KABAR BIREUEN – Meskipun Universitas Almuslim (Umuslim) kampusnya berada di kampung, ibukota kecamatan, namun mampu berprestasi tingkat regional, Nasional bahkan internasional.

Demikian disampaikan Ketua Pembina Yayasan Almuslim Peusangan Drs H Anwar Idris dalam sambutannya pada acara Wisuda Sarjana dan Ahli Madya Umuslim angkatan XXXII, Sabtu (21/12/2019) di Gedung AAC Ampon Chiek Peusangan.

“Ini berkat kesabaran dan ketulusan para pendiri Jami’ah Almuslim serta generasi yang melanjutkan sampai hari ini Umuslim menjadi perguruan tinggi swasta terbaik di Aceh,” ujar Drs H Anwar Idris.

Menurutnya, bila Unsyiah memberikan sumbangsih pemikiran bagi lahirnya BAPPEDA maupun BAPPENAS, maka Universitas Almuslim memberikan sumbangsih bagi lahirnya Majelis Ulama Indonesia, Konektivitas dan
kerjasama Aceh – Andaman di India yang telah terputus sejak Abad ke-13 masehi.

Anwar Idris mengungkapkan sebuah tulisan yang menginspirasi, ‘Dari mana sumbernya perubahan dunia dalam 50 tahun terakhir? Washington DC, Moskow, London atau Paris?’

“Jawabannya, ternyata berawal dari Lembah Silikon, Silicon Valley, sebuah lokasi yang relatif kecil, berada di kampung, membentang 20 Km di Pantai Barat Amerika,” sebut politisi tua dari PPP.

Lanjutnya, dari sana muncul inovasi baru seperti mikcrochip, komputer personal, internet, iPhone, dan beberapa perusahaan global yang melahirkannya, seperti Intel,
Apple, Facebook, dan Google. Menariknya, beberapa perusahaan ini dipimpin anak-anak muda berusia 25-35 tahun.

“Dalam waktu yang relatif singkat, perusahaan yang dinakhodai anak-anak muda tersebut, menjelma menyaingi perusahaan – perusahaan dunia yang telah eksis sebelumnya, seperti Exxon, GE, dan GM,” imbuh Anggota Komisi VII DPR RI ini.

Berbicara tentang Lembah Silikon, urai Anwar Idris lagi, kita tidak boleh melupakan peran besar sebuah institusi pendidikan, yaitu Universitas Stanford. Yang secara geografis terletak persis di tengah Lembah Silikon.

“Dari kampus inilah dinamika intelektual dan ekosistem keilmuwan berkembang yang memungkinkan perubahan besar tadi terjadi dan mempengaruhi dunia,” kata Wakil Ketua DPRK Bireuen periode 2004-2009.

“Setelah membaca ini, saya langsung teringat dengan Universitas Almuslim. Apakah kita bisa seperti Stanford University? Mungkin masih terlalu jauh dibandingkan Stanford, namun spirit yang dimiliki Stanford perlu untuk kita contoh,” ujar mantan Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan.

Hikmah yang dapat kita ambil dari sejarah dan kemajuan Universitas Stanford, tandas mantan Anggota DPR Aceh Fraksi PPP, perlunya membangun budaya dan tradisi berpikir mandiri, pendidikan yang membebaskan, dan kemampuan berpikir inovasi. Yang semua bermula dari keberanian melahirkan ide-ide besar.

“Saya melihat dan mempunyai data bahwa kemiskinan dan pengangguran masih tinggi di Indonesia khususnya di Aceh. Faktor yang berperan dalam ketimpangan peluang adalah belum meratanya kualitas dan fasilitas pendidikan di Indonesia,” ujarnya.

Sekolah di desa lanjutnya, berpeluang lebih kecil untuk memiliki guru terlatih dan fasilitas yang baik. Akibatnya, capaian pendidikan sangat bervariasi antara kabupaten dengan kota, dan antar provinsi.

“Pada tingkat SMA, angka partisipasi sekolah turun drastis bagi penduduk miskin. Hanya 33% anak-anak dari kelompok 20% termiskin tetap sekolah pada tingkat SMA, apalagi yang berkesempatan sampai tingkat perguruan tinggi,” ungkapnya lagi.

Sebagai Putra Aceh yang saat ini dipercaya sebagai Anggota DPR RI dua periode (2014-2019 & 2019-2024), Anwar Idris berkomitmen untuk mendermakan pengabdian untuk masyarakat Aceh pada khususnya, dan Indonesia umumnya.

“Perlu saya sampaikan selama menjabat Anggota DPR RI Komisi X di periode pertama, saya telah berbuat dengan memberi beasiswa bidikmisi dan PPA per tahunnya sebanyak 400 orang. Bila dihitung selama lima tahun dengan per tahunnya sebanyak 400 orang, maka saya telah menyekolahkan mahasiswa dengan jumlah 2.000 orang. Di samping itu ada beasiswa PIP (Program Indonesia Pintar) yang diberikan kepada 26.000 siswa SD, SMP, SMA, dan SMK per tahunnya,” jelas Wakil Bendahara Umum DPP PPP.

Untuk periode kedua, Anwar Idris ditugaskan oleh partai menduduki Komisi VII membidangi ESDM, Riset. Saat ini ia fokus mengurus jargas (jaringan gas) di Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang dengan total anggaran sebesar Rp350 miliar untuk tahun 2020.

“Proyeknya sed├íng ditenderkan. Insha Allah tahun 2021, saya akan fokus ke wilayah barat, seperti Bireuen, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Itu semua perlu diawali dengan usulan pemerintah daerah,” sebutnya.

Kemudian tambahnya lagi, Pemerintah (Kemendikbudi) bersama DPR RI Komisi VII
dan Komisi X menganggarkan beasiswa Bidik Misi dan Beasiswa PPA untuk menambah, menjamin kesempatan kuliah bagi anak bangsa, yang diharapkan menciptakan lulusan yang kreatif dan produktif.

Tahun 2019 sebanyak 130 ribu mahasiswa penerima bidikmisi sebesar Rp 530 M. Tahun 2020 Komisi VII bersama pemerintah menetapkan program unggulan, diantaranya penambahan kuota Bidik Misi dan Kartu Indonesia Pintar untuk mahasiswa sebesar Rp 5,2 T (setahun).

Sebagai Anggota DPR RI dari PPP yang mempunyai kewenangan legislasi, budgeting, pengawasan telah memperjuangkan UU Pesantren yang sudah disahkan pada Paripurna September 2019.

“UU Pesantren menjamin perlindungan ciri khas pendidikan pesantren, menjamin peningkatan kesejahteraan para pendidik, menjamin ijasah lulusan pesantren, menjamin anggaran untuk infrastruktur pesantren termasuk pesantren untuk mahasiswa. UU Pesantren juga menjamin penyediaan Dana Abadi dalam APBN,” terang mantan Ketua PMI Cabang Bireuen.

“Alhamdulillah Fraksi PPP dalam Prolegnas 2020 berhasil mengusulkan RUU Inisiatif yaitu RUU Perlindungan Anak Yatim dan Anak Telantar, RUU Wisata Halal, RUU Larangan Minuman beralkohol, RUU Ekonomi Syariah, dan Revisi UU Ormas,” pungkas Drs H Anwar Idris. (Rizanur)

BAGIKAN