KABAR BIREUEN – Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Aceh, Syaridin, S.Pd.,M.Pd, mengisahkan, saat masih menempuh pendidikan di SMPN 1 Peusangan (dulu SMPN 1 Matangglumpangdua), dirinya selalu terlambat tiba di sekolah.

Penyebabnya, jarak sekolah dengan tempat tinggalnya di Jangka, lumayan jauh. Dia harus mendayung sepeda bututnya sejauh delapan kilometer untuk sampai ke sekolah.

Hal itu diungkapkan Syaridin pada acara reuni akbar alumni SMPN 1 Peusangan di aula sekolah tersebut, Senin (18/6/2018). Dia merupakan alumni SMP itu yang masuk tahun 1983 dan tamat tahun 1986.

Karena tiap hari terlambat tiba di sekolah, Syaridin mengaku, harus bersembunyi di belakang tempat seorang penjual mie. Suatu ketika, dia kepergok sama seorang guru olahraga dan dibawa ke kantor.

“Saya tiap hari harus bersembunyi di tempat si Ati jualan mie. Suatu hari saya ketemu sama Pak Ishak dan dibawa ke kantor. Rupanya, ada almarhum Pak Abdullah Ali (juga guru olahraga saat itu) di ruangan. Tanpa ditanya apa-apa, saya langsung ditampar sama Pak Abdullah Ali di sebelah kanan dan ditumbuk Pak Ishak di sebelah kiri. Makanya, saya jadi seperti hari ini,” kisah Syaridin yang membuat tergelak para alumni.

Dia juga mengaku, masih teringat sama Ibu Syarifah Zamzanaria (almarhumah), guru bahasa Indonesia. Karena tiap hari terlambat, sampai-sampai Ibu Syarifah menyuruhnya berpidato dan menceritakan alasan keterlambatannya di depan kelas. Syaridin pun menceritakan bermacam-macam alasannya. Seperti putus rantai sepeda, bocor ban, ketabrak sepeda. Semua alasannya itu, tidak dipercayai lagi.

Meski sering terlambat tiba di sekolah, menurut Syaridin, dia selalu meraih juara satu di kelasnya, mulai kelas satu hingga kelas tiga. Bahkan saat ujian akhir ketika itu, dia menempati urutan keempat nilai tertinggi se-SMPN 1 Matangglumpangdua. Dengan jumlah Nilai Ebtanas Murni (NEM) 43,36. Sehingga, Syaridin diterima di sekolah favorit, SMAN Peusangan.

Kemudian, Syaridin menceritakan, dirinya melanjutkan study ke pendidikan tinggi dan menjadi guru mata pelajaran fisika. Selama dua tahun dia bertugas mengajar di SMPN 2 Sabang, 11 tahun mengajar di SMAN 1 Banda Aceh dan 1,8 tahun menjabat Kepala SMAN 11 Banda Aceh.

Selanjutnya, selama dua tahun dia dipercayakan sebagai Kabid Program Pendidikan di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh. Kemudian, menjadi Kadis Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh selama tujuh tahun dua bulan. Selama delapan hari jadi Staf Ahli Wali Kota Banda Aceh Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik. Dan, sejak 4 Mei 2018 lalu, Syaridin dilantik sebagai Kadis Pendidikan Aceh.

“Saya sampaikan ini, bukan untuk membanggakan diri. Tapi, yang ingin saya sampaikan, saya ini adalah salah satu dari alumni SMPN 1 Matangglumpangdua. Ini semua berkat didikan guru-guru SMPN 1 Matangglumpangdua yang sangat cerdas-cerdas,” puji Syaridin yang kembali mendapat tepukan riuh dari para rekan-rekannya sesama alumni SMP favorit tersebut.

Selain reuni akbar, dalam kesempatan tersebut juga digelar musyawarah besar (mubes) Ikatan Alumni SMPN 1 Matangglumpangdua. Hal itu dilakukan, karena selama 58 tahun berdiri sekolah tersebut, belum ada wadah resmi sebagai tempat bernaung para alumninya.

Hadir pada acara reuni akbar dan mubes tersebut, ratusan alumni SMPN 1 Matangglumpangdua dari berbagai angkatan yang telah berhasil dengan berbagai latar belakang profesi dan pekerjaan. Baik mereka yang bertempat tinggal di Aceh maupun sejumlah daerah lain di Indonesia dan juga luar negeri. (Suryadi)