KABAR BIREUEN– Mahasiswa KKN Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe dari kelompok 55 yang dibimbing Prof.Dr. H. Apridar, SE, M.Si, memproduksi sabun cuci piring bersama ibu PKK dan warga Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen.

Perangkat desa mendukung program pembuatan sabun cuci piring oleh para mahasiswa karena program ini bisa menjadi program berlanjut untuk desa tersebut.

Sabun cuci piring merupakan kebutuhan yang dipakai setiap hari oleh masyarakat. Sehingga para mahasiswa mengambil inisiatif untuk memproduksi sabun cuci piring di Desa Pulo Kiton.

Perangkat desa pun ikut serta untuk mensukseskan kegiatan ini. Perangkat desa menilai,  produksi sabun cuci piring sangat bermanfaat bagi masyarakat dan hal ini nantinya bisa menjadi kegiatan berlanjut untuk PKK Desa Pulo Kiton.

Ferdyan Hadi Pratama selaku ketua kelompok, Senin (18/5/2020) menyebutkan, adapun mahasiswa yang ikut andil dalam kegiatan ini yaitu dirinya, Ferdyan Hadi Pratama (Ilmu Hukum), Oka Nadya, Ninda Nidya Mumtaz, Khairunnisak, dan Aris Munandar (Teknik Sipil).

“Dikarenakan basic jurusan kami tidak ada yang dari Kimia kami tetap ingin membuat sebuah produk cuci piring ini, sehingga kami meminta bantuan langsung dari seorang teman yaitu Muhammad Ichsan dari jurusan Teknik Kimia yang juga sudah mensukseskan program pembuatan sabun cuci piring ini di Desa Cot Batee, Kecamatan Kuala, Bireuen,” sebutnya..

Dengan modal 90 ribu saja, bisa memproduksi sekitar 75 buah sabun cuci piring. Selain itu cara pembuatannya juga mudah tidak menguras begitu banyak tenaga. Hanya mencampur air dengan Texaphon, SSL, dan NaCl sudah menghasilkan sebuah produk sabun cuci piring. Ini merupakan usaha yang tepat jika masyarakat ingin memulai membuka usaha baru.

Program pembuatan sabun cuci piring merupakan program terakhir dari kegiatan KKN yang mereka laksanakan. Setelah beberapa rangkaian kegiatan seperti sosialisasi tentang pencegahan covid-19, membagikan masker kepada masyarakat, gotong royong membersihkan lingkungan meunasah, berbagi takjil.

“Produksi sabun cuci piring ini program kenang-kenangan yang kami usungkan guna menjadi program berlanjut di desa itu sendiri,” sebut Ferdyan Hadi Pratama.

“Sabon Rah Pingan” nama produk yang diproduksi oleh mahasiswa ini nantinya akan dibagikan kepada sebagian masyarakat sebagai sample. Produk ini sendiri juga sudah di uji coba langsung oleh para mahasiswa menghasilkan cucian piring dan gelas bersih tanpa bau.

Keuchik Pulo Kiton, M Dahlan menyebutkan, sabun cuci piring yang diproduksi tersebut nantinya bisa diperjual belikan kepada masyarakat dengan harga dibawah harga pasaran.

“Sehingga masyarakat juga lebih tertarik membeli produk dari desa sendir,” katanya. (REL)

BAGIKAN