KABAR BIREUEN- Puluhan duta Anti Perundungan Sekolah Pengerak SMP Negeri 1 Bireuen, mengikuti pelatihan Agen Perubahan Program Roots Indonesia, Anti Perundungan SMPN 1 Bireuen Tahun 2021.

Ini sebagai bentuk program dukungan pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari ini, dibuka secara resmi oleh Kepala SMPN 1 Bireuen, Ibrahim Harun, S. Pd., M.SM di ruangan Laboratorium IPA sekolah setempat, Sabtu, (25/9/2021), ditandai dengan penyematan bagde (tanda peserta) secara simbolis.

Dalam arahanya, Ibrahim Harun, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama antara Kemendikbud dan UNICEF dalam memerangi perundungan di kalangan pelajar khususnya sekolah SMP dan SMA.

Dijelaskan, sebelum kegiatan ini dilaksanakan, pihak sekolah mengutuskan 2 orang gurunya, untuk mengikuti pelatihan Program Roots ini, kedua orang tersebut, yaitu guru mapel Bahasa Inggris, Dara Jatul Ulya,S.Pd. dan guru Bimbingan Konseling, Sri Nurhayati,S.Pd.

Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Riset (Kemendikbudristek) selama sebulan lebih melalui Online.

Dirincikan, ada 30 siswa terdiri dari kelas VII, VIII, dan IX sebagai agen perubahan di sekolah yang mengikuti kegiatan pelatihan ini.

“Mereka terpilih sebagai duta Perundungan sekolah melalui mekanisme pemilihan yang telah diatur sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam program roots,” jelas Ibrahim Harun.

Dijelaskan, dalam pelatihan ini, anak-anak dibekali pengetahuan terhadap dampak dari pada perundungan-perundungan yang akan terjadi di sekolah.

Diantaranya tentang cara penanganan bully (perundungan) di lingkungan sekolah.

Dimana nantinya mereka menjadi penengah bagi kawan kawannya, apabila terjadi pembullyan antar siswa di sekolah.

“Mereka akan memberi bimbingan nasehat supaya pembullyan tersebut tidak terjadi di lingkungan sekolah,” sebut Ibrahim Harun.

Contohnya,  ada anak yang dibully oleh kawan-kawannya, sehingga menimbulkan ketidak nyamanan mereka dalam proses pembelajaran untuk mengenyam pendidikan di sekolah. Maka harus dibimbing.

Menurut Ibrahim Harun, jika peristiwa pembullyan ini terjadi di sekolah, itu sangat berdampak pada psikiologi anak, sehingga mereka tidak merasa nyaman untuk menuntut ilmu.Otomatis mereka tidak mau datang kesekolah lagi, karena merasa terganggu dan tidak merasa nyaman.

“Maka untuk mengantisipasi sedini mungkin peristiwa ini tidak terjadi, pihak sekolah melakukan gebrakan, gebrakan langkah yang kita tempuh, yaitu kita membentuk dan memilih agen perundungan dari kalangan siswa sekolah,” jelasnya.

Disebutkan, setelah selesai pelatihan ini, mereka akan mengimplementasikan kepada siswa yang lain di semua kelas yang ada di SMPN 1 Bireuen ini.

“Dengan kegiatan ini, nantinya diharapkan para agen perubahan tersebut dapat berperan memprakarsai serta menggalakkan untuk menyebarkan serta menanamkan nilai-nilai kebaikan dan anti kekerasan di lingkungan sekolah SMPN 1 Bireuen ini,” pinta Ibrahim Harun. (Herman Suesilo)