KABAR BIREUEN, Peusangan – Tokoh muda masyarakat Peusangan Raya, Edi Saputra atau yang dikenal dengan sapaan Edi Obama, mendesak agar pengelolaan aset wakaf Yayasan Almuslim Peusangan (YAP) dilakukan secara transparan, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Menjelang berakhirnya masa kepengurusan YAP, dia mengajak semua pihak untuk menyukseskan Musyawarah Almuslim (Muslim) X Tahun 2026 dalam suasana sejuk. Hal ini juga menjadi momentum untuk memperkuat akuntabilitas, menjaga persaudaraan, dan menentukan kepemimpinan yayasan melalui mekanisme organisasi yang sah.
Edi Obama menegaskan, keberlanjutan kepemimpinan yayasan warisan para ulama tersebut harus disikapi dengan kedewasaan, keikhlasan, dan semangat persaudaraan. Menurutnya, seluruh pihak perlu menghormati hak para pemilik mandat dan suara sah dalam menentukan arah serta kepengurusan yayasan ke depan.
“Masa kepengurusan saat ini sudah di penghujung jalan. Mari kita sambut Muslim X dengan lapang dada. Siapa pun yang dipercaya nantinya, keputusan harus lahir melalui mekanisme organisasi dan musyawarah yang sah,” ujar Edi Obama dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).
Transparansi Aset Wakaf Menjadi Amanah Bersama
Edi Obama menjelaskan, kepeduliannya terhadap YAP bukan didasari ambisi untuk menduduki jabatan tertentu, melainkan tanggung jawab moral dalam menjaga dan memastikan aset wakaf umat dikelola sesuai peruntukannya.
Dia menilai, masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai keberadaan aset-aset yayasan, pendapatan yang dihasilkan setiap bulan dan tahun, serta pemanfaatan hasil pengelolaannya.
“Masyarakat berhak mengetahui di mana aset-aset yayasan berada, berapa penghasilannya setiap bulan dan tahun, serta bagaimana hasilnya digunakan dan dipertanggungjawabkan. Harta wakaf harus dikelola secara transparan, profesional, dan benar-benar memberikan manfaat bagi umat,” jelas Edi.
Menurutnya, pertanyaan mengenai pengelolaan aset tersebut juga merupakan bagian dari aspirasi para pemilik mandat dan suara sah yang mempercayakan kepadanya untuk menyampaikan kegelisahan serta harapan mereka. Sebab, sebagian pihak belum merasa leluasa menyampaikan aspirasi tersebut secara langsung.
“Sesungguhnya, saya tidak berdiri hanya untuk menyampaikan pendapat pribadi. Ada saudara-saudara kita yang menitipkan aspirasi dan mempercayakan kepada saya untuk menyuarakan pertanyaan serta harapan mereka. Kepercayaan ini adalah amanah moral yang harus saya jaga dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.
Masyarakat Diminta Berani Menyampaikan Aspirasi
Edi Obama mengajak masyarakat Peusangan Raya untuk tidak membiarkan rasa takut menghalangi kepedulian terhadap pengelolaan amanah umat. Dia menilai, pertanyaan, kritik, dan masukan merupakan bagian penting dalam mendorong tata kelola yayasan yang lebih baik, selama disampaikan secara santun, berdasarkan fakta, dan tetap menghormati aturan.
“Jangan takut bertanya, jangan takut mengingatkan, dan jangan takut menyampaikan kebenaran selama dilakukan dengan santun, beradab, dan berdasarkan fakta. Menjaga amanah bukanlah permusuhan, melainkan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Menurut dia, keterbukaan seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan bagi pengelola yayasan untuk menunjukkan bahwa amanah telah dijalankan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Edi menegaskan, persoalan keberlanjutan YAP tidak semestinya dipersempit menjadi persaingan untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Hal yang lebih mendasar adalah memastikan aset wakaf dikelola secara benar, transparan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat.
“Harta wakaf ini bukan milik pribadi ataupun kelompok tertentu. Ini adalah amanah yang harus dijaga demi kepentingan umat dan generasi mendatang. Kita tidak sedang mencari kesalahan seseorang, tetapi ingin memastikan bahwa amanah ini benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya,” tambahnya.

Muslim X Harus Jadi Forum yang Objektif dan Bermartabat
Terkait Muslim X Tahun 2026, Edi Obama mengajak seluruh pihak untuk menghormati proses musyawarah dan keputusan para pemilik suara sah. Dia menilai, forum tersebut harus menjadi ruang yang objektif untuk mengevaluasi kepengurusan sekaligus menentukan arah organisasi ke depan.
Menurutnya, kepengurusan saat ini tetap memiliki peluang untuk mendapatkan kepercayaan kembali, apabila dinilai telah menjalankan amanah dengan baik. Namun, apabila diperlukan pembenahan, musyawarah harus menjadi wadah untuk menentukan langkah selanjutnya sesuai mekanisme organisasi.
“Jika pengurus yang sekarang dinilai telah menjalankan amanah dengan baik, jujur, dan bertanggung jawab, tentu kepercayaan dapat diberikan kembali. Namun, jika masyarakat menilai masih diperlukan pembenahan, forum musyawarah inilah yang menjadi wadah untuk menentukan kepengurusan selanjutnya sesuai mekanisme yang berlaku,” jelasnya.
Da juga menegaskan, setiap putra Peusangan Raya memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri maupun dicalonkan, sepanjang memenuhi persyaratan dan mengikuti ketentuan organisasi.
“Yang terpenting bukan siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang mampu menjaga amanah, menghormati aturan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” katanya.
Beasiswa dan Keringanan Biaya Pendidikan Jadi Prioritas
Selain mendorong transparansi pengelolaan aset wakaf, Edi Obama berharap kepengurusan YAP mendatang dapat memastikan hasil pengelolaan aset benar-benar dirasakan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.
Dia menilai, keberadaan yayasan warisan para ulama tersebut harus memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan membuka kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda Peusangan Raya.
Karena itu, Edi menitipkan dua harapan utama kepada kepengurusan mendatang, yakni penyediaan beasiswa dan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, anak yatim, dan fakir miskin di Peusangan Raya, serta pemberian keringanan biaya pendidikan di Pesantren Terpadu Almuslim bagi anak-anak yang ingin memperdalam ilmu agama dan membangun karakter.
“Harta wakaf harus menjadi jalan kebaikan bagi umat. Jangan sampai anak-anak yang memiliki semangat belajar kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi. Masa depan pendidikan generasi Peusangan Raya harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
BACA JUGA: Tokoh Peusangan Raya Pertanyakan Isu Aset Wakaf Yayasan Almuslim Jadi Jaminan Uang Rp5 Miliar
“Kehadiran saya hanya untuk meluruskan dan menjaga harta milik Allah SWT. Jika pengelolaan harta wakaf ini sudah transparan, benar, dan kembali pada kemaslahatan umat, maka selesailah tugas saya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT. Selanjutnya, saya serahkan sepenuhnya kepada nurani para pemilik mandat dan suara sah masyarakat Peusangan Raya untuk menilai dengan bijaksana,” ungkapnya.
Edi mengakui, dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Karena itu, dia tidak meminta masyarakat menilainya sebagai sosok yang paling benar, melainkan berharap upayanya dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga amanah dan memperjuangkan kemaslahatan umat.
“Saya bukan manusia yang sempurna atau paling baik. Saya hanyalah hamba Allah yang memiliki banyak kekurangan, keterbatasan, dan tidak luput dari dosa. Saya tidak meminta dinilai sebagai manusia yang paling benar. Saya hanya berharap agar niat baik dalam menjaga amanah ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk kemaslahatan umat. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, meluruskan niat kita, menjauhkan kita dari fitnah dan permusuhan, serta memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk menjaga amanah dan menegakkan kebenaran,” ucapnya.
Edi Obama menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh masyarakat Peusangan Raya menempatkan persaudaraan, kejujuran, dan tanggung jawab di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Sebab, pada akhirnya, jabatan akan berganti, kepengurusan akan berakhir, tetapi amanah dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT akan tetap melekat pada diri kita masing-masing,” pungkasnya. (Suryadi)











