Arianto saat menerima hadiah top score.

KABAR BIREUEN – Perhelatan Kompetisi Sepak Bola Liga 3 Nasional baru saja usai. Skuadra Aceh United Footbal Club (AUFC) sukses meraih juara 3. Raihan tersebut sekaligus memastikan klub satu-satunya dari Aceh ini promosi ke liga 2 musim depan, setelah meredam PSAD Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam laga yang digelar di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (17/12/2017) lalu itu, Aceh United menang 2-0. Kemenangan ini, berkat gol yang dicetak Arianto pada menit 15 dan Assanur Rijal menit 60.

Namun, siapa sangka di balik kesuksesan itu, Arianto dinobatkan sebagai top score (pencetak gol terbanyak). Prestasi tersebut berhasil diraih, setelah striker asal Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, ini sukses membukukan tujuh gol dari sembilan partai yang mereka lakoni di Kompetisi Liga 3 Nasional.

Tentunya, keberhasilan meraih top score di even bergengsi tingkat nasional tersebut, tidak semudah membalik telapak tangan. Di samping kekompakan tim, juga dibutuhkan kemampuan individual seorang striker dalam mengolah si kulit bundar, agar bisa menghasilkan banyak gol.

Pemuda berewokan kelahiran 11 Agustus 1991 di Desa Alue Dua, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen tersebut, baru saja membuktikan dapat menyandang gelar membanggakan itu. Namun, keberhasilan dirinya menunjukkan prestasi di kancah persepakbolaan nasional tersebut, dilalui dengan penuh tantangan.

Di sebuah warkop di kawasan Leubu, Kecamatan Makmur, Jumat (22/12/2017), Arianto menceritakan sekilas tentang perjalanan karir sepak bolanya.

Menurut dia, hobi bermain sepak bola sudah tampak sejak dirinya masih mengecap pendidikan dasar di SD Negeri 2 Batee Dabai. Setiap pukul 16.00, dia berlatih bareng dengan para senior di kampungnya. Lapangan Persada Alue Dua yang berada dekat rumahnya, selalu dimanfaatkan untuk bermain bola bersama teman-teman seusianya ketika itu.

“Kalau saya mendengar suara bola di lapangan, kaki saya terus bergerak-gerak,” kisah Arianto.

Setelah menamatkan pendidikan dasar tahun 2004, Arianto berangkat melanjutkan pendidikannya ke SMP Islam Al-Falah di Pesantren Terpadu Abu Lam U, Aceh Besar.

Namun, kecintaan terhadap sepak bola terus didalami pria atletis ini. Setiap Senin dan Kamis, dia selalu membeli Tabloid Bola, untuk mengikuti perkembangan sepak bola Liga Indonesia maupun luar negeri. Sejumlah tipikal pemain ternama Aceh juga dijadikan sebagai idolanya, semisal Rizal Leubu, Mukhlis Sawang dan Faisal Jalal.

“Saya suka membaca berita tentang Bang Jal Leubu, Mukhlis dan Faisal Jalal,” ungkap Arianto.

Bakat terpendam yang dimiliki Arianto mulai tersalur kala dia duduk di bangku SMA 1 Makmur. Sejak 2008 Arianto mulai bergabung dengan klub ternama di Kabupaten Bireuen, yaitu Persipura Gandapura yang mengikuti jejak seniornya, Rizal Leubu.

Padahal kala itu, tidak mudah bisa bersanding dengan kawan kawan setimnya yang sudah punya segudang pengalaman. Apalagi, Persipura Gandapura termasuk tim tangguh tempat bercokol sederet pemain andal sekelas liga, seperti Syahrizal, Rizal Leubu, Azhar Umar, Mukhlis Sawang dan lainnya.

“Saya sempat dianggap remeh oleh penonton, ketika membela Persipura bersama mereka,” beber Arianto.

Namun, termotivasi oleh kepesimisan pendukung terhadapnya, dia terus berlatih untuk bisa menepis keraguan penggemar Persipura. Akhirnya, lewat polesan tangan dingin pelatih M Dahlan Yusuf, kemampuan Arianto bisa disandingkan dengan abang seperguruannya, seperti Rizal Leubu dan pemain andalan lainnya.

Keuletan berlatih serta kerja keras yang dilakoni Arianto membuat pelatih Persipura M. Dahlan mempercayai dirinya sebagai starter di posisi striker pada setiap pertandingan, sehingga dia bisa bersaing dengan abang-abang letingnya.

“Saya sangat berterima kasih kepada beliau (M. Dahlan Yusuf) yang selalu membangkitkan semangat saya, sehingga saya jadi seperti ini,” sebut Arianto.

Dalam perjalanan karirnya, selain bermain di klub Persipura Gandapura, Arianto juga pernah bermain di Liga Pendidikan Nasional (LPI) pada tahun 2010 bersama Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh. Kemudian 2011, dia membela Bireuen United pada Liga Aceh dan berhasil meraih juara I.

Kepakan sayap Sarjana Pendidikan Olahraga Universitas Serambi Mekkah (tamat tahun 2015) ini, terus berkembang. Klub Persikaba Aceh Utara tertarik mengontrak dia selama dua tahun 2011-2012. Selepas itu, Arianto berlabuh ke tim kabupaten kelahirannya, PSSB Bireuen (2013 – 2014).

Selain di PSSB Bireuen, dia juga sempat membela Bireuen FC pada 2015. Kemudian, mengadu nasib di kabupaten tetangga, merumput di klub Pidie Jaya yang berlaga di Liga 3 Nasional 2016.

Kini, striker jangkung yang yang telah ditinggal pergi ayahanda tercintanya, Raden Insya, tampil membela Aceh United. Klub sepak bola kebanggaan masyarakat Aceh ini pun berhasil meraih juara III Liga 3 Nasional baru baru ini.

Bukan hanya itu, aksi heroik selama sembilan kali pertandingan bersama klub milik HM. Zaini Yusuf tersebut, menempatkan putra Makmur ini berjaya sebagai top score dan berhak mendapat hadiah uang Rp15 juta.

Tempaan pelatih Asyaari Lubis selama di Aceh United FC, semakin memantapkan animo Arianto untuk melangkah ke kasta liga berikutnya. Ke depan, dia berharap bisa bermain di Liga I Indonesia.

“Dengan usaha, kerja keras serta doa, target saya bisa main di Liga I,” harap Arianto.

Sepulang dari Pulau Jawa mengikuti Liga 3 Nasional bersama Aceh United FC, Arianto tetap konsisten berlatih di kampung halamannya. Sebab, dia menyadari, nanti persaingan pemain setingkat liga tersebut sangat ketat. Karena itu, dirinya tidak boleh lalai dan harus tetap menjaga kebugaran tubuh.

“Jika hanya mengandalkan predikat top score dan tidak latihan, kita bakal ketinggalan nantinya,” jelas talenta muda ini.

Dengan torehan prestasi Arianto saat ini dan juga Rizal Leubu sebelumnya, kita harapkan kelak bisa menjadi barometer untuk melahirkan bibit-bibit unggul lainnya di Kecamatan Makmur, khususnya dan Bireuen serta Aceh pada umumnya. Semoga. (Faisal Ali)

BAGIKAN