KABAR BIREUEN – Dua Peneliti dari Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (BPPK Kemlu RI), Jumat (11/5/2018) menemui Konsul India untuk Sumatera, Dr. Shalia Shah di Konsulat India di Medan.
Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil.,M.A, Dosen Prodi Hubungan Internasional, FISIP Umuslim dan Dr. Ichsan, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh yang tergabung dalam Tim Peneliti BPPK Kemlu RI kepada Kabar Bireuen menyampaikan perihal pertemuan dengan Konsul India di Medan.
Menurut Teuku Cut Mahmud, pertemuan itu dilakukan dalam rangkaian penelitian lapangan yang sedang dilakukan Tim Peneliti BPPK Kemlu dalam mengkaji prospek kerjasama ekonomi dan peningkatan konektivitas antara Sabang (Indonesia) dan Port Blair di Kepulauan Andaman dan Nicobar di India.
“Walaupun kepulauan ini masuk dalam wilayah Negara India, namun secara geografis lebih berdekatan ke Aceh (Indonesia), Phuket (Thailand), dan Langkawi (Malaysia),” terangnya.
Dari wawancara bersama Konsul India, Dr. Shalia Shah, kata Teuku Cut Mahmud, tim peneliti mendapat gambaran yang jelas bahwasanya Pemerintah India serius dalam mengembangkan Port Blair untuk membangun konektivitas ekonomi baik melalui laut maupun udara dengan Negara-negara tetangganya, khususnya Indonesia (Sabang), Malaysia (Langkawi), dan Thailand (Phuket).
“Sektor pariwisata menjadi prioritas yang akan dikedepankan. Pemerintah India berkeyakinan, jika pariwisata berkembang maka akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan terbukanya banyak lapangan pekerjaan,” urai Dosen Umuslim yang akrab disapa Ampon Cut.
Alumnus UGM Yogyakarta ini menambahkan, keseriusan pemerintah India dibuktikan dengan mulai memperhatikan pembangunan infrasruktur di Port Blair. Salah satunya sedang dilakukan pengembangan dan perluasan bandara udara untuk meningkatkan status menjadi bandara internasional.
Diperkirakan tahun 2020 akan selesai dan dapat didarati dengan banyak pesawat komersil dari luar negeri.
“Kata Dr. Shalia, saat ini telah ada pengusaha dari Thailand yang mengirim pasir ke Port Blair. Ini berarti berpeluang juga bagi pengusaha di Indonesia termasuk Aceh untuk mengirim berbagai produk atau komoditas ke sana, seperti semen, baja, pasir, gula, batubara, kelapa sawit, pinang, kopi, dan masih banyak lagi,” ungkap Dosen berdarah Bangsawan Aceh ini.
Ke depannya, imbuh Ampon Cut dan Dr. Ichsan, Pelabuhan Port Blair akan disiapkan menjadi pelabuhan transit sebelum menuju ke India daratan.
“Mengetahui peluang yang cukup besar tersebut, sayang sekali jika Pemerintah Aceh maupun pengusaha di Aceh tidak memanfaatkan peluang yang besar ini,” imbuh Teuku Cut dan Ichsan.
Ampon Cut yang juga Alumnus Universitas per Stranieri di Siena, Italia menyebutkan, potensi yang dimiliki Port Blair termasuk Pulau Havelock dan Neill sama dengan yang dimiliki Sabang, yaitu dapat menjadi lokasi pilihan wisata bahari terbaik di dunia, yang panorama dan keindahannya tidak kalah dengan keindahan di Maldives (Maladewa).
Menurut peraih Asian Graduate Student Fellowship di Asia Research Institute of National University of Singapore tahun 2006ini, suasana wawancara dengan Konsul India berlangsung cair. Tim diskusi disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Dr. Shalia didampingi Verra, Marketing Assistant di konsulat.
Dikatakan juga, Konsul India tidak asing lagi bagi civitas akademika Universitas Almuslim, karena pernah hadir mewakili Duta Besar India untuk Indonesia sekaligus menjadi narasumber dalam Konferensi Internasinal tentang “Prospects and Promotion of Trade, Intercommunication and Historical Ties” Andaman-Nicobar Island (ANI) and Weh Island-Sabang (Aceh, Indonesia) yang dihelat di Universitas Almuslim pada 23-24 April 2016. (Rizanur)









