KABAR BIREUEN-Mahasiswa dan Pemuda Aceh di Jakarta ikut serta dalam memperingati Refleksi 14 Tahun Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia.

Mereka  menggelar diskusi Publik, yang  berlangsung di mess Aceh pada Rabu 14 Agustus 2019.

Ketua Panitia, Agussalim kepada  Kabar Bireuen mengatakan, acara tersebut merupakan gagasan dari mahasiswa Aceh yang tinggal di Jakarta saat ini.

“Awal mula gagasan dialog publik ini lahir, melalui diskusi kecil-kecilan dengan beberapa Mahasiswa Aceh yang berada di jakarta dengan keprihatinan terhadap kondisi aceh saat ini” sebut Agussalim, Selasa, (13/8/2019).

Pria yang akrab disapa Aqsal ini juga menyampaikan, konflik yang terjadi di Aceh selama 30 tahun, yang telah menelan korban sebanyak 2.000 orang.

“Ini sebagaimana yang disampaikan oleh Amnesti Internasional, korban DOM pada 1993 sebanyak 2.000 orang, yang menimpa penduduk sipil, termasuk anak-anak dan orang tua yang dibunuh di Provinsi Aceh tentu menjadi sejarah kelam bagi masyarakat Aceh,” ungkapnya.

Aceh, katanya, sebelum proses penandatanganan MOU menjadi daerah yang paling ditakuti karena eskalasi perang dan kekerasan yang tinggi.

“Setelah MOU, Aceh kini perlahan-lahan berubah menjadi daerah yang aman dan bebas konflik,” kata Agsal.

Dia menyebutkan ada beberapa narasumber yang bakal mengisi acara tersebut.

“Akan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan A Djalil, Ketua Umum SIRA yang juga mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar, senator Aceh Fachrul Razi, Juha Christensen, dan lain-lain”, pungkas Agsal. (Munawar)

BAGIKAN