KABAR BIREUEN – Dalam rangka percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar dengan kualifikasi doktor, Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen akan membuka Program Doktor Ilmu Manajemen pada 2022 mendatang.
Sebagai persiapan penyelenggaraan program pendidikan strata 3 (S3) tersebut, UNIKI telah mengikat kerja sama dengan Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan. Ditandai dengan penandatanganan MoU di Kampus Utama UNPRI, Jalan Sampul Medan, Selasa, 21 Desember 2021.
Rektor UNIKI, Prof. Dr. Apridar, SE., M.Si, mengatakan, berdasarkan kesepakatan tersebut, Uniki akan membuka kelas kerja sama program doktor 6 semester atau dalam waktu tiga tahun akan memperoleh gelar doktor ilmu manajemen.
“Selain dosen Uniki, akan diberi kesempatan sekitar 40 persen peserta kepada mitra kami masyarakat Aceh, untuk memanfaatkan program pendidikan kekhususan tersebut,” ungkap Prof Apridar.
Dijelaskannya, peserta akan dibimbing khusus, sehingga dapat menyelesaikan pendidikan S3 paling lama tiga tahun. Bila memungkinkan, sebut Apridar, sebelum tiga tahun sudah dapat memperoleh gelar doktor.
Proses belajar akan diisi oleh tenaga pengajar dari UNPRI dan UNIKI yang memiliki kualifikasi profesor, minimal doktor dari kedua kampus tersebut.
“Program mulia ini diharapkan sebagai cikal bakal pembukaan program doktor UNIKI mandiri dalam beberapa waktu ke depan,” sebut Apridar.
Menurut Apridar, hasil pembahasan yang melibatkan para wakil rektor, dekan hingga kepala prodi kedua pihak, meliharkan 27 program kerja sama yang akan dilaksanakan secara bertahap. Memorandum of Agreement (MoA) dan kontrak kerja yang akan dibuat di antaranya, kegiatan asistensi mengajar di satuan pendidikan-kampus merdeka, gelar bersama (joint degree), gelar ganda (dual degree).
Untuk program kemahasiswaan, rencananya akan dilaksanakan kegiatan wirausaha-kampus merdeka, membangun desa/KKN tematik-kampus merdeka. Sedangkan dengan tenaga pengajar, akan dilakukan pelatihan dosen dan instruktur, pemagangan, penelitian bersama, penelitian bersama-artikel/jurnal ilmiah, penelitian bersama – paten, penelitian bersama – prototipe, penelitian/riset- kampus merdeka, penerbitan berkala ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kurikulum/ program bersama.

Di samping itu, diharapkannya juga akan mampu dibangun bersama pengembangan pusat penelitian dan pengembangan keilmuan, pengembangan sistem/produk, pengiriman praktisi sebagai dosen, penyaluran lulusan, penyelenggaraan seminar/konferensi ilmiah, pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, pertukaran pelajar – kampus merdeka, proyek kemanusiaan – kampus merdeka, studi/proyek independen– kampus merdeka, transfer kredit, hingga visiting profesor.
Berbagai program yang telah disusun secara apik ini, kata Apridar, diharapkan dapat diimplementasikan secara bertahap. Ini dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Aceh yang lebih bermartabat, sehingga capaiaan kualitas SDM unggul akan diperoleh dalam beberapa tahun ke depan.
“Dukungan dari berbagai komponen masyarakat, serta pemerintah daerah sangat kami harapkan. Kebangkitan peradaban manusia dari Kota Juang Bireuen akan semakin dekat, apabila mampu kita tingkatkan pendidikan tinggi unggul dan bermartabat,” harap Apridar.
Sementara Ketua Pembina UNIKI, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si selaku pemberi mandat dan pembuka kerja sama tersebut, memaparkan sejarah cikal bakal Uniki bermula dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) konsorsium UNPR yang dilepaskan, sehingga menjadi Uniki.
“Peningkatan luar biasa dari Unpri, setidaknya mampu diimbangi oleh Uniki untuk meningkatkan SDM masyarakat Aceh,” ujar Amiruddin Idris.
Program kesepahaman ini ditutup dengan foto bersama sivitas akademika UNIKI dan UNPRI serta kegiatan ramah tamah dengan penuh keakraban.
Bahkan, pihak UNPRI dalam kesempatan tersebut meminta Prof Apridar agar bersedia menjadi staf pengajar, pembimbing serta berbagai kolaborasi di Program Doktor UiNPRI yang akan menyandang kualifikasi kampus unggul di Sumatra Utara. (Rel)











