40 Anak Gampong Dampingan GeRAK di Simpang Mamplam Putus Sekolah, Ini Faktornya

KABAR BIREUEN-Di Kabupaten Bireuen, menurut data 2015, sebanyak 8000 anak putus sekolah karena berbagai faktor.

Di enam gampong dampingan GeRAK di Kecamatan Simpang Mamplam, terdapat 40 anak putus sekolah.

Faktor yang menyebabkan anak-anak itu putus sekolah, diantaranya karena faktor ekonomi, kurang pedulinya orang tua akan pendidikan anaknya, akses transportasi yang sulit,  orang tua yang sakit, sehingga si anak harus menjaga adiknya.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang digelar GeRAK, Selasa (30/1/2018) di salah satu hotel di Bireuen.

Jumlah anak putus sekolah terbanyak di Gampong Krueng Meuseugop 14 orang, alasanya karena kurang berminat sekolah, lalu di Gampong Paku, ada 4  anak putus sekolah.

Gampong Balee ada  anak putus sekolah, di Gampong Meunasah Asan, sebanyak 5 orang.

Di Gampong Keude Tambu terdapat 4 anak putus sekolah, dimana mereka tak melanjutkan jenjang pendidilan usai tamat SD dan SMP serta di Blang Kuta Dua Meunasah sebanyak, 9 anak putus sekolah.

Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Bireuen, Dewi Utari menyebutkan, berdasarkan pengkajian sosial, hal yang  menjadi kendala utama putus sekolah justru mindset si anak itu sendiri atau orang tua yang memang tak mau anaknya sekolah.

“Kita pernah kasih seragam sekolah, ada biaya dari Program Keluarga Harapan (PKH)  dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), tetapi ternyata anaknya sendiri yang memang tak mau sekolah. Kita minta difasilitsi terutama di enam gampong dampingan tersebut untuk memberi pemahaman kepada anak dan orang tua,” sebut Dewi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Bireuen Muhamamad Nasir, M,Pd menyebutkan, memang yang susah itu jika si anak sendiri yang tak berminat untuk sekolah.

Karena itu, katanya, pemerintah perlu membuat kebijakan atau regulasi yang mengupayakan agar si anak mau sekolah, misalnya saja dengan memberikan sanksi kepada orang tua jika anaknya tak sekolah.

“Seperti yang diterapkan di salah satu daerah di Jawa, orang tuanya yang diberi sanksi jika anaknya tak sekolah,” sebut Muhammad Nasir.

Disebutkan Nasir, jika terkait masalah ekonomi, misalnya tak punya biaya, bisa dicari solusi, karena ada Program Indonesia Pintar (PIP) lalu ada PKH dan dana sumber lainnya.

Demikian juga dengan akses jalan, menurut dia, sudah terpenuhi dan tidak sulit, karena 6 km akses jalan dari rumah ke sekolah bisa dilewati dengan berjalan kaki.

“Putus sekolah itu, ada tiga macam, yaitu putus sekolah di tengah jenjang, yaitu tak mau menlanjutkan sekolah ditengah-tengah masa sekolah, lalu diakhir jenjang, tak lulus ujian, tak mau sekolah lagi dan  diakar jenjang, yaitu begitu lulus SD tak melanjutkan sekolah lagi,” papar Nasir.

Dana Desa bisa dialokasikan untuk membantu anak berprestasi dan miskin di gampong, sesuai Pergub Tahun 2018.

Tentu saja hal itu harus dicari jalan keluar dan solusinya. (Ihkwati).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Direktur Penais Kemenag RI Hadiri Peringatan Hari Santri di Pesantre Modern Al Zahrah

0
KABAR BIREUEN, Juli - Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, Lc., M.A., menghadiri peringatan...

Keuchik Saipuni Ajak Masyarakat Bersatu Jaga Warisan Ulama dan Masa Depan Yayasan Almuslim Peusangan

0
KABAR BIREUEN, Jangka — Keuchik Bugak Blang, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Saipuni, S.Pd.I., mendesak pengelolaan Yayasan Almuslim Peusangan dilakukan secara transparan dan akuntabel, terutama...

Kolaborasi Faperta UNIKI dengan Desa Kalasegi, Buka Peluang Ekonomi Baru Berbasis Wisata

0
KABAR BIREUEN, Aceh Tengah – Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) melalui Fakultas Sains Pertanian dan Peternakan (Faperta) mendorong pengembangan potensi wisata Desa Kalasegi, Aceh...

Keuchik Paya Aboe Suarakan Transparansi Pengelolaan Harta Wakaf dan Dukung Pergantian Kepemimpinan Yayasan Almuslim...

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Keuchik Paya Aboe, Kecamatan Peusangan, Fajri, S.E., menyuarakan transparansi pengelolaan harta wakaf dan penguatan tata kelola Yayasan Almuslim Peusangan. Ia...

Lahirkan Kader Ulama Muda Berprestasi, PKU Tahun 2026 Berakhir Sukses

0
KABAR BIREUEN, Kota Juang– Pendidikan Kader Ulama (PKU) Tahun 2026 telah berakhir sukses dengan melahirkan kader ulama muda yang berprestasi. Kegiatan yang digelar Majelis Permusyawaratan...

KABAR POPULER

Sejumlah Keuchik di Jangka Serukan Transparansi Harta Wakaf dan Musyawarah Terbuka demi Masa Depan...

0
KABAR BIREUEN, Peusangan – Kepedulian terhadap masa depan Yayasan Almuslim Peusangan makin menguat. Sejumlah keuchik di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen mengharapkan proses pergantian kepemimpinan...

Keuchik Paya Aboe Suarakan Transparansi Pengelolaan Harta Wakaf dan Dukung Pergantian Kepemimpinan Yayasan Almuslim...

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Keuchik Paya Aboe, Kecamatan Peusangan, Fajri, S.E., menyuarakan transparansi pengelolaan harta wakaf dan penguatan tata kelola Yayasan Almuslim Peusangan. Ia...

Beredar Isu, Proses Perubahan Akta Notaris Yayasan Almuslim Peusangan Tahun 2022 Kuras Biaya Rp460...

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Musyawarah IX Yayasan Almuslim Peusangan (YAP) yang berlangsung di Matangglumpangdua pada 28 November 2020, meninggalkan sejumlah teka teki. Mulai dari...

Keuchik Saipuni Ajak Masyarakat Bersatu Jaga Warisan Ulama dan Masa Depan Yayasan Almuslim Peusangan

0
KABAR BIREUEN, Jangka — Keuchik Bugak Blang, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Saipuni, S.Pd.I., mendesak pengelolaan Yayasan Almuslim Peusangan dilakukan secara transparan dan akuntabel, terutama...

Kunjungan Pasien RSUD dr Fauziah Bireuen Meningkat, Direktur: Semua Pasien Dilayani Sesuai Tingkat Kegawatdaruratan

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Manajemen RSUD dr Fauziah Bireuen memastikan tidak ada pasien yang diabaikan atau ditelantarkan, meskipun saat ini sedang menghadapi peningkatan jumlah...