Senin, 2 Februari 2026

Habis Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Oleh: M. Zubair
Warga Masyarakat Bireuen

KEHIDUPAN manusia tidak pernah lepas dari dinamika ujian dan cobaan. Kesulitan hadir dalam berbagai bentuk, kemiskinan, bencana alam, sakit, kehilangan, kegagalan, hingga tekanan batin yang melemahkan semangat. Ujian atau cobaan tersebut saat ini sedang kita alami, terutama masyarakat Aceh yang terdampak besar musibah banjir bandang dan longsor. Dalam kondisi seperti itu, manusia kerap berada di persimpangan antara keputusasaan dan harapan. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, tidak membiarkan umatnya terjebak dalam keputusasaan. Al-Qur’an hadir membawa pesan optimisme dan keteguhan hati, salah satunya melalui prinsip agung: “Habis kesulitan pasti ada kemudahan.”

Ungkapan tersebut bukan sekadar pepatah moral, melainkan bersumber langsung dari firman Allah SWT dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6. Ayat ini menjadi landasan teologis sekaligus psikologis yang menanamkan keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu diiringi jalan keluar. Allah SWT berfirman: “Fa inna ma‘al ‘usri yusrā. Inna ma‘al ‘usri yusrā.” “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Menarik untuk dicermati, bahwa ayat ini diulang dua kali dalam redaksi yang hampir sama. Menurut para mufassir, pengulangan tersebut bukan tanpa makna, melainkan sebagai penegasan kuat agar manusia tidak meragukan janji Allah. Dalam kaidah bahasa Arab, kata “al-usr” (kesulitan) menggunakan kata sandang “al” yang menunjukkan kesulitan yang sama, sementara kata “yusrā” (kemudahan) datang dalam bentuk nakirah (tidak tertentu), yang mengisyaratkan banyaknya kemudahan. Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.

Prinsip ini menunjukkan bahwa kesulitan bukanlah keadaan permanen, melainkan fase sementara yang pasti diikuti oleh kelapangan. Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan optimisme yang realistis, bukan optimisme semu.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kabar gembira dari Allah kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Kesulitan yang dialami Nabi dalam menyampaikan risalah Islam, mulai dari penolakan, penghinaan, hingga ancaman, semuanya akan digantikan dengan kemenangan dan kemudahan. Tafsir ini menunjukkan bahwa janji kemudahan tidak selalu hadir secara instan, tetapi datang setelah kesabaran dan keteguhan.

Selain itu dalam hadist Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “ma‘al ‘usr” berarti bersamaan dengan kesulitan itu sendiri telah disiapkan kemudahan. Artinya, dalam setiap masalah sebenarnya telah tersimpan potensi solusi. Manusia sering kali tidak menyadarinya karena tertutup oleh rasa takut dan keluh kesah. Tafsir ini mengajarkan pentingnya ketenangan dan keyakinan dalam menghadapi ujian.

Selanjutnya dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menekankan dimensi psikologis ayat ini. Menurutnya, keyakinan bahwa kemudahan pasti menyertai kesulitan akan melahirkan kekuatan mental dan ketahanan jiwa. Orang yang beriman tidak akan mudah putus asa, sebab ia yakin bahwa penderitaan hanyalah jembatan menuju pertumbuhan dan kedewasaan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kesulitan merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan sarana pendidikan spiritual. Melalui kesulitan, manusia diuji keimanannya, dilatih kesabarannya, dan diarahkan untuk kembali kepada Allah. Dengan perspektif ini, kesulitan tidak lagi dipandang sebagai kutukan, melainkan sebagai proses pembentukan diri.

Kesabaran merupakan kunci utama untuk membuka pintu kemudahan. Al-Qur’an berulang kali mengaitkan sabar dengan pertolongan Allah. Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Kebersamaan Allah inilah yang melahirkan kemudahan, baik dalam bentuk solusi konkret maupun ketenangan batin. Dalam konteks ini, kemudahan tidak selalu berarti hilangnya masalah secara langsung, tetapi bisa berupa kekuatan hati untuk bertahan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Prinsip “habis kesulitan pasti ada kemudahan” sangat relevan dalam konteks sosial, terutama saat masyarakat menghadapi musibah, krisis ekonomi, atau bencana alam. Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk menjadikan cobaan kolektif sebagai momentum solidaritas dan perbaikan.

Dalam banyak peristiwa, justru setelah kesulitan besar muncul kesadaran sosial yang lebih kuat, semangat gotong royong, serta kebijakan yang lebih bijak. Ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an bahwa kemudahan sering hadir melalui kerja sama dan kepedulian antar manusia.

Dari sisi spiritual, keyakinan terhadap janji Allah menumbuhkan tawakal, yaitu sikap berserah diri setelah berusaha. Dari sisi psikologis, keyakinan ini membantu individu mengelola stres dan tekanan hidup. Banyak kajian menunjukkan bahwa harapan dan makna spiritual berperan besar dalam ketahanan mental seseorang.

Dengan demikian, ayat Al-Insyirah tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga memiliki implikasi nyata bagi kesehatan mental dan keseimbangan emosional Al-Qur’an memandang kesulitan sebagai sarana pendewasaan manusia. Nabi Muhammad SAW sendiri mengalami berbagai kesulitan, sebelum mencapai puncak keberhasilan dakwah. Hal ini menjadi teladan bahwa kemudahan sering kali datang setelah proses panjang yang penuh perjuangan.

Kesadaran ini mencegah umat Islam dari sikap instan dan mengajarkan pentingnya proses. Kemudahan yang diraih setelah kesulitan akan lebih bermakna dan membawa hikmah yang mendalam.

Dengan demikian dapat disimpulkan “Habis kesulitan pasti ada kemudahan” bukan sekadar ungkapan penghibur, melainkan prinsip hidup yang berakar kuat dalam Al-Qur’an dan tafsir para ulama. QS. Al-Insyirah ayat 5–6 menegaskan bahwa kesulitan dan kemudahan adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Setiap ujian mengandung harapan, dan setiap penderitaan menyimpan potensi kebaikan.

Dengan memahami pesan ini secara mendalam, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan sikap optimis, sabar, dan penuh keyakinan kepada Allah SWT. Pada akhirnya, kemudahan bukan hanya tujuan, tetapi juga anugerah yang membentuk manusia menjadi pribadi yang lebih kuat, bijaksana, dan beriman. Kita yang sedang dilanda musibah banjir bandang dan longsor percayalah janji Allah setelah semua ini mampu kita lewati pasti ada harapan baru yang cemerlang menanti.

Akhir tulisan ini saya persembahkan satu puisi penyejuk hati warga masyarakat yang sedang dilanda musibah. Semoga menjadi I’tibar untuk terus berusaha bangkit dari keterpurukan.

Sesudah Luka, Ada Cahaya

Di antara runtuhnya doa dan air mata,
kami belajar berdiri di atas sabar,
sebab Allah berfirman dengan penuh kasih:
“Fa inna ma‘al ‘usri yusrā” —
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Musibah datang bukan tanpa makna,
ia mengetuk hati yang lama terlelap,
mengajarkan bahwa dunia hanya persinggahan,
dan ujian adalah bahasa cinta Tuhan.

Tanah retak, rumah rebah,
namun iman tak ikut runtuh,
karena janji-Nya diulang dengan kelembutan:
“Inna ma‘al ‘usri yusrā” —
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Dalam gelap, kami menggenggam sabar,
seperti diperintah dalam Kitab Suci:
“Wasta‘īnū bish-shabri wash-shalāh”
mintalah pertolongan dengan sabar dan salat,
maka luka perlahan menjadi cahaya.

Hujan derita tak selamanya tinggal,
sebab Allah tak membebani melebihi kemampuan,
“Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā”
setiap jiwa diuji sesuai batasnya.

Dari puing-puing harap yang hampir padam,
tumbuh keyakinan yang lebih kuat,
bahwa setelah tangis panjang malam,
fajar kemudahan pasti menyapa.

Maka kami percaya,
di balik musibah ada rahmat tersembunyi,
di balik kesulitan ada jalan terbuka,
karena janji Allah tak pernah dusta—
setelah kesempitan,
datanglah kelapangan yang nyata.

[*]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Dipercayakan Pimpin PKB Aceh, HRD Ajak Kader Perkuat Soliditas dan Kebersamaan

0
KABAR BIREUEN, Jakarta - Anggota Komisi V DPR RI, H. Ruslan M. Daud (HRD), dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa...

Sumur Warga Tercemar Lumpur Banjir, Pemkab Bireuen Sigap Distribusikan Air Bersih ke Lokasi Terdampak

0
KABAR BIREUEN, Bireuen — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen sigap menangani dampak banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kecamatan, dengan memastikan ketersediaan air bersih...

Di Retret PWI, Kadiv Humas Polri Tegaskan: Kebebasan Pers Amanat Konstitusi yang Harus Kita...

0
KABAR BIREUEN, Bogor — Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri, Irjen Pol Johnny Edison Isir, menegaskan, kebebasan pers merupakan amanat konstitusi yang wajib dijaga bersama...

3.248 Unit Huntara Telah Selesai Dibangun di Aceh, Ditargetkan Rampung Semuanya Jelang Ramadhan

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Sebanyak 3.248 unit hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana di Aceh telah selesai dibangun. Capaian ini menjadi pijakan awal...

250 Mahasiswa Umuslim Terjun ke Desa Terdampak Bencana, Hadirkan Solusi Nyata Pemulihan Masyarakat

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Sebanyak 250 mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Kabupaten Bireuen, terjun langsung ke sejumlah desa terdampak bencana di Sumatra melalui Program...

KABAR POPULER

Dipercayakan Pimpin PKB Aceh, HRD Ajak Kader Perkuat Soliditas dan Kebersamaan

0
KABAR BIREUEN, Jakarta - Anggota Komisi V DPR RI, H. Ruslan M. Daud (HRD), dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa...

3.248 Unit Huntara Telah Selesai Dibangun di Aceh, Ditargetkan Rampung Semuanya Jelang Ramadhan

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Sebanyak 3.248 unit hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana di Aceh telah selesai dibangun. Capaian ini menjadi pijakan awal...

MDMC akan Terjunkan Relawan untuk Bersihkan Sumur Warga dari Material Banjir

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) akan menerjunkan relawan untuk membersihkan sumur warga dari material banjir. Hal...

Lama Masuk DPO, Terpidana Perkara Penipuan Ditangkap Tim Tabur Kejati Aceh di Samalanga

0
KABAR BIREUEN, Bireuen — Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh berhasil mengamankan terpidana kasus penipuan, Mulyadi alias Adi Bin M. Husen, setelah...

Sumur Warga Tercemar Lumpur Banjir, Pemkab Bireuen Sigap Distribusikan Air Bersih ke Lokasi Terdampak

0
KABAR BIREUEN, Bireuen — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen sigap menangani dampak banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kecamatan, dengan memastikan ketersediaan air bersih...