KABAR BIREUEN-Mukhlis (50) seorang warga miskin di Kecamatan Peudada Kabupaten Bireuen, dalam keseharian beliau berprofesi sebagai pencari ikan (nelayan) salah satu bot di Pusong Kota Lhoksemawe untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Setiap satu minggu hingga satu bulan sekali istrinya Nazariah (34) serta 7 orang anaknya menunggu kepulang sang ayah di rumah yang terbuat dari karet plastik hitam seadanya berlantaikan tanah, beratap daun rumbia yang sudah bocor dengan kondisi rumah sudah miring dan tidak layak huni.

Kala musim hujan tiba menjadi sebuah petaka baginya untuk mengunggsi ke rumah mertua menghindari banjir, keadaan ini dijalani Mukhlis selama 3 tahun ini.

Kini keluarga mukhlis merasa senang dan dapat tersenyum lebar setelah setelah serah terima kunci rumah bantuan layak huni dari Barisan Muda Ummat (BMU) yang dibangun tepat di sisi kanan rumahnya.

Penyerahan kunci dengan kode Rumah BMU 014 diserahkan langsung oleh Imam Besar BMU Tgk. H. M. Yusuf A Wahab atau sapaan akrabnya Tu Sop yang diterima Nazariah (34) warga miskin Gampong Blang Geulumpang, Kecamatan Peudada Kabupaten Bireuen (22/12/2018) Sabtu sore mewakili suaminya yang sudah 7 hari pergi melaut.

Dijelaskan Nazariah, mereka mempunyai satu anak perempuan yang masih balita serta 6 anak laki-laki masih duduk dibangku SD dan SMP, sementara pendapatan suaminya rata-rata Rp 300-500 ribu sekali pulang melaut.

“Untuk keperluan kebutuhan hidup saja tidak memadai kadang-kadang harus pulang kerumah ibunya untuk meminta beras dan keperluan lain, belum lagi uang jajan dan biaya sekolah serta biaya pendidikan salah satu anaknya di pesantren,” sebutnya.

Tgk. Muhammad Yusuf Nasir Ketua BMU Pusat yang lebih dikenal dengan sebutan Abiya Rauhul Mudi menjelaskan bantuan rumah BMU 014 ini hasil kerja sama TK Kartika Jaya dan BMU.

“Selain donatur kita di BMU TK Kartika Jaya juga ikut andil sekaligus yang rekomendasi rumah ini, wali-wali murid ikut menyumbang sebagai bentuk sugesti terhadap pendidikan kepedulian sosial bagi anak-anak usia dini,” katanya.

Abiya menambahkan Donasi BMU Peduli dibuka 7 – 30 November 2018 dengan donasi yang masuk Rp. 25.616.000, dari 288 orang donatur. BMU hadir hari ini tidak untuk mengkritik atau melawan siapapun, BMU hadir hanya membantu pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan.

Sementara itu Tu Sop Jeunieb selaku Imam Besar BMU dalam pidato singkatnya mengatakan rumah berdinding plastik ini salah satu bukti Ummat islam saat ini mengalami krisis sosial.

“Orang Aceh hari ini gagal menumbuhkan tatanan sosial dalam pemerintahan dan Ummat islam Aceh sendiri, kita mengalami degredasi kepedulian sosial yang telah dibangun orang Aceh terdahulu,” kata Tu sop.

Dia menambahkan hari ini rumah BMU 014 sudah kita bangun, tetapi sunnah Rasulullah yang peka terhadap kepedulian sosial sesama umat belum teralisasi.

Hal ini menjadi satu boomerang keedepan Jangan sampai kekuatan sosial agama lain masuk dan mengambil anak cucu kita untuk merubah keyakinannya dengan iming-iming harta seperti kejadian baru-baru ini.

Mak, katanya, harus membuat benteng dalam tatanan sosial Ummat islam kedepan.Kita hari ini hidup senang jangan berpikir anak cucu kita nanti bisa merasakan hal yang sama.

“Saya pernah bertemu dengan salah satu anak cucu keturunan Raja Aceh yang saat ini hidup dalam kesusahan, tidak sama dengan yang dirasakan dijaman kakek-kakenya yang terdahulu” kisah Tu Sop sebagai salah satu contoh tatanan sosial orang Aceh. (Al Fadhal/Humas BMU Pusat)

BAGIKAN