Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H.
Kadis Kominsa Bireuen
TERHITUNG sejak pelantikan sebagai Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominsa) Kabupaten Bireuen pada tanggal 13 Maret 2018 silam hingga 13 Maret 2026 genap sudah delapan tahun mengabdi dan mengembangkan Diskominsa sebagai garda terdepan dalam mempublikasi dan menguatkkan sistem digital Pemerintah Kabupaten Bireuen. Setiap perjalanan pengabdian selalu menyimpan cerita, dan pengalaman yang tidak ternilai, demikian pula perjalanan delapan tahun mengelola Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bireuen.
Bagi sebagian orang, delapan tahun mungkin hanya angka dalam dalam hitungan waktu. Namun bagi kami yang berada didalamnya, rentang waktu tersebut adalah fase panjang yang penuh dinamika, tantangan, sekaligus kebanggaan dalam menjalankan amanah pelayanan publik di bidang informasi dan komunikasi terutama di era digital yang begitu pesat saat ini.
Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan pengabdian. Waktu itu adalah rentang yang cukup untuk menyaksikan perubahan, menguji ketahanan, sekaligus menanamkan fondasi yang kokoh bagi masa depan Bireuen yang lebih baik. Dalam kurun itulah langkah-langkah sunyi ditempuh untuk mengawal transformasi komunikasi dan digitalisasi pemerintahan di Kabupaten Bireuen melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bireuen atau yang akrab dikenal dengan Diskominsa Bireuen.
Langkah itu mungkin tak selalu terdengar riuh. Ia tak selalu menjadi tajuk utama. Namun di balik layar, di ruang-ruang server, di balik monitor yang menyala hingga larut malam, di sela rapat-rapat koordinasi yang tak kenal waktu, terpatri satu tekad: memastikan informasi publik tersampaikan dengan benar, layanan digital berjalan optimal, dan sistem persandian negara terjaga.
Perjalanan delapan tahun tentu tidak dimulai dari kondisi ideal. Di awal masa pengabdian, tantangan klasik pemerintahan daerah masih terasa kuat: keterbatasan anggaran, sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan kapasitasnya, serta infrastruktur teknologi yang belum merata. Namun justru di situlah makna pengabdian diuji. Membangun Diskominsa bukan hanya soal membeli perangkat keras atau menginstal perangkat lunak. Ia adalah proses panjang membangun budaya kerja berbasis data, memperkuat tata kelola informasi publik, dan menanamkan kesadaran bahwa era digital bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan.
Pelan namun pasti, pembenahan dilakukan. Website resmi pemerintah daerah diperbarui agar lebih informatif dan responsif. Media sosial pemerintah dikelola secara profesional untuk menjadi jembatan komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Layanan pengaduan publik diperkuat agar suara warga tak lagi terabaikan.
Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana. Namun dampaknya besar. Kepercayaan publik perlahan tumbuh ketika informasi disajikan secara transparan dan akurat. Secara grafis capaian kinerja Diskominsa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:



Transformasi Digital sebagai Keniscayaan
Delapan tahun terakhir adalah masa percepatan transformasi digital, terlebih ketika dunia dilanda pandemi. Pemerintahan dituntut untuk beradaptasi cepat. Rapat tatap muka beralih ke ruang virtual, pelayanan publik harus tetap berjalan meski mobilitas dibatasi, dan arus informasi harus dikendalikan agar tidak terseret gelombang hoaks.
Di sinilah peran Diskominsa menjadi sangat strategis. Infrastruktur jaringan diperkuat. Sistem surat-menyurat elektronik dikembangkan. Aplikasi internal pemerintahan diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas. Koordinasi lintas perangkat daerah dilakukan agar integrasi data dapat terwujud.
Delapan tahun lalu, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan kondisi hari ini. Perkembangan teknologi digital bergerak cepat, memaksa setiap Lembaga pemerintah untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan. Tanda tangan untuk mempercepat birokrasi juga diharuskan secara digital, sehingga Diskominsa Bireuen berhasil membuat satu aplikasi tanda tangan secara elektronik dan telah lulus verifikasi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Aplikasi tanda tangan pejabat di Kabupaten Bireuen diberi nama BirTTE sebagai singakatan dari Bireuen tanda tangan elektronik.
Transformasi digital bukan semata mengganti kertas dengan layar. Ia adalah perubahan paradigma. Dari birokrasi yang lambat menjadi birokrasi yang gesit. Dari proses manual yang rentan kesalahan menjadi sistem terotomatisasi yang lebih terukur.
Dalam proses ini, edukasi menjadi kunci. Aparatur sipil negara perlu didampingi agar tidak gagap teknologi. Masyarakat perlu diedukasi agar bijak bermedia sosial dan memahami literasi digital. Diskominsa hadir sebagai fasilitator sekaligus penggerak perubahan.
Di sisi lain, salah satu pilar penting dalam penguatan Diskominsa adalah keterbukaan informasi publik. Pemerintah daerah tidak bisa lagi bekerja dalam ruang tertutup. Era digital menuntut transparansi. Pengelolaan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) diperkuat. Dokumen-dokumen publik diklasifikasikan secara sistematis. Permohonan informasi dari masyarakat dilayani sesuai regulasi. Semua ini dilakukan agar prinsip akuntabilitas benar-benar terimplementasi.
Upaya memperkuat keterbukaan informasi publik pada badan publik Pemerintah Kabupaten Bireuen telah mencapai titik tertinggi. Ini dibuktikan dengan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Bireuen memperoleh predikat dengan kategori Informatif dan niali tertinggi untuk Kabuapten/Kota se_Aceh. Keberhasialn tersebut tidak terlepasa dari usaha-usaha intens yang dilakukan personalia Diskominsa.
Delapan tahun mengawal Diskominsa berarti pula delapan tahun menjaga marwah informasi. Setiap rilis berita harus diverifikasi. Setiap data yang dipublikasikan harus dipastikan validitasnya. Di tengah derasnya arus informasi digital, satu kesalahan kecil dapat berdampak luas.
Namun dari konsistensi itulah reputasi dibangun. Ketika masyarakat mulai menjadikan kanal resmi pemerintah sebagai rujukan utama informasi, maka di situlah dampak besar dari langkah sunyi itu terasa nyata.
Persandian: Sunyi yang Menjaga Kedaulatan
Tidak banyak yang memahami bahwa di balik komunikasi publik, ada satu fungsi strategis yang sering luput dari perhatian: persandian. Bidang ini bekerja dalam senyap, namun memiliki peran vital dalam menjaga keamanan informasi negara.
Sistem keamanan jaringan, perlindungan data, hingga pengamanan komunikasi strategis menjadi bagian dari tanggung jawab yang tak terlihat namun sangat menentukan. Delapan tahun mengawal Diskominsa berarti juga delapan tahun memastikan bahwa data pemerintahan terlindungi dari ancaman siber.
Ancaman digital kian kompleks. Serangan siber bukan lagi isu kota besar. Pemerintah daerah pun menjadi target. Oleh karena itu, penguatan sistem keamanan informasi menjadi prioritas. Pelatihan keamanan siber, audit sistem, dan koordinasi dengan lembaga terkait terus dilakukan walau anggaran yang sangat minim.
Sunyi, namun menentukan. Tanpa sistem persandian yang kuat, transformasi digital akan rapuh.
Tak ada perubahan besar yang lahir dari kerja sendiri. Delapan tahun perjalanan Diskominsa Bireuen diwarnai dengan kolaborasi lintas sektor. Sinergi dengan perangkat daerah, kerja sama dengan media massa, kemitraan dengan komunitas digital, hingga dukungan pimpinan daerah menjadi fondasi penting.
Kolaborasi dengan insan pers misalnya, bukan hanya soal publikasi kegiatan. Ia adalah kemitraan strategis dalam membangun narasi pembangunan yang konstruktif. Informasi yang akurat dan berimbang membantu masyarakat memahami arah kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, kerja sama dengan komunitas teknologi dan literasi digital membuka ruang partisipasi publik. Anak-anak muda Bireuen didorong untuk kreatif, inovatif, dan memanfaatkan teknologi untuk hal positif.
Dari kolaborasi inilah ekosistem digital daerah mulai terbentuk. Diskominsa tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi simpul penghubung berbagai potensi. Mengingat keterbatasan dana, Pemerintah Kabuapeten Bireuen mengalokasi dana untuk SKPK garda terdepan dalam memplukasi daerah dan memperkuat sisten digital juga sangat minim. Namun Management Diskominsa terus berusaha dengan bergai pihak seperti Balai Besar Sumber Daya Manusia Diskominfo Medan dan Pusdiklat Komdigi sehingga mampu melatih ribuan masyarakat dan pegawai Pemerintahan Kabupaten Bireuen agar melek digital kearah yang bermanfaat.
Ujian Bencana dan Ketangguhan Informasi
Kabupaten Bireuen tidak lepas dari ujian bencana, seperti banjir dan tanah longsor. Dalam situasi darurat, peran komunikasi menjadi krusial. Informasi harus cepat, tepat, dan tidak menimbulkan kepanikan.
Delapan tahun pengabdian turut diwarnai dengan momen-momen krisis. Dalam kondisi seperti itu, Diskominsa berfungsi sebagai pusat informasi resmi. Update kondisi lapangan, imbauan kepada masyarakat, hingga klarifikasi terhadap informasi yang menyesatkan harus dilakukan secara simultan.
Di tengah keterbatasan, sistem komunikasi darurat diperkuat. Media sosial dimanfaatkan secara optimal. Koordinasi dengan BPBD dan instansi terkait dilakukan intensif. Semua demi satu tujuan: keselamatan masyarakat. Dari situ terlihat jelas bahwa komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan, tetapi bagian dari manajemen krisis.
Penguatan SDM: Investasi Jangka Panjang
Teknologi dapat dibeli, tetapi kapasitas manusia harus dibangun. Selama delapan tahun, peningkatan kompetensi aparatur menjadi agenda berkelanjutan. Pelatihan jurnalistik pemerintahan dan Kelompok-kelompok Informasi Masyarakat, bimbingan teknis pengelolaan website, workshop keamanan informasi, hingga sertifikasi kompetensi menjadi bagian dari investasi jangka panjang.
Perubahan tidak selalu instan. Ada resistensi, ada keraguan, ada keterbatasan. Namun dengan pendekatan persuasif dan keteladanan, budaya kerja profesional perlahan tumbuh. SDM yang kuat menjadi modal utama untuk menjaga kesinambungan program. Karena pada akhirnya, sistem secanggih apa pun tetap bergantung pada integritas dan dedikasi manusia di baliknya. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan perhatian serius pimpinan daerah untuk pengemabangan SDM personalia Diskominsa demi kemajuan Daearh di masa depan.
Refleksi: Makna Pengabdian
Delapan tahun mengawal Diskominsa Bireuen adalah perjalanan tentang komitmen. Tentangnya memilih tetap berdiri di garis pengabdian meski sorotan tak selalu datang. Tentang memastikan roda komunikasi pemerintahan terus berputar tanpa harus menunggu tepuk tangan.
Langkah-langkah itu mungkin sunyi. Namun dampaknya nyata: meningkatnya kualitas layanan informasi, tumbuhnya kepercayaan publik, membaiknya tata kelola digital, serta terjaganya keamanan data pemerintahan.
Pengabdian bukan tentang jabatan, tetapi tentang tanggung jawab. Bukan tentang popularitas, tetapi tentang konsistensi.
Perjalanan tentu belum selesai. Tantangan ke depan justru semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things akan mengubah wajah pemerintahan. Diskominsa harus terus mampu beradaptasi.
Visi ke depan adalah membangun Bireuen sebagai kabupaten yang cerdas secara digital, transparan dalam tata kelola, dan tangguh menghadapi ancaman siber. Sistem pemerintahan berbasis elektronik perlu diperluas. Integrasi data antar perangkat daerah harus diperkuat. Literasi digital masyarakat harus terus ditingkatkan.
Delapan tahun adalah fondasi. Masa depan adalah lanjutan perjuangan. Pada akhirnya, “Langkah Sunyi, Dampak Besar” bukan sekadar judul. Ia adalah cerminan perjalanan panjang mengawal transformasi komunikasi dan informatika di Kabupaten Bireuen. Di balik setiap unggahan informasi, setiap sistem yang berjalan, setiap data yang terlindungi, ada kerja keras yang tak selalu terlihat.
Dan mungkin, justru dalam kesunyian itulah nilai pengabdian menemukan maknanya yang paling dalam. [*]










