KABAR BIREUEN-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, gelar Workshop Sosialisasi dan Internalisasi Penyusunan Kajian Resiko Bencana Kabupaten Bireuen.
Kegiatan itu berlangsung di Opproom Pusat Kantor Pemeritahan Kabupaten Bireuen, selama dua hari (4-5/9/2018), menghadirkan tiga orang pemateri Tim ahli dari PT Pillar Inti Jakarta.
Disela-sela kegiatan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bireuen, Muhammad Nasir, SP, M.SM, Rabu ( 5/9/2018) kepada Kabar Bireuen menjelaskan, Kabupaten Bireuen bukanlah daerah yang bebas dari bencana, berbagai jenis bencana pernah menerpa Kabupaten Bireuen.
Ini menimbulkan banyak sekali kerusakan dan kerugian atas jiwa dan harta benda serta menghambat dan mengganggu baik roda pemerintahan maupun kehidupan dan penghidupan masyarakat.
Padahal jika dicermati bersama, dampak dan kerugian tersebut pada dasarnya dapat dikurangi apabila kita memiliki data dan analisa yang memadai dalam hal pengkajian resiko bencana.
Tentu dalam hal ini membutuhkan kerjasama lintas sektor yang baik, untuk membangun koordinasi dan sinergitas yang efektif antara BPBD Kabupaten Bireuen dengan instansi terkait lainnya guna suksesnya penyelenggaraan tugas-tugas penanggulangan bencana.
Kegiatan kali ini merupakan salah satu dari rangkaian proses penyusunan Kajian Risiko Bencana di 11 Kabupaten/ Kota di Regional 1 Sumatera.
Kegiatan ini juga dilaksanakan di masing-masing daerah bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan penyusunan Kajian Risiko Bencana kepada para pelaku penanggulangan bencana di daerah sekaligus meminta peran pada stakeholder terkait dalam proses pelaksanaan kegiatan ini.
Workshop sosialisasi dan internalisasi ini akan dilakukan juga verifikasi terhadap Draft Peta Bahaya Dasar serta melakukan FGD terkait penilaian kapasitas rendah.
Dalam pelaksanaannya, proses penyusunan Kajian Risiko Bencana ini menggunakan pedoman/ standar yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
Output yang diharapkan dapat tercapai dalam kegiatan kali ini atas hasil kerjasama seluruh stakeholder yang terlibat adalah sebagai berikut, kesepakatan bersama tentang jenis bahaya yang akan dimasukkan ke dalam Kajian Risiko Bencana Daerah.
Kesepakatan jenis data yang digunakan dalam penyusunan Kajian Risiko Bencana Daerah. Memastikan terbentuknya tim teknis Penyusunan Kajian Risiko Bencana Daerah. Kesepakatan hasil kapasitas daerah melalui 71 indikator ketahanan daerah dan Kesepakatan hasil survey kesiapsiagaan desa/kelurahan.
“Setelah kesempatan tersebut bisa tercapai, maka diharapkan dokumen Kajian Risiko Bencana yang nantinya akan selesai dapat menjadi acuan bencana pembangunan Kabupaten Bireuen yang berbasis pengurangan risiko bencana,” katanya.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari (4-5/9), pada hari pertama Selasa.(4/9) peserta berjumlah 30 orang, terdiri dari SKPK, NGO, PRAMUKA, RAPI dan PMI.
Hari kedua Rabu.(5/9) peserta berjumlah 40 orang terdiri dari para keuchik dari 40 gampong, dari 609 gampong yang ada dalam Kabupaten Bireuen.
“Keempat puluh gampong tersebut merupakan gampong yang rawan bencana, seperti Banjir, Tanah Longsor, Abrasi, Angin Puting Beliung, Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla), Gempa Bumi dan Tsunami,” pungkas Muhammad Nasir. (Herman Suesilo).









