KABAR BIREUEN, Peusangan – Sebanyak 17 tim perwakilan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) se-Kabupaten Bireuen mengikuti Lomba Toet Budee Trieng atau membakar meriam bambu khas Aceh, memperebutkan Piala Bupati Bireuen 2026. Lomba ini digelar untuk melestarikan tradisi leluhur Aceh sekaligus memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen.
Lomba tersebut dibuka Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, S.T., di Lapangan Paya Kareung, Kecamatan Peusangan, Sabtu (10/10/2026) sore.
Lomba Toet Budee Trieng itu tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional yang sarat nilai budaya kepada generasi muda. Tradisi membakar meriam bambu yang dahulu akrab dengan kehidupan masyarakat Aceh ini diharapkan tetap lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman.
Dalam sambutannya, Bupati Mukhlis menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Bireuen tidak hanya memiliki sejarah perjuangan dan kekayaan kuliner, tetapi juga tradisi lokal yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.

“Mari jadikan perayaan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen ini sebagai momentum untuk mempererat silaturahmi, menyalakan kembali semangat kebersamaan, dan terus merawat Bireuen tercinta dengan karya, kerja nyata, dan cinta budaya,” ujar Mukhlis.
Dia berharap lomba tersebut menjadi wadah untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kesenian Aceh. Bupati juga mengingatkan dewan juri agar melakukan penilaian secara objektif, adil, dan transparan berdasarkan kualitas penampilan peserta.
Ketua panitia, Azmi, S.Kom., M.M., mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen. Selain menjaga kelestarian tradisi budaya takbenda berupa Toet Budee Trieng, lomba ini juga menjadi ruang ekspresi budaya yang positif dan memiliki nilai estetika bagi masyarakat.
Menurut Azmi, penilaian dilakukan oleh dewan juri yang kompeten di bidangnya. Aspek yang dinilai meliputi teknik memainkan alat dan atraksi kelompok, kualitas suara letusan selama 10 menit, konsep penyajian, keselarasan kostum atau identitas budaya, serta estetika dekorasi lokasi masing-masing tim.

Panitia menyediakan hadiah sebesar Rp15 juta bagi para pemenang. Juara pertama akan memperoleh Piala Bupati, piagam penghargaan, dan uang tunai Rp3,8 juta. Juara kedua mendapatkan Rp3,2 juta, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp2,7 juta, masing-masing disertai Piala Bupati dan piagam penghargaan.
Selain itu, kepada Juara Harapan I diberikan hadiah Rp2 juta, Juara Harapan II Rp1,8 juta, dan Juara Harapan III Rp1,5 juta. Para pemenang kategori harapan juga mendapatkan Piala Bupati Bireuen dan piagam penghargaan.
Adapun 11 kelompok lainnya, juga diberikan piagam penghargaan dan subsidi pembinaan sebesar Rp1 juta per kelompok. (Suryadi)











