Prof. Drh. Aris Junaidi, PhD sedang membacakan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim.

KABAR BIREUEN – Pelaksanaan wisuda sarjana dan ahli madya Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, angkatan XXXIII tahun 2021, pada hari kedua, Minggu (21/2/2021), di Auditorium Academik Centre (AAC) Ampon Chiek Peusangan, dikhususkan untuk lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Mereka yang diwisuda sebanyak 246 orang.

Acara wisuda tersebut juga dirangkaikan dengan sambutan dan ucapan selamat kepada wisudawan/ti Umuslim, dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim.

Pidato dan pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut disampaikan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud RI, Prof. Drh. Aris Junaidi, PhD, melalui rekaman yang disiarkan secara virtual.

Isi pidato tersebut antara lain disebutkan, saat ini kita berada dalam tataran Revolusi 4.0 dan Society 5.0. Saat ini sudah satu tahun lebih kita mengalami pandemi Covid-19. Kita berharap agar segera berlalu, sehingga semua aktivitas pendidikan di perguruan tinggi bisa normal.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), kata dia, sangat cepat berkembang, sehingga seleksi kompetensi sangatlah cepat. Prediksi sepuluh tahun ke depan, 23 juta peluang kerja  di Indonesia akan digantikan produk asing.

“Tapi, sebanyak 27 sampai 46 juta lapangan kerja baru potensial tercipta dan banyak di antarannya saat ini belumlah eksis,” jelas Menteri Nadiem Makarim dalam pidatonya yang dibacakan Prof. Aris Junaidi.

Kemudian, Prof. Aris Junaidi juga memaparkan, bagaimana kampus untuk bisa menyiapkan kompetensi untuk pekerjaan yang belum ada. Ini pertanyaan besar yang harus dijawab bersama.

Dikatakannya, kebijakan kampus merdeka adalah untuk membuka tembok-tembok dan lorong-lorong sempit yang ada di program studi. Mahasiswa harus diberikan ruang yang luas untuk memperoleh kompetensi, baik hard skill maupun soft skill.

“Sosialisasi kebijakan merdeka belajar kampus merdeka tahun 2021 adalah tahun emas bagi mahasiswa Indonesia, karena peluang-peluang menambah kompetensi di luar capaian pembelajaran utama, diberi kesempatan yang seluas-luasnya dalam kebijakan merdeka belajar, kampus merdeka,” jelas Prof Aris Junaidi.

Menurut  Aris Junaidi, mahasiswa  yang ikut magang, mendapatkan mikro finansial di dalam negeri maupun luar negeri, diberi pendampingan  pendanaan dalam jumlah besar.

Tahun 2021, kata dia, kebijakan kampus merdeka ditargetkan 50 ribu mahasiswa, termasuk berbagai kegiatan kampus mengajar pada 20 ribu mahasiswa. Ini komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mendorong untuk majunya SDM yang unggul, Indonesia maju.

Menurut Aris Junaidi, Perguruan Tinggi harus membangun kerjasama dengan semua stakeholder,  mahasiswa juga harus, menceburkan diri di dunia  masa depan yang akan dimasukinya, baik dunia industri, dunia usaha, dunia profesi, dunia birokrasi, dunia peneliti, maupun dunia enterpreneur.

“Bagaimana lulusan perguruan tinggi, bisa siap dengan dunia. Kalau tidak menceburkan diri di dunia kerja, sebulan, dua bulan magang, sudah pasti tidak cukup untuk memperoleh kompetensi hard skill dan soft skill di dunia kerja,” papar Aris Junaidi.

Karena itu, sebutnya, program kampus merdeka sekurangnya harus diikuti satu semester penuh, bahkan bisa sampai dua semester. Selain magang di dunia kerja, studi independen melalui mikro finansial dan kompetensi masa depan serta diakui dunia industri.

Salah satu cara memastikan nantinya lulusan perguruan tinggi kita dicari oleh dunia usaha, menurutnya, kita undang profesional dari industri untuk masuk dalam kampus dan mengajar dalam kelas, sehingga mahasiswa terbiasa dengan berbagai kegiatan industri.

“Kita juga melaksanakan pertukaran mahasiswa melalui program Permata Sakti, Permata Bhinneka, dan juga sedang merintis Permata Asia,” jelas Anis Junaidi.

Lebih lanjut disebutkannya, kemitraan dengan industri dapat menghilirkan inovasi dan perguruan tinggi juga sebagai tempat penyiapan pemimpin. Bangsa harus selalu mengembangkan  karakter belajar dan Pancasila pada seluruh mahasiswanya.

“Kita mengenal pembelajaran sepanjang hayat. Inilah suatu prinsip yang kita dorong dalam kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” urainya.

Inovasi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan Iptek, tegas Anis Junaidi, harus terus berinovasi dengan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. (REL)