Selasa, 10 Maret 2026

Penguatan Tri Pusat Pendidikan sebagai Strategi Pemulihan Pendidikan Aceh Pascabencana Hidrometeorologi

Oleh: Dr. H. Kamaruddin, S.Pd., M.M., CRP., CFRM
Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia

PENDIDIKAN merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan peradaban suatu daerah. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melalui sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat yang dikenal sebagai Tri Pusat Pendidikan. Konsep ini menjadi semakin relevan dalam kondisi pendidikan Aceh saat ini, khususnya pascabencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan masyarakat. Dalam konteks Aceh yang menjunjung tinggi kearifan lokal dan penerapan syariat Islam, penguatan Tri Pusat Pendidikan harus didukung secara sistematis oleh pemerintah, lembaga pendidikan, dan peran aktif mahasiswa.

Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama memiliki peran yang sangat fundamental dalam pembentukan karakter dan nilai keislaman anak. Pascabencana hidrometeorologi, banyak keluarga di Aceh mengalami tekanan ekonomi, kehilangan tempat tinggal, serta trauma psikologis. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Padahal, dalam perspektif Islam, keluarga merupakan madrasah utama yang menanamkan nilai iman, akhlak, kesabaran, dan ketangguhan. Jika fungsi keluarga melemah, maka fondasi pendidikan anak menjadi rapuh.

Solusi yang dapat dilakukan adalah penguatan ketahanan keluarga melalui pendampingan psikososial, pendidikan parenting Islami, serta dukungan ekonomi berbasis pemberdayaan. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyediakan program bantuan pendidikan, jaminan sosial, dan layanan pemulihan trauma bagi keluarga terdampak bencana. Lembaga pendidikan dan tokoh agama juga dapat berkontribusi melalui pengajian keluarga, bimbingan keagamaan, dan edukasi nilai-nilai Islam yang kontekstual dengan kondisi pascabencana. Dengan demikian, keluarga tetap mampu menjalankan perannya sebagai pendidik utama meskipun berada dalam keterbatasan.

Sekolah sebagai pusat pendidikan kedua menghadapi tantangan yang tidak kalah berat pascabencana hidrometeorologi. Kerusakan sarana dan prasarana sekolah, terganggunya proses belajar mengajar, serta menurunnya motivasi dan kondisi psikologis peserta didik menjadi persoalan nyata. Dalam situasi ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pemulihan psikososial dan pembentukan karakter.

Peran lembaga pendidikan sangat krusial dalam memastikan keberlanjutan proses belajar. Sekolah dan madrasah di Aceh perlu mengembangkan model pembelajaran yang adaptif dan fleksibel, termasuk pemanfaatan ruang belajar alternatif seperti meunasah, balai gampong, atau sekolah darurat. Kurikulum juga perlu diintegrasikan dengan pendidikan kebencanaan, nilai syariat Islam, serta kearifan lokal Aceh agar peserta didik memiliki kesadaran lingkungan, ketangguhan, dan tanggung jawab sosial. Guru perlu dibekali pelatihan khusus terkait pendampingan psikososial dan pendidikan berbasis trauma agar mampu mendampingi peserta didik secara holistik.

Pemerintah memiliki peran strategis dalam mendukung pemulihan pendidikan melalui kebijakan yang responsif dan berkelanjutan. Pembangunan kembali sarana pendidikan harus mengedepankan prinsip ramah bencana dan inklusif. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dinas pendidikan, dinas sosial, dan lembaga keagamaan, agar pemulihan pendidikan berjalan secara terpadu. Program beasiswa bagi siswa terdampak bencana, insentif bagi guru di daerah terdampak, serta dukungan anggaran pendidikan menjadi langkah konkret dalam menjaga kualitas pendidikan Aceh.

Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Dalam masyarakat Aceh, lembaga adat, masjid, meunasah, dan dayah merupakan ruang strategis dalam pembinaan nilai keislaman dan karakter sosial. Namun, pascabencana, fokus masyarakat sering tertuju pada pemulihan ekonomi sehingga perhatian terhadap pendidikan cenderung menurun.

Solusi yang dapat dilakukan adalah menghidupkan kembali peran lembaga sosial dan keagamaan sebagai pusat pendidikan berbasis komunitas. Kegiatan keagamaan, gotong royong, dan program belajar bersama dapat menjadi sarana untuk memperkuat kembali nilai kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam pengawasan pendidikan anak agar terhindar dari perilaku menyimpang, terutama di tengah pengaruh negatif media dan teknologi.

Dalam konteks ini, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan penggerak sosial. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui kegiatan pengabdian masyarakat, relawan pendidikan, pendampingan belajar, serta program literasi dan edukasi kebencanaan di daerah terdampak. Dengan latar belakang keilmuan dan semangat idealisme, mahasiswa dapat menjadi jembatan antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam proses pemulihan pendidikan juga sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang kepedulian, pengabdian, dan tanggung jawab sosial.

Ketidakpedulian terhadap pendidikan pascabencana hidrometeorologi akan menimbulkan dampak jangka panjang yang serius. Meningkatnya angka putus sekolah, menurunnya kualitas sumber daya manusia, serta melemahnya nilai syariat Islam dan kearifan lokal Aceh merupakan risiko nyata yang harus diantisipasi. Oleh karena itu, sinergi Tri Pusat Pendidikan dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, dan mahasiswa menjadi solusi komprehensif dalam menjawab persoalan tersebut.

Lebih jauh, pendidikan harus diposisikan sebagai instrumen utama dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di masa depan. Melalui pendidikan yang terintegrasi, generasi muda Aceh tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga sikap adaptif, kepedulian lingkungan, dan kesadaran akan mitigasi bencana. Kearifan lokal Aceh yang mengajarkan hidup selaras dengan alam serta nilai-nilai Islam tentang menjaga keseimbangan dan amanah terhadap lingkungan perlu diinternalisasikan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, penguatan Tri Pusat Pendidikan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, dan mahasiswa merupakan strategi utama dalam pemulihan dan pembangunan pendidikan Aceh pascabencana hidrometeorologi. Sinergi semua pihak akan melahirkan generasi Aceh yang tangguh secara intelektual, spiritual, dan sosial. Melalui pendidikan yang berkarakter Islami dan berakar pada kearifan lokal, Aceh tidak hanya mampu bangkit dari dampak bencana, tetapi juga membangun masa depan yang berkelanjutan dan bermartabat. [*]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Pj Sekda Bireuen Terkait Bantuan Presiden Rp4 Miliar: Belum Digunakan, Masih Tersimpan di Rekening...

0
KABAR BIREUEN, Bireuen- Penjabat (Pj) Sekda Bireuen, Hanafiah S.P., CGCAE, menyebutkan bantuan Presiden Prabowo Subianto sebesar Rp4 Miliar masih disimpan di rekening daerah dan...

Mendikdasmen Resmikan Proyek Revitalisasi SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof Dr. Abdul Mu'ti, MEd meresmikan gedung baru SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Selasa (10/3/2026). Gedung...

Meraih Keberkahan pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

0
Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H. Penulis Opini pada beberapa media Cetak dan Online serta Instruktur Pembuatan Produk Hukum yang Dilaksanakan Berbagai Organisasi TULISAN ini saya rangkum dari...

Inovasi Mahasiswa Umuslim, Kembangkan Aplikasi Pendataan Tanggap Darurat Bencana

0
KABAR BIREUEN, Peusangan – Mahasiswa dan dosen Universitas Almuslim (Umuslim) berhasil mengembangkan aplikasi pendataan tanggap darurat bencana berbasis digital yang mampu mempercepat pengumpulan dan...

BSI Berbagi, 5.000 Anak Yatim Terima Santunan Serentak di Seluruh Indonesia

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Aroma bubur kanji rumbi mengepul dari dapur besar di halaman Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, pada Sabtu (07/03/2026). Ratusan anak...

KABAR POPULER

Pj Sekda Bireuen Terkait Bantuan Presiden Rp4 Miliar: Belum Digunakan, Masih Tersimpan di Rekening...

0
KABAR BIREUEN, Bireuen- Penjabat (Pj) Sekda Bireuen, Hanafiah S.P., CGCAE, menyebutkan bantuan Presiden Prabowo Subianto sebesar Rp4 Miliar masih disimpan di rekening daerah dan...

Mendikdasmen Resmikan Proyek Revitalisasi SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof Dr. Abdul Mu'ti, MEd meresmikan gedung baru SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Selasa (10/3/2026). Gedung...

Lewat Skema IJD, HRD Terima Usulan Perbaikan Jalan Peunaron Baru–Sri Mulya dari Dewan Aceh...

0
KABAR BIREUEN, Aceh Timur – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud (HRD) menerima langsung usulan percepatan perbaikan ruas...

Meraih Keberkahan pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

0
Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H. Penulis Opini pada beberapa media Cetak dan Online serta Instruktur Pembuatan Produk Hukum yang Dilaksanakan Berbagai Organisasi TULISAN ini saya rangkum dari...

Hunian Tetap Bagi Korban Bencana Alam di Bireuen Segera Terwujud

0
Oleh: M. Zubair, S.H.M.H ASN Pemkab Bireuen BENCANA banjir bandang dan tanah longsor yang melanda semua kecamatan dalam Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu tidak hanya meninggalkan...