KABAR BIREUENNetwork of International Education and Training for Aceh (NIET Aceh) resmi terbentuk melalui rapat secara online yang diikuti para perwakilan pelajar Aceh dari berbagai negara di belahan dunia pada 1 April 2018 lalu.

NIET Aceh merupakan sebuah forum silaturrahmi resmi yang menghimpun pelajar Aceh dunia dengan terbuka, bersifat sosial, tidak memihak dan tidak terikat pada organisasi politik manapun.

Selain sebagai ajang silaturrahmi Aneuk Aceh Ban Sigom Donya, tujuan pembentukan NIET Aceh secara general juga untuk membantu pemerintah Aceh dalam meningkatkan kualitas pendidikan Aceh bagi kaum muda.

Terbentuknya organisasi tersebut secara resmi, sebelumnya telah didahului dua kali rapat. Rapat perdana berlangsung pada bulan Maret lalu. Dalam rapat tersebut, dibahas tentang rencana pembentukan forum, visi-misi serta pengusulan nama untuk organissai yang akan dibentuk.

Rapat kedua berlangsung via Hangouts pada 1 April lalu. Rapat yang diadakan untuk penentuan nama organisasi ini, diikuti perwakilan pelajar Aceh di berbagai negara dunia yang sudah tergabung dalam grup WatsApp ‘Rapat Pelajar Aceh Dunia’.

Mereka terdiri dari Mulia Mardi dan Fauzan Muttaqin (Tiongkok, Cina), Reza Fahmi (Jerman), Riyadi S Harun (Libya), Nisa dan Lia Lisyati (Australia), Hilda Arifya (Polandia), Hanifa Hasnur (Rusia), Bima Rizky dan Haekal (Malasia), Bania Putri (Korea Selatan), Arif Fadhillah (Maroko), Khalid Muddatsir (Mesir), Darlis Aziz (Turki), Jufriadi (Brunai Darussalam), Yunalis Abdul Gani (Yaman), Nuval Rizqy (Arab Saudi), Firdaus Maulana (Tunisia), Mujiburrahman (India), Maghfirah (Amerika), Masnika Fitry (Jepang), Suardi (Inggris) dan beberapa pelajar lainnya.

Sesuai dengan nama NIET Aceh yang sangat mempunyai arti mendalam, baik secara singkatan maupun kepanjangan, dengan niat yang baik, menjaga marwah Aceh hingga ke mancanegara. Organisasi ini nantinya akan membangun karakteristik Aceh kepada setiap pelajar Aceh di berbagai negara. Dengan begitu, akan tertanam rasa cinta terhadap Aceh, meski jauh berada di ujung dunia. Tepatnya, “Tuboh di Rantau Hate di Nanggroe”.

Selain itu, NIET Aceh juga sebagai gerbang untuk mempromosikan Aceh ke luar negeri. Dengan memperluas jaringan pendidikan melalui pelajar Aceh yang sedang menuntut ilmu di luar negeri dan membangun Aceh setelah kembali ke negeri nantinya.

Sebenarnya, pembentukan Forum Aceh Ban Sigom Donya ini sudah direncanakan oleh beberapa pelajar Aceh dari tahun 2017 lalu. Namun, baru terealisasikan saat ini.

Hal tersebut, karena terkendala cara mengumpulkan pelajar-pelajar Aceh di seluruh negara belahan dunia. Hingga saat ini, NIET Aceh masih berusaha mengumpulkan sekaligus mendata pelajar-pelajar Aceh di berbagai negara dunia yang belum bergabung dalam forum ini.

Informasi ini dibenarkan Ketua ‘Rapat Pelajar Aceh Dunia’ sekaligus sebagai ketua sementara forum silaturrahmi ini, Mulia Mardi. Mahasiswa Aceh yang sedang menempuh study di Tiongkok, Cina, itu berharap, semoga dengan terbentuknya NIET Aceh ini bisa membantu sekaligus berdedikasi kepada Nanggroe Aceh dalam mengembangkan kapasitas pendidikan Aceh di masa mendatang. (Jurnalis Warga/Yunalis Abdul Gani, B.ScMahasiswa pascasarjana asal Simpang Mamplam, alumnus Ummul Ayman, Samalanga, dan perwakilan rapat dari Pelajar Aceh di Provinsi Hadhramaut, Yaman)

 

 

BAGIKAN