KABAR BIREUEN-Muraz Riksi merupakan nama pena dari pemuda kelahiran Bireuen dengan asli Muhammad Razanur (25). Pemuda satu ini sudah pernah menerbitkan buku pertamanya pada tahun 2016 dengan judul Pikiran 91.Buku pertamanya berkisah tentang perjuangan hidup dan kumpulan puisi kehidupan.

Tahun 2019 ia kembali merilis buku keduanya dengan judul Sampah Kata Seniman Bisu yang merupakan antologi puisi.

Muraz Riksi kepada Kabar Bireuen, Kamis (10/1/2019) menjelaskan, puisi tidak semata mengungkapkan tentang perasaan terutama cinta. Puisi juga menjadi wadah dalam penyampaian aspirasi dan sudut pandang manusia.

Dalam Buku Sampah Kata Seniman Bisu, dikatakanya sebuah karya membutuhkan waktu yang lama untuk dihasilkan.

Setiap orang yang memahami karya akan menghargainya dengan segenap perasaan.

“Dalam hal ini, Sampah Kata Seniman Bisu menceritakan sepotong kisah pada sudut pandang seorang anak manusia. Ia yang melihat ribuan asa yang bergantung dan tercecer. Sedemikian itulah ia sampaikan dalam kalimat sastra tentang seni, politik dan kehidupan,” jelasnya.

Muhammad Razanur merupakan lulusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) tahun 2015 yang menetap di Desa Juli Meunasah Tambo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen.

Diakuinya, Sampah Kata Seniman Bisu merupakan sudut pandang yang menyiratkan banyak pesan moral terutama dalam menyibak kehidupan sosial.

Harapannya, buku ini tidak hanya menjadi sebuah karya tapi juga menjadi media komunikasi dalam penyampaian cara pandang.

Sekilas dikatakannya, tidak ada tulisan tentang cinta dalam buku ini yang ada hanya tulisan tentang kehidupan dan moral. Semua itu diramunya dengan bumbu sastra sehingga buku ini menjadi pilihan terbaik bagi pemuda dan masyarakat Bireuen. (Kusnaidi Usman.)

 

BAGIKAN