KABAR BIREUEN, Bireuen — Pascabencana banjir dan tanah longsor, sekarang di Kabupaten Bener Meriah sedang musim panen durian. Panen durian yang melimpah di wilayah dataran tinggi Gayo itu, membuat para pekebun harus turun langsung menjajakan durian ke kota-kota pesisir, termasuk Bireuen, meski mereka harus menempuh perjalanan sulit dan berisiko.
Makanya, durian asal sentra perkebunan rakyat di Bergang dan Timang Gajah, kini membanjiri kota Bireuen dan sekitarnya. Para pekebun umumnya membawa sendiri durian ke Bireuen menggunakan sepeda motor. Mereka menggelar lapak seadanya secara dadakan di pinggir Jalan Bireuen–Takengon, Jalan Medan–Banda Aceh, Jalan Kolonel Husein Jusuf, Jalan T. Hamzah Bendahara, Jalan Elak Reuleut-Geulumpang Payong, dan kawasan strategis lainnya.
Tak hanya di pusat kota, durian Bener Meriah juga dijajakan hingga ke Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, bahkan sampai Kecamatan Kuta Blang. Mereka berjualan mulai pagi hingga larut malam.
Harga durian dijual bervariasi. Berkisar Rp20 ribu hingga Rp70 ribu per buah, tergantung besar kecilnya ukuran. Untuk durian berukuran kecil, dijual per tumpuk. Satu tumpukan berisi tiga hingga lima buah, dibanderol seharga Rp100 ribu hingga Rp250 ribu.
Menurut Ardian, seorang pedagang yang berjualan di kawasan Jalan Bireuen-Takengon, sekarang memang sedang musim panen durian di Bener Meriah, terutama di Timang Gajah. Namun, mereka terkendala pemasarannya karena akses jalan yang rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor.
‘Kami terpaksa menjualnya sendiri karena masih dalam kondisi bencana, tidak ada agen pengepul yang datang ke sana,” ujar Ardian kepada Kabar Bireuen, Jumat (16/1/2026) sore.
Dia mengungkapkan, sebenarnya harga buah beraroma kuat itu di kebun relatif lebih murah. Biaya mahal justru muncul dari ongkos angkut yang tinggi, akibat rusaknya infrastruktur pascabencana.
“Ongkos angkutnya yang bikin harga durian mahal. Jalan banyak yang putus, berlumpur tebal dan motor sering tergelincir saat mengangkutnya,” jelasnya.

Di beberapa titik, sebut Ardian, durian harus dilansir menyeberangi sungai melalui bentangan sling baja yang dipasang warga. Kondisi begitu, tertunya sangat berisiko bagi keselamatan.
“Kami harus ekstra hati-hati. Salah sedikit bisa jatuh ke sungai. Tidak ada pilihan lain, durian tetap harus dibawa ke Bireuen karena ini satu-satunya penghasilan bagi kami,” tutur Ardian.
Tak jarang, menurut dia, durian yang tidak habis terjual memaksa para pedagang harus bermalam di Bireuen. Ada di antara mereka yang memilih bergadang di lapak semalaman, demi bisa melanjutkan berjualan keesokan harinya.
Di sisi lain, kehadiran durian Bener Meriah disambut antusias warga Bireuen. Umumnya, penikmat durian di Bireuen membelinya dengan cara dikupas langsung di tempat, untuk dibawa pulang dan disantap bersama keluarga. Jika didapati ada durian yang rasanya kurang legit, bisa diganti dengan yang lain.
M. Nur, seorang warga Kota Juang, mengaku sudah beberapa kali membeli durian dari pedagang asal Bener Meriah. Selain karena kualitasnya, ada alasan empati yang mendorongnya membeli durian dari para korban bencana tersebut.
“Saya kasihan melihat mereka datang kemari jauh-jauh dari Bener Meriah dan medannya sangat sulit dilalui. Makanya, kalau harga durian agak mahal sedikit tidak masalah bagi saya, sekalian bisa membantu mereka” ujar M. Nur sambil memilih beberapa buah durian yang ukurannya agak besar.
Baginya, membeli durian dari warga Bener Meriah bukan sekadar untuk menikmati ‘raja buah’ itu, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat pedalaman tersebut yang sedang berjuang memulihkan ekonomi pascabencana.
“Rasanya tambah nikmat karena kita tahu di balik durian ini ada perjuangan berat dan penuh risiko yang harus mereka hadapi,” jelas M. Nur dengan raut wajah senang. (Suryadi)










