalkannya dan berusaha mencari pertolongan pada warga. Namun, tak begitu jauh dari situ dia melihat Rusli bersama Herawati sedang berteduh di kandang lembu tersebut.
“Hai Rusli, awak inongkah kareubah hideh,” ujar Anwar, sambil menunjuk ke arah jalan tempat Herawati terjatuh tadi. Mendengar pemberitahuan tersebut, Rusli terperanjat. “Epoe long….!” dia berteriak dengan spontan.
Bergegas Rusli mendatangi tempat Darwati terjatuh. Dia berusaha mengangkatnya, tapi tidak sanggup. Lalu, dia mengambil bayinya dalam gendongan Darwati. Bayi tersebut diserahkan pada Herawati.
Beberapa saat kemudian, datang anaknya Rusli, Suryadi (15). Itu setelah ada yang memberitahukan, ibunya sudah terjatuh di pinggir jalan.
Nah, dalam rekonstruksi tersebut, ada perbedaan versi antara Suryadi dengan bapaknya, Rusli. Menurut Suryadi, saat dia datang, ibunya itu tergeletak sendirian di pinggir jalan. Dia mengira ibunya masih sadar, rupanya sudah pingsan. Sedangkan menurut Rusli, saat Suryadi datang, dia berada di samping Darwati.
“Panena! Watee nyan droeneuh teungoh dalam weu leumo (Mana ada! Waktu itu Anda sedang berada dalam kandang lembu),” teriak Suryadi, agak emosi dengan nada suara keras.
Akhirnya, diputuskan di adegan 42 itu, direka ulang sesuai versi Suryadi tadi. Saat dia datang, ibunya itu sendirian telentang di pinggir jalan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Baru kemudian, datang Rusli. Lalu, mereka berdua mengangkat tubuh Darwati didudukkan di atas sadel sepeda motor yang ikut dibantu oleh Idris Bin Syarifuddin (saksi).
Setelah itu di adegan terakhir (43), Suryadi mengendarai sepeda motor dan Rusli duduk di belakang mengapit tubuh Darwati, agar tidak terjatuh. Darwati dibawa pulang ke rumah. Sampai di sini, rekonstruksi tersebut dianggap sudah memadai.
Dalam kejadian sebenarnya (di luar rekonstruksi), kemudian Darwati dibawa ke Puskesmas Peusangan Selatan. Karena tidak sanggup ditangani di sana, kemudian Darwati dirujuk ke RSUD dr Fauziah Bireuen. Namun, nyawa korban tidak bisa diselamatkan dan Darwati menghembuskan nafasnya yang terakhir malam itu, Minggu (27/8/2017) malam sekitar pukul 21.00 WIB. (Suryadi)









