KABAR BIREUEN, Juli – Setelah lebih dari sebulan hidup tanpa aliran listrik pascabanjir besar, warga Dusun Bivak, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, akhirnya kembali menikmati penerangan. Solusi itu hadir melalui pemasangan paket Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen.
Dusun Bivak salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Akses yang terbatas membuat warga di sana terisolasi, sementara ketiadaan listrik menjadikan malam hari terasa mencekam dan aktivitas masyarakat sangat terbatas.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian Umuslim yang terdiri atas Prof. Dr. Halus Satriawan, SP., M.Si, Dr. Imam Muslem R., M.Kom, dan Dr. Muhammad Yanis, MT, serta didampingi Khairunnisak, M.Pd, bekerja sama dengan relawan Meutuah Project menghadirkan solusi energi bersih dan terbarukan melalui pemasangan PLTS hibrid.
“Pasca banjir, masyarakat Dusun Bivak benar-benar terisolasi. Sudah lebih dari sebulan tidak ada aliran listrik. Pada malam hari kondisinya sangat mencekam,” ujar Prof. Dr. Halus Satriawan, SP., M.Si, Kamis (15/1/2026).
BACA JUGA: Survei Mapala ALASKA Umuslim, Ungkap Fakta Ancaman Serius di DAS Krueng Peusangan
Selama ini, sebutnya, warga hanya mengandalkan genset berkapasitas kecil untuk penerangan. Namun, keterbatasan bahan bakar membuat pasokan listrik sering terhenti dan tidak bisa digunakan secara berkelanjutan.
“Itulah alasan kami, tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Almuslim yang didanai Kemdiktisaintek melalui skema tanggap darurat bencana, turun langsung ke lokasi untuk memasang paket PLTS hibrid,” jelasnya.
Menurut Prof. Halus, PLTS hibrid dirancang sebagai solusi penerangan malam hari sekaligus mendukung kebutuhan dasar masyarakat. Sistem ini menggabungkan panel surya dengan baterai atau generator (genset), sehingga mampu menciptakan pasokan listrik yang lebih stabil, andal, dan efisien dengan memanfaatkan energi matahari pada siang hari.

Dr. Imam Muslem R., M.Kom menambahkan, Meutuah Project merupakan relawan pertama yang masuk ke Dusun Bivak sejak banjir melanda. “Karena itu, kami bekerja sama dengan relawan Meutuah Project dan masyarakat setempat untuk membangun fasilitas penerangan ini,” ujarnya.
Proses pemasangan PLTS hibrid dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan warga Dusun Bivak. Hasilnya, pada Rabu (10/1/2026), masyarakat sudah mulai menikmati penerangan dari sistem PLTS tersebut.
“Alhamdulillah, kini masyarakat bisa memanfaatkan listrik untuk kebutuhan dasar, seperti penerangan dan aktivitas sosial warga,” kata Prof. Halus.
Usai uji coba, perangkat desa mengetes sejumlah lampu serta sistem pengeras suara (mic) di meunasah yang tersambung dengan aliran listrik dari PLTS. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan serah terima perangkat dan tanggung jawab pemeliharaan kepada Kepala Desa Krueng Simpo, didampingi kepala dusun dan perangkat Dusun Bivak.
“Kami sangat terbantu dengan adanya PLTS ini. Selama ini kami bergantung pada genset dan bahan bakar yang sulit diperoleh. Sekarang listrik lebih stabil dan berkelanjutan,” ujar Kepala Dusun Bivak.
Ketua tim pengabdian masyarakat Umuslim, Prof. Dr. Halus Satriawan, SP., M.Si, menjelaskan bahwa program tanggap darurat pascabanjir ini didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata peran sivitas akademika Universitas Almuslim dalam merespons kondisi darurat pascabencana, dengan menghadirkan solusi yang cepat, tepat, dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur,” tegasnya.
Dengan terpasangnya PLTS hibrid tersebut, warga Bivak kini kembali memiliki akses listrik berbasis energi bersih dan terbarukan. Kehadiran teknologi ini diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi langkah awal menuju kemandirian energi masyarakat desa. (Suryadi)











