KABAR BIREUENBangunan Pasar Sayur di Pasar Induk Bireuen di  Desa Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang yang telah dibangun Pemkab Bireuen dan telah diresmikan pemakaiannya, hingga saat ini belum ditempat para pedagang sayur.

Para pedagang sayur menolak dan tidak mau menempati pasar sayur yang dibangun permanen karena dindingnya tertutup. Sehingga mengakibatkan kondisi ruangan pasar sayur panas tidak bebas udara.

Selain itu, juga kepanasan tidak hanya bagi para pedagang sayur, warga masyarakat yang berbelanja sayur mayur dalam bangunan pasar sayur juga kepanasan.

Kadis Penanaman Modal, Perdagangan Koperasi dan UKM Bireuen, Jailani,SP, MSM yang dikonfirmasi Kabar Bireuen melalui Kabid Perdagangan, Cut Armanusah,SE di ruang kerjanya, Senin (29/10/2018) membenarkan bangunan pasar sayur di Pasar Induk Bireuen yang sudah diresmikan pemakaiannya beberapa bulan lalu hingga saat ini belum ditempati pedagang sayur. Mereka menolak menempatinya karena kondisi ruangan bangunan panas tertutup dinding.

Menurut Cut Armanusah,SE, dinding bangunan pasar sayur bagian atas dalam waktu dekat akan dibongkar disesuaikan sesuai kebutuhan para pedagang sayur agar kondisi ruangan pasar sayur tidak panas.

Dia berharap, para pedagang sayur yang belum menempati lapak pasar sayur harap bersabar, menunggu renovasi dinding pasar sayur akan dibongkar dalam waktu dekat.

“Para pedagang sayur dan pedagang K5 dihimbau wajib menjaga kebersihan dan ketertiban pasar induk agar tetap bersih dan rapi dan dilarang mendirikan kios-kios liar yang dapat menimbulkan kesemrautan pasar induk,” harap Cut Asmanusah.

Ditanya tentang pengawasan Hari Pekan di Kabupaten Bireuen, Cut Asmanusah mengatakan, dulu saat masih ada Dinas Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Pertamanan Bireuen, hari pekan dibawah pengawasan Dinas Pasar.

Tetapi sejak Dinas Pasar dilebur, sebutnya,  belum lagi dibawah pengawasan Dinas Penanaman Modal Perdagangan Koperasi dan UKM.

Dikatakan, pasar uroe gantow (hari pekan mingguan) di Kabupaten Bireuen, Selasa di Gandapura, Sabtu di Kota Bireuen, Jumat di Cot Loreng, Rabu di Peudada, Kamis di Jeunieb dan setiap hari Rabu di Samalanga, merupakan pekan pemberdayaan ekonomi rakyat pedesaan.

Pantauan Kabar Bireuen, di pasar Uroe Gantow di Kabuoaten Bireuen saat ini pengawasannya tidak jelas. Padahal pasar Uroe Gantow meski yang melibatkan ribuan pedagang kecil kaki lima tetapi jika dikelola dengan baik akan memperoleh PAD Pemkab Bireuen yang besar.

Ainal Mardhiah salah seorang pedagang kecil kaki lima Uroe Gantow yang ditemui Kabar Bireuen mengeluh. Pasalnya, sejak Dinas Pasar sudah dilebur keluhan-keluhan pada pedagang kaki lima tidak tahu lagi harus mengadu kemana.

Sebab, pengutipan retribusi pasar disetiap hari pekan hanya dikutip Haria (pengutip retribusi) pasar tanpa memberikan karcis retribusi, tanpa mengatur ketertiban para pedagang kaki lima.

Dikatakan, dia pernah diusir dilapaknya di Pasar Peudada, oleh seorang pedagang kaki lima baru. Padahal dia sudah belasan tahun menempati lapaknya di pasar Rabu Peudada.

Pengusiran yang dialami kata Ainal Mardhiah tidak tahu harus mengadu kemana, karena Dinas Pasar tidak ada lagi. Haria hanya memungut retribusi saja.

“Kemana harus masuk kutipan retribusi pasar yang dikutp Haria tidak jelas, sedangkan ketertiban pasar tidak ada lagi yang mengurusnya,” kata dia.

Ainal Mardhiah menyarankan agar hari pekan di Kabupaten Bireuen dapat diawasi langsung Dinas Penanaman Modal Perdagangan Koperasi dan UKM, agar pemasukan PAD Pemkab Bireuen jelas.

“Memang itu retibusi peng grik (uang receh), kalau ribuan pedagang kaki lima membayar retribusi pasar hari pekan, yang jelas akan dapat menghasilkan PAD Pemkab Bireuen yang besar,” ujar Ainal Mardhiah. (H.AR Djuli).

BAGIKAN