KABAR BIREUEN– Lahan peternakan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen di Desa Ranto Panyang, Kecamatan Juli, direncanankan menjadi kawasan peternakan. Areal seluas 66 hektare tersebut sebelumnya memang sempat terlantar.

Pemkab Bireun kemudian membangun program pembangunan kawasan pusat peternakan di lokasi tersebut.

Namun, sayangnya,  proyek yang dikerjakan mendahului anggaran tersebut dikabarkan tak berjalan sebagaiman mestinya. Karena sampai saat ini belum berfungsi. Bahkan sebagain menudingnya sebagai proyek fiktif.

Pantauan Kabar Bireuen di lokasi tersebut pekan lalu, areal tersebut memang telah ditanami rumput sebagai pakan ternak, Akan tetapi tak tampak jelas sapi atau hewan ternak lainnya di kawasan tersebut.

Padahal, kabarnya, di kawasan pertenakan itu dimanfaatkan untuk menampung 200 ekor sapi jenis Brahma Cross, bantuan Kementerian Pertanian RI yang rencana diterima pada Juli 2018. Namun, hingga akhir tahun anggaran ini sapi bantuan tersebut tak kunjung tiba.

Informasi yang diperoleh Kabar Bireuen,  biaya perencanaan mencapai ratusan juta rupiah, pembersihan lahan (land clearing) dan penghijauan di sekitar lokasi, dari sumber APBK dan APBKP TA 2018 yang mencapai Rp 2 miliar.

Pemkab Bireuen melalui Dinas Pertanian, juga telah menggelontorkan Rp 700 juta lebih dana untuk biaya penataan kawasan peternakan tersebut.

Pada Maret 2018 lalu,  Bupati Bireuen, H Saifannur bersama dinas terkait sempat meninjau langsung meninjau lokasi peternakan yang sempat terlantar tersebut yang rencananya memang akan dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi sebagai kawasan peternakan.

Bupati kemudian mengerahkan empat unit alat berat (2 beko dan 2 buldoser) untuk membersihkan lahan peternakan yang sudah ditumbuhi semak belukar itu.

Saifannur menegaskan, aset pemerintah berupa lahan peternakan tersebut dalam waktu dekat akan kembali difungsikan seperti sediakala, yang sempat terbengkali selama 15 tahun akibat konflik.

“Lahan peternakan ini harus kita kembangkan kembali, dan lahan yang sudah digunakan oleh masyarakat akan kita ambil alih lagi untuk kita jadikan lahan peternakan terpadu. Dalam tahun ini juga, lahan peternakan ini harus aktif kembali dan untuk tahap pertama akan kita budidayakan sapi brahma (sapi impor) dari Australia di lokasi itu,” sebut Saifannur saat itu.

Namun, nyatanya, hingga memasuki akhir tahun 2018, kawasan peternakan tersebut belum juga difungsikan.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, Ir Alie Basyah, M.si yang dikonfirmasi Kabar Bireuen melalui selulernya dan pesan WhatApp, Selasa (4/12/2018) belum memberikan tanggapannya. (Ihkwati)

 

BAGIKAN