KABAR BIREUEN, Bireuen – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen berkolaborasi dengan Forum Anak Kabupaten Bireuen menggelar Lomba Tari Tradisional Aceh Ratoeh Bruek dan Tari Kreasi.
Kegiatan dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen, digelar di pentas utama halaman Pendopo Bireuen, Minggu 4 Oktober 2026, siang.
Lomba Tari Tradisional Aceh Ratoeh Bruek dan Tari Kreasi ini diperlombakan untuk tingkat Sekolah Dasar, Madrasah Madrasah Ibtidaiyah dan Sanggar.
Ketua Sanggar Meuligoe Jeumpa, Sadiah Mukhlis dalam arahannya mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk menyemarakkan peringatan HUT Bireuen yang ke-27.
Dan hari ini, Forum Anak Kabupaten Bireuen mengambil bagian untuk bisa berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan lomba tari tradisi.

Dikatakan Sadriah, dia sebenarnya sangat mengharapkan peserta yang mendaftar untuk mengikuti kompetisi pada hari ini diikuti banyak, agar bisa menampilkan karya dari tari tradisi ratoeh bruek.
“Namun, sampai penghujung batas waktu pendaftaran, ternyata hanya beberapa yang mendaftar. Ini berarti minimnya anak-anak kita di Kabupaten Bireuen yang mengetahui seperti apa sih tarian ratoeh bruek ini,” sebutnya.
Karena itu, dari tim panitia membuka peluang tarian tersebut dikolaborasikan atau dibuat kreasi.
Sehingga pendaftar-pendaftar berikutnya bermunculan untuk bisa mengadu skill dan kemampuan dari masing-masing dari perwakilan sekolah ataupun sanggar-sanggar yang ada di Kabupaten Bireuen.
“Kita berharap siapapun nanti yang terbaik dan juga yang tidak terpilih sebagai pemenang tidak perlu berkecil hati. Yang pastinya kita sudah memulai mengenal dan mengenang melestarikan tarian-tarian khas daerah yang memang patut kita lestarikan agar tidak hilang oleh kemajuan-kemajuan budaya-budaya luar atau budaya barat,” pesannya.

Sadriah berharap anak-anak di Bireuen tetap mencintai dan juga mempelajari apapun yang menjadi tradisi daerah, harus dipelihara, dijaga, apalagi di Bireuen sudah ada yang namanya cagar budaya.
Ini artinya, sebut Sadriah, harus melestarikan budaya-budaya daerah agar bisa dikenang oleh anak cucu di masa yang akan datang, terus menggali, terus mencari apapun terkait tradisi daerah. Jangan sampai hilang ditelan waktu.
Dia juga berharap semua perwakilan dari sekolah, baik itu guru, pejabat pemerintahan, keuchik (kepala desa), camat, ataupun siapapun sebagai pejabat di pemerintahan Kabupaten Bireuen bisa sama-sama menjaga dan melestarikan budaya daerah.
“Setiap tahunnya kegiatan ini akan dilaksanakan untuk dijadikan sebagai kegiatan rutin dan bisa menggali potensi-potensi dari anak-anak kita dan juga keahlian-keahlian dari setiap daerah, kecamatan, dan juga desa yang ada di Kabupaten Bireuen, agar tetap maju, anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas, berkualitas, dan punya daya saing di tingkat global,” harapnya.(Ihkwati)












