Senin, 29 Juni 2026

Pangan dan Energi Pada Lahan Rawa

Oleh: Safrizal

Kebutuhan akan pangan dan energi dimasa yang akan datang terus mengalami peningkatan. Laju peningkatan permintaan pangan dan energi ini dipengaruhi dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan perekonomian.

Kondisi ini dirasakan Bangsa Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi dan pangan. Dalam memenuhi energi dimasa yang akan datang, Pemerintah Indonesia tidak lagi mengandalkan energi yang bersumber dari fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas.

Kebutuhan energi Indonesia tersebut dapat diperoleh melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) diantaranya energi surya, energi angin, energi mikrohidro dan air, energi panas bumi dan energi biomas.

Dengan demikian Bangsa Indonesia patut bersukur terhadap kelimpahan sumber energi tersebut. Berbeda dengan penyediaan kebutuhan pangan yang harus dihadapi Bangsa Indonesia.

Dalam penyediaan pangan Bangsa Indonesia menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang sedang dan akan dihadapi berupa:

• Semakin berkurangnya lahan pertanian akibat konversi lahan menjadi daerah permukiman dan perdagangan;

• Semakin terbatasnya atau tidak pastinya penyediaan air untuk produksi akibat kerusakan hutan dan lahan.

• Adanya perubahan iklim yang menciptakan risiko bagi produktivitas pertanian, dimana bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan menyebabkan gagal panen di kalangan petani.

• Penyediaan sarana dan prasarana pertanian yang belum merata dengan harga yang masih tinggi.

• Berkurangnya jumlah pemuda yang berminat bekerja di sektor pertanian. Usia petani di atas 45 tahun mencapai 64,2% (BPS, 2018).

Dalam menghadapi permasalahan tersebut diatas, maka pemerintah telah melakukan berbagai bauran strategi dan kebijakan guna memenuhi penyediaan pangan.

Salah satu strategi dan kebijakan yang menuai kontroversi adalah pemanfaatan lahan rawa sebagai daerah pertanian.

Lahan rawa merupakan salah satu tipe ekosistem dari lahan basah (wetland) yang terbentuk secara alamiah dan terletak antara wilayah dengan sistem daratan (terrestrial) dengan sistem perairan dalam (sungai, danau atau laut).

Lahan rawa memiliki daya tarik dari berbagai kalangan, hal ini dikarenakan lahan rawa memiliki beberapa keunggulan diantaranya (1). memiliki topografi yang relatif datar; (2). memiliki keanekaragaman hayati dan sumber plasma nutfah cukup kaya; (3). ketersediaan lahan yang cukup luas (4). sumber saya air yang melimpah; (5) lebih tahan deraan iklim; (6). mempunyai potensi warisan budaya dan kearifan lokal yang mendukung.

Penggunaan lahan rawa sebagai lahan pertanian dan perkebunan telah menjadi perdebatan antara banyak pihak.

Pandangan pihak pengembangan pertanian dan perkebunan bahwa lahan rawa sebagai sumber daya lahan atau kawasan budidaya tempat produksi pertanian sehingga diperlukan reklamasi dan ameliorasi.

Hal ini sangat diperlukan, karena lahan rawa diprediksi mampu menjadikan negeri ini mandiri pangan secara nasional.

Namun pandangan berbeda dikemukan oleh pemerhati lingkungan hidup yang berpendapat bahwa lahan rawa lebih diartikan sebagai daerah atau kawasan konservasi dan restorasi sehingga perlu pelestarian.

Lahan rawa memiliki peran dan manfaat diantaranya selaku penyerap dan penyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya yang akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering, mencegah terjadinya banjir, mencegah intrusi air laut ke dalam air tanah dan sungai, sumber energi, dan sumber makanan nabati maupun hewani.

Sehingga jika hutan rawa hilang maka akan mengakibatkan kekeringan, intrusi air laut yang lebih jauh ke daratan, mengakibatkan banjir, degradasi berbagai jenis flora dan fauna di dalamnya, sumber mata pencarian penduduk setempat bahkan berkurang.

Potensi luas lahan rawa Indonesia mencapai 34,12 juta hektar, dari luasan tersebut yang berpotensi untuk pengembangan pertanian sekitar 14,18 juta hektar atau 41% dari total luas lahan rawa. (Andi Amran Sulaiman…[dkk], 2018: 3).

Rencana pengembangan pemanfaatan lahan rawa oleh Pemerintah dalam memenuhi penyediaan pangan nasional inilah yang menjadi kekhawatiran semua kalangan khususnya pemerhati lingkungan.

Agar program pengembangan pemanfaatan lahan rawa tidak berdampak pada lingkungan hidup, maka Pemerintah harus melakukan pengembangan pertanian di lahan rawa yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Beberapa strategi yang harus diupayakan meliputi:

– Mengidentifikasi ulang lahan rawa yang memiliki potensi dalam pengembangan lahan pertanian.

– Mengoptimalkan terlebih dahulu lahan rawa yang telah dibuka sebagai lahan pertanian

– Melakukan penyediaan sarana dan prasarana pertanian bagi petani dengan pendampingan lapangan secara menyuluruh.

– Melakukan kegiatan konservasi air dan tanah pada lahan rawa.

– Melakukan pengembangan kearifan lokal dalam pemanfaatan lahan rawa.[]

Penulis adalah Mahasiswa Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Program Pasca Sarjana Universitas Almuslim Peusangan Bireuen.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Sekda Aceh dan PLN Pusat Bahas Prospek Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Aceh

0
KABAR BIREUEN, Jakarta - Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menghadiri pertemuan yang membahas prospek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Aceh bersama...

UNIKI dan Forum PLKP Jalin Kemitraan Strategis, Buka Peluang Magang dan Sertifikasi Kompetensi bagi...

0
KABAR BIREUEN, Peusangan – Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (Forum PLKP) melalui...

Tenggelam Saat Mencari Tiram di Tambak Gampong Alue Kuta, Bocah Enam Tahun Meninggal Dunia

0
KABAR BIREUEN, Jangka–Seorang anak laki-laki berusia enam tahun, Muhammad Altaf, warga Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, meninggal dunia setelah tenggelam tambak ikan...

Menaker: Standar Kerja Layak Era Digital akan Jadi Acuan Penguatan Regulasi Ketenagakerjaan

0
KABAR BIREUEN, Majalengka – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan Konvensi Internasional Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tentang kerja layak di era digital akan menjadi acuan dalam...

Menang Dramatis 4-3 atas Persas Sabang, PSSB Bireuen U-12 Raih Juara III Piala Presiden...

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh – Tim PSSB Bireuen Junior Usia 12 Tahun (U-12) berhasil mengukir prestasi dengan meraih juara ketiga pada Festival Sepak Bola...

KABAR POPULER

Lantik 173 Pejabat, Bupati Bireuen Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan, Kalau Ketahuan Dicopot

0
KABAR BIREUEN, Bireuen–Bupati Bireuen, Ir. Mukhlis, S.T., melantik dan mengambil sumpah/janji jabatan 173 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, Jumat (26/6/2026) sore di...

Sudah Dua Bulan Diproses, Polres Bireuen Belum Tetapkan Status Hukum Kasus Dugaan Penghinaan Wartawan

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Zulfikar Muhammad, kuasa hukum M. Ilham bin Sakubat, wartawan wilayah liputan Bireuen, mendesak Polres Bireuen segera memberikan kepastian hukum atas...

Tenggelam Saat Mencari Tiram di Tambak Gampong Alue Kuta, Bocah Enam Tahun Meninggal Dunia

0
KABAR BIREUEN, Jangka–Seorang anak laki-laki berusia enam tahun, Muhammad Altaf, warga Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, meninggal dunia setelah tenggelam tambak ikan...

Menang Dramatis 4-3 atas Persas Sabang, PSSB Bireuen U-12 Raih Juara III Piala Presiden...

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh – Tim PSSB Bireuen Junior Usia 12 Tahun (U-12) berhasil mengukir prestasi dengan meraih juara ketiga pada Festival Sepak Bola...

Desak Bahlil Batalkan PoD Blok Andaman, Warga Aceh Demo Kementerian ESDM

0
KABAR BIREUEN, Jakarta– Aksi damai ratusan warga Aceh dari paguyuban Taman Iskandar Muda (TIM) digelar depan Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta...