KABAR BIREUEN-“Perguruan Tinggi, seperti Universitas Almuslim harus menghidupkan spirit Aceh baru, memajukan dan menyukseskan pendidikan Aceh melalui Program Aceh Caroeng dan Aceh Meuadab.

Yaitu pendidikan Islami, sesuai Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan pendidikan, dan menguasai teknologi.

Hal itu disampaikan  Plt Gubernur Aceh Ir.H.Nova Iriansyah,MT , saat memberikan orasi ilmiah pada acara rapat senat terbuka wisuda sarjana dan ahli madya Universitas Almuslim XXXII, di Auditorium Academic Center (AAC) Universitas Almuslim Peusangan, Minggu (22/12/2019).

Menurut Nova Iriansyah  Gerak pembangunan sektor Pendidikan harus secara dinamis mengikuti era perubahan industri 4.0,”  dan Program Aceh Carong dan Aceh Meuadab bertujuan untuk mewujudkan Pendidikan Aceh yang Islami dan menguasai teknologi.

Ini sebagai wujud dalam pelaksanaan Syariat Islam di bidang pendidikan, dan  Pemerintah Aceh telah memiliki kurikulum pendidikan Islami, sesuai amanah Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

“Kurikulum Aceh Islami adalah kurikulum nasional yang ditambah dengan muatan nilai islami dan kearifan lokal. Kurikulum nasional tetap dilaksanakan sesuai standar minimal dengan pengintegrasian materi dan nilai Islami serta muatan lokal ke-Acehan,” katanya

Aceh sebagai provinsi yang  menerapkan syariat Islam, menurut Nova Iriansyah, kurikulum ini merupakan kebutuhan daerah untuk mengembangkan kompetensi peserta didik yang sesuai dengan potensi daerah dan bercirikan islami, sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an sebagai dasar hukum bagi umat Islam telah menjelaskan gagasan yang paling canggih, komprehensif dan mendalam tentang konsep ilmu pengetahuan.

Pentingnya ilmu pengetahuan berada di bawah pembahasan tauhid, yang merupakan tema sentral dalam pembahasan al-Quran. Secara khusus, Al-Gazali juga menyebutkan bahwa pendidikan moralitas, harus lebih diutamakan dalam proses pembelajaran. Supaya menghasilkan peserta didik yang dapat membawa misi rahmatan lil `alamin, sebagai khalifah di muka bumi,” papar PLt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Menurut Nova Iriansyah hampir 75 tahun Indonesia merdeka, namun kualitas SDM kita masih jauh berada di bawah kualitas SDM sejumlah negara yang juga pernah dijajah, seperti India, Malaysia, Vietnam, dan Philipina.

Menurut Nova Iriansyah Unesco, salah satu badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan, pengetahuan dan budaya, menjelaskan, bahwa upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa dapat dilakukan melalui peningkatan mutu pendidikan, yang dikenal dengan istilah 4 pilar pendidikan, yakni belajar mengetahui, melakukan sesuatu, menjadi sesuatu dan hidup bersama.

Dalam konteks Aceh, harus dilakukan secara integratif dengan basis nilai-nilai kultural sejarah masyarakat yang kosmopolit

“Pendidikan harus dicapai dengan cara-cara mulia dan meudab untuk memberi kemaslahatan kepada kelompok sosial lainnya. Untuk itu, diperlukan individu-individu yang mampu membebaskan dirinya dari penindasan yang dikontruksikan oleh perguruan tinggi,” jelasnya.

Untuk mewujudan maka  pentingnya upaya memperkuat keterpaduan dimensi kognitif, affektif dan psikomotor serta keterpaduan nilai-nilai sejarah masyarakat Aceh, agar Aceh memiliki insan yang memiliki intelektual, moralitas dan relegiusitas sekaligus.

Secara umum,  pengalokasian dana APBA untuk sektor pendidikan di daerah sudah cukup baik. Pengalokasian dana bantuan operasional sekolah di Aceh sudah cukup adil , dimana dalam pegalokasiannya pemerintah daerah telah memperhatikan faktor-faktor sosial ekonomi.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah  juga menegaskan, bahwa untuk memenangkan persaingan global, dibutuhkan mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri sekaligus lahan yang sangat menguntungkan bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

LPTK merupakan lembaga penghasil tenaga pendidik atau guru di Indonesia, yang sangat berperan bagi peningkatan kualitas SDM di Indonesia. LPTK mempunyai tanggung jawab menciptakan tenaga pendidik yang profesional. Apalagi saat ini masih terdapat beberapa masalah pendidikan di Aceh. Ini tentu menjadi tanggungjawab universitas di Aceh.

Untuk diketahui bersama, temuan Majelis Pendidikan Aceh pada tahun 2019, menyebutkan bahwa Aceh masih kekurangan tenaga non kependidikan, terutama pustakawan, operator sekolah, laboran, tata usaha (TU), bendahara sekolah, teknisi sumber belajar, penjaga sekolah, tenaga kebersihan dan satpam sekolah.

Selain itu mutu lulusan sekolah SMA/SMK di Aceh tidak berdaya saing. Data tahun 2019, penerimaan calon mahasiswa baru melalui jalur SBMPTN di Universitas Syiah Kuala, khususnya prodi pendidikan dokter, prodi pendidikan dokter gigi, dan pendidikan dokter hewan, tingkat kelulusan calon mahasiswa asal non Aceh lebih tinggi dari pada calon mahasiswa asal Aceh.

Semua pihak untuk segera berbenah dan mengantisipasi kejadian ini dengan berbagai daya upaya dan strategi, demi kemajuan dunia pendidikan Aceh dan demi melahirkan SDM Aceh yang unggul dan berdaya saing global.

Kehadiran Perguruan Tinggi  selain dapat memberikan gagasan,  juga berkontribusi bagi pengembangan Aceh, sehingga melalui pendidikan akan terjadi proses memanusiakan manusia lain.

Di akhir pidatonya Nova Iriansyah mengucapkan “Selamat kepada para  wisudawan. Ingat jasa Ibu, Ayah, ingat jasa guru. Kita tidak mungkin berada di suatu tempat terhormat tanpa kasih sayang orang tua dan sentuhan seorang guru,” ujar Nova Iriansyah.

Selesai orasi ilmiah, Nova menyerahkan sejumlah buku dan plakat pemerintah Aceh kepada Rektor Umuslim, Dr.Amiruddin Idris, SE., MSi begitu juga sebaliknya, Amiruddin Idris menyerahkan plakat dan buku karangannya “Bireuen Segitiga Emasnya Aceh”. (Ihkwati)

 

 

BAGIKAN