KABAR BIREUEN – Tokoh masyarakat Kemukiman Ulee Kuta, Kecamatan Jangka, mengharapkan, agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen menormalisasi Kuala Pawon yang sudah tertutup pasir. Jika tidak segera ditangani, sekitar 120 hektar tambak milik masyarakat terancam gagal panen.
Demikian diutarakan Ismuil dan Salahuddin yang didampingi sejumlah tokoh masyarakat Kemukiman Ulee Kuta, Kecamatan Jangka kepada Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bireuen, Muhammad Nasir, SP, di Kuala Pawon, Rabu (11/10/2017).
Menurut tokoh masyarakat tersebut, Kuala Pawon yang terletak di antara Gampong Punjoet dan Gampong Alue Kuta, telah lima kali dikeruk, baik dibiayai ABPK, APBA maupun swadaya masyarakat setempat.
“Namun setelah dikeruk tidak lama bertahan, karena tidak ada pengaman bibir pantai, sehingga di saat air laut pasang ditutupi kembali oleh pasir,” jelasnya.
Karena itu, lanjut tokoh masyarakat tersebut, pihaknya sangat mengharapkan kepada pemerintah dapat menangani pengerukan kuala agar sirkulasi antara air laut dengan air tawar lancar.
“Kalau tidak segera dilakukan normalisasi kuala ini, dikhawatirkan berdampak pada tambak masyarakat dan meluap air dari kuala ketika musim hujan. Ini persoalan yang sudah bertahun-tahun,” ucap Ismuil yang diiyakan tokoh masyarakat lainnya.
Kalak BPBD Kabupaten Bireuen, Muhammad Nasir, SP, kepada tokoh masyarakat berjanji akan melaporkan permohonan pengerukan Kuala Pawon tersebut kepada Bupati Bireuen, H. Saifannur, S.Sos.
“Permintaan bapak-bapak akan saya sampaikan segera kepada bapak bupati,” ucap Muhammad Nasir.
Mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen ini kepada Kabar Bireuen mengungkapkan, untuk mengantisipasi dampak dari curah hujan dengan intensitas tinggi yang berpotensi terendamnya kawasan penduduk sekitar Kuala Pawon, harus disegerakan normalisasi atau pengerukan kuala tersebut.
“Namun yang kita lakukan sifatnya sementara, bukan penanganan permanen. Paling-paling akan bertahan tiga sampai enam bulan setelah dikeruk. Dan jika air laut pasang, kuala ini akan tertutup kembali,” ungkapnya.
Menurut Muhammad Nasir, perhitungan secara non tehknis pengerukan mulut Kuala Pawon membutuhkan 105 jam efektif kerja alat eskavator. “Dan ini bukan untuk penanganan permanen,” tegas Muhammad Nasir. (Rizanur)










