KABAR BIREUEN- Bulan Ramadan sudah di penghujung. Ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada kaum muslimin. Ketika malam-malam terakhir bulan primadona tersebut, biasanya banyak diadakan event-event besar di kalangan kaum muslimin, seperti Khataman dan sebagainya.

Seperti halnya di Tarim, salah satu kota mungil di Hadhramaut, provinsi terbesar di Yaman, ada salah satu tradisi turun temurun dari zaman pendahulu, yaitu mengadakan Khataman di masjid-masjid yang dianggap sakral dan legendaris oleh masyarakat setempat.

Acara Khataman tersebut biasanya diadakan ketika malam sagal atau ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dengan harapan meraih malam Lailatul Qadar.

Pada malam 21 Ramadan, Khataman diadakan di masjid As Segaf. Kemudian pada malam 23 Ramadan, Khataman diadakan di masjid Syeh Ali. Pada malam 25 di masjid Jamalul Lail dan beberapa masjid lainnya.

Kemudian, pada malam 27 di masjid Ba ‘Alawi, salah satu masjid sepuh di Tarim. Pada malam ganjil terakhir, tepatnya pada 29 Ramadan, Khataman diadakan di masjid Al Muhdhrar, masjid bermenara ajaib yang terletak di jantung kota Tarim.

Biasanya, dalam acara Khataman tersebut, salat Tarawih dilaksanakan pada jam 09.30 waktu Yaman.

Sama seperti malam-malam lainnya, Tarawih pun dilaksanakan sebanyak 20 rakaat dan dilanjutkan tiga rakaat Witir. Hanya saja, sebagian bacaan ayat Al -Qur’an yang dibaca dalam salat Tarawih yang berbeda.

Para jamaah membludak di masjid yang bermenara tanah liat nan menjulang tinggi tersebut. Bukan hanya dari Tarim saja, namun, mereka datang dari berbagai kota dan pelosok lainnya seperti Sewun, Inat, Hawi dan kota-kota tetangga lainnya.

Setelah salat Tarawih dilaksanakan, acara ini dilanjutkan dengan doa dan hizib Khataman, syiir-syiir perpisahan dengan Ramadan dan berbagai doa-doa lainnya.

Biasanya acara tersebut berlanjut hingga sahur, bahkan menjelang subuh. Begitulah suasana khataman Tarawih di masjid bermenara ajaib di Tarim. (Yunalis Abdul Gani B.Sc, Mahasiswa pascasarjana di Universitas Al Ahgaff, Tarim, Yaman, asal Simpang Mamplam, alumnus Ummul Ayman, Samalanga, Bireuen)

BAGIKAN