KABAR BIREUEN– Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah,MT atas nama Pemerintah Aceh dalam sambutannya para acara silaturrahmi dengan para pejuang kemerdekaan RI di Anjong Mon Mata Banda Aceh menyambut baik usulan Ketua DPC LVRI Kabupaten Bireuen H AR Djuli.
Usulan itu sebagai menanggapi sejarah perjuangan “Kota Juang” Bireuen dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdeakaan RI dimasa agresi Belanda 1947-1948 disampaikan H AR Djuli mewakili LVRI se-Aceh pada acara silaturrahmi Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah, MT dengan para pejaung kemerdekaan, Jum’at (17/8/2018).
Acara tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Aceh , antara lain Panglima Kodam/IM Mayjen TNI T Abdul Hadi Fuddin,SH, SIP, MH, Wakapolda Aceh Brigjen Pol Suprianto Tarah, Kajati Aceh diwakili As Intel Mukhlis,SH, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, SE,Ak, MM, anggota DPRA, para Kepala SKPA, Mantan Ketua DPD LCRI Aceh Kolonel (Purn) Muhammad Amin, Ketua DPD LVRI Aceh Kolonel (Purn) HM Djafar Karim, para Ketua LVRI se-Aceh serta sejumlah undangan lainnya.
Sejarah perjuangan yang disampaikan H AR Djuli dalam acara silaturrahmi di Anjong Mon Mata, antara lain riwayat didup Panglima Kolonel Husin Yusuf dan dan isteri Letda Ummi Salmah wanita Aceh pertama yang bergabung sebagai tentara wanita di zaman revolusi Belanda, Jepang, dan agresi Belanda.
Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah Komando Panglima Kolonel Husin Yusuf selain memilki kekuatan militer yang tangguh juga memilki peralatan perang yang lebih tajam dari peluru yakni “ Radio Perjuangan Rimba Raya, yang dipancarkan di dataran tinggi Gayo Rimba Raya, Kecamatan Timbang Gajah Aceh Tengah (sekarang Bener meriah).
Siaran Radio perjaungan Rimba Raya yang disiarkan Gubernur Militer Aceh Mayjen Tituler Tgk Daud Beureuh, 22 Desember 1948 mengudara keseluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inngeris, Belanda, Arab, Urdu dan bahasa Cina berhasil memblokade propaganda siaran bohong Radio Hervenzent Belanda di Batavia.
Siaran suara merdeka mndapat tanggapan PBB dan manca negara sudah mengetahui Indoensia sudah merdeka 17 Agustus 1945 tidak mempercayai lagi siaran bohong Radio Hervenzent Belanda.
Inilah cuplikan siaran Radio Perjuangan Rimba Raya berkekuatan satu kilowatt pada frekwensi 19,25 dan 61 meter disiarkan langsung Gubernur Militer Aceh Tgk Muhammad Daud Berueueh,”Republik Indonesia masih ada, Tentara Republik masih ada, Wilayah Republik masih ada dan di sini “Atjeh” tegas Abu Daud Bereu’eh.
Diakhir penyampaian sejarah Kota Juang, AR Djuli juga meminta kepada Wali Nanggroe Aceh jangan hanya duduk manis, agar dapat menyelesaikan komflik internal Aceh dalam musyarawah sesuai adat Aceh.
“Selain itu Wali Nanggroe Aceh harus menurunkan tim pembelaaan terhadap Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang sedang tertimpa musibah proses hukum guna menegakkan kebenaran dan keadilan,” sebutnya, mendapat aplaus hangat seluruh para undangan yang memadati Anjong Mon Mata.
Usulan yang disampaikan H.AR Djuli mendapat tanggapan serius Plt Gubernur Aceh. Adapun usulan tersebut, uUntuk melestarikan nilai-nilai perjuangan “Kota Juang” Bireuen yang sudah berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan RI agar mendapat Legitimasi (pengesahan) pemerintah sebagai “Kota Perjuangan”
Pemerintah melegitimasi (mengesahkan) Radio Perjuangan Rimba Raya milik TNI Divisi X Bireuen sebagai Radio Perjuangan RI.
Selanjutnya, Pemerintah membangun gedung Juang, menomen perjuangan, museum di lokasi perjuangan TNI Divisi X (Pendopo Bupati) Bireuen sekarang.
Kemudian, Pemerintah Aceh agar mengusulkan Kolonel Husin Yusuf dan Letda Ummi Salmah sebagai tokoh pejuang yang sudah sangat berjasa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI sebagai pahlawan nasional. (H.AR Djuli)










