
KABAR BIREUEN, Jakarta – Zikri Daulay, aktor berbakat asal Bireuen, Aceh, kembali menorehkan prestasi di dunia hiburan tanah air. Putra dari Drs. M. Hasan, mantan Camat Peudada, Kabupaten Bireuen, ini dipercaya sebagai pemeran utama dalam serial terbaru berjudul “Cinta di Ujung Sajadah”, yang tayang perdana pada Rabu, 26 Februari 2025, pukul 20.05 WIB di SCTV.
Serial yang diproduksi oleh SinemArt dan Ess Jay Studios ini diadaptasi dari novel best-seller karya Asma Nadia. Disutradarai oleh Anurag Vaishnav, drama ini juga menghadirkan aktris Cut Syifa dan aktor Achmad Megantara sebagai lawan main Zikri.
Ayahnya Zikri, M. Hasan, mengungkapkan rasa bangga dan syukur atas pencapaian putranya itu. “Alhamdulillah, Zikri terus meniti karirnya di dunia hiburan. Kini ia kembali tampil sebagai pemeran utama dalam serial drama Cinta di Ujung Sajadah yang tayang perdana malam ini,” ujar M. Hasan dengan terharu kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/2/2025) malam.
Zikri Daulay lahir di Bireuen pada 3 Mei 1995. Ia anak kedua dari empat bersaudara, putra pasangan Drs. M. Hasan (mantan pejabat Pemkab Bireuen) dan Nazariah, pensiunan guru di Bireuen. Bakat seni tampaknya mengalir dalam keluarga tersebut. Adiknya, Syakir Daulay, juga mengikuti jejak Zikri sebagai aktor.
Mengawali karir sejak 2017, Zikri langsung mencuri perhatian lewat perannya dalam serial Dear Nathan the Series, di mana ia memerankan dua karakter sekaligus, Nathan dan Daniel. Setahun kemudian, ia merambah dunia film dengan debut di Lima Penjuru Masjid sebagai Abian.
Kini, dengan perannya di Cinta di Ujung Sajadah, Zikri semakin membuktikan eksistensinya di industri hiburan. “Semoga karir putra kami ini terus berjalan dengan baik,” harap M. Hasan yang sudah beberapa tahun lalu berdomisili di Jakarta bersama keluarganya.
Kehadiran Zikri dalam dunia seni peran tidak hanya membanggakan keluarganya, tetapi juga masyarakat Aceh, khususnya Bireuen. Kesuksesannya menjadi bukti bahwa talenta dari daerah juga mampu bersaing di industri hiburan nasional. (Suryadi)