KABAR BIREUEN, Kota Juang – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Al-Aziziyah Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) menggelar Basic Training atau Latihan Kader I (LK-I) pada 22-24 Oktober 2025 di komplek Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen kawasan Buket Teukueh, Kota Juang Bireuen.
Sebagai wujud nyata semangat kaderisasi di organisasi lingkungan kampus, maka HMI perlu untuk terus melahirkan kader-kader yang berkepribadian akademis-intelektual, punya visibilitas dan integritas yang tinggi guna menjawab tantangan yang ada di masyarakat.
“Mungkin setelah pelaksanaan basic training ini anggota HMI akan bertambah dari sebelumnya. Namun tujuan dari perkaderan bukan saja tentang penambahan jumlah anggota, tapi juga mampu mewarnai HMI sesuai dengan tantangan dan perkembangan zaman yang ada,” cetus Halim Mubary dalam orasi ilmiahnya pada acara pembukaan.
Menurut presidium Majelis Daerah Korp Alumni HMI (MD KAHMI) Bireuen itu, sebuah perkaderan harus punya nilai dan daya juang sehingga organisasi bukan cuma menghasilkan anggota baru, tapi juga mampu adaptif dan inspiratif, sehingga semangat dasar HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam yang punya daya juang dan sekaligus kritis terhadap berbagai perspektif yang ada.
“Ketika sebuah perspektif muncul dari ketidakadilan terhadap masyarakat, apakah itu fenomena politik, sosial, hukum, ekonomi, dan hal lainnya, maka kader HMI harus berada bersama masyarakat yang terzalimi,” papar Halim Mubary.

Karena jika perkaderan hanya berhenti pada perekrutan anggota baru, lanjutnya, maka sama saja seperti ormas lainnya. Namun yang dibutuhkan dari hasil akhir sebuah perkaderan adalah kemampuan untuk mencetak sosok-sosok kader yang bukan saja kritis, namun juga sekaligus dapat menjawab berbagai dinamika yang tumbuh di tengah masyarakat.
Karena jika setelah mengikuti basic training dan menjadi anggota HMI, namun pola pikirnya tidak mencirikan seorang kader HMI yang kritis dan nalar yang tajam menanggapi sebuah dinamika yang ada, maka dipastikan anggota HMI itu akan menjadi produk yang gagal nantinya.
“Karena sesuai dengan tujuan awal pendirian HMI adalah untuk membentuk insan akademis yang berwawasan Islam dan bertanggung jawab terhadap masyarakat,” ingatnya.
Ketua Umum HMI Cabang Bireuen, T. Mirza Saputra, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Komisariat Al-Aziziyah UNISAI atas terselenggaranya kegiatan ini dengan baik.
“Basic Training bukan sekadar forum pembelajaran, melainkan ruang pembentukan watak dan kepribadian kader HMI. Kita ingin melahirkan kader yang berpikir kritis, berakhlak, dan memiliki kesadaran berorganisasi untuk kemaslahatan umat serta bangsa,” ujarnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Redha menyampaikan, peserta basic training berjumlah 20 orang yang berasal dari sejumlah kampus yang ada di Kabupaten Bireuen.
“Para peserta basic training di dibekali dengan sejumlah materi ke-HMI-an dan keislaman. Pemateri berasal dari internal HMI dan dari luar HMI. Setelah basic training, peserta nantinya akan mengikuti follow up sebagai bentuk penajaman kaderisasi,” ujarnya.
Dia juga mengucapkan terimakasih atas dukungan berbagai pihak sehingga kegiatan basic training dapat berjalan dengan lancar.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara terlaksana dengan baik. Kami berterima kasih kepada pengurus cabang, alumni, serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi aktif hingga kegiatan ini sukses,” tuturnya.
Turut hadir pada prosesi pembukaan, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, Dr Muslim, M.Si, pengurus HMI Cabang Bireuen, alumni, pengurus komisariat, dan para tamu undangan lainnya. (Red)











