KABAR BIREUEN– Pemberitaan terkait tiga bayi kembar yang terpaksa mendekam di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Bireuen akibat sang ibu, Magfirah binti Zakirsyah (27) yang ditahan karena terjerat kasus dugaan penipuan calon CPNS tahun 2015 menjadi heboh di Bireuen.

Sebagian warga beranggapan hal tersebut sangat tidak adil dan manusiawi karena bayi yang baru tiga bulan harus ikut mendekam di penjara bersama ibunya.

Namun, sebagian lain berpendapat, karena bayi tersebut masih menyusui, tak mungkin juga memisahkan dengan ibunya, yang kini harus berada di balik jeruji besi.

Tiga bayi kembar, satu laki-laki bernama Muhammad Furqan, dan dua perempuan yaitu Jihan Faiha dan Jihan Farahah lahir pada 29 Agustus lalu di RSUD Zubir Mahmud, Idi Kabupaten Aceh Timur

Ibu ketiga bayi tersebut menjadi tahanan di rutan tersebut sejak 16 November 2018 lalu, sehingga mau tidak mau harus merasakan tidur di balik jeruji besi bersama ibunya Magfirah, warga Desa Beuringin, Peureulak Barat, Aceh Timur.

Terkait hal tersebut, Kapolres Bireuen, AKBP Gugun Hardi Gunawan SIK, M.Si melalui Kasat Reskrim, Iptu Eko Rendi Oktama SH, kepada wartawan, Minggu (9/12/2018) menyebutkan, penahanan tersebut bukan dilakukan kepada tiga bayi kembar itu, tapi penahanan dilakukan kepada tersangka M.

Karena hasil gelar perkara di tingkat penyidikan, dan jaksa saat ini juga menganggap perlu melakukan penahanan.

Dijelaskan Eko, kasus penipuan CPNS yang dilakukan oleh tersangka M dilaporkan oleh seseorang korban penipuan di Mapolres Bireuen.

Setelah melalui proses penyelidikan dan penyidikan telah terpenuhinya unsur materil dan formil yang dilakukan M.

Berkas perkara dalam proses penyidikan sudah dinyatakan P21 (lengkap) oleh Kejaksaan Negeri Bireuen beberapa waktu yang lalu, dan dilakukan penyerahan tersangka dan barang bukti ke kejaksaan serta dilakukan penahanan terhadap M.

“Dan sekali lagi penahanan bukanlah dilakukan terhadap 3 orang bayi kembar tersebut, karena 3 bayi kembar tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan dari ibunya yang merupakan Tersangka dalam perkara penipuan tersebut,” ungkap Eko Rendi.

Disebutkannya, hak- hak tersangka saat penyidikan  diberikan, baik hak untuk beribadah, maupun salah satunya hak untuk menyusui.

“Karena sesungguhnya penegakan hukum itu demi terciptanya keadilan, keadilan bagi korban yang juga harus kita lihat, karena dalam perkara tersangka M, ada orang yang dirugikan, tidak semata mata keadilan di  satu pihak,” katanya.

Dia berharap, semoga kedepan masyarakat lebih bisa berhati hati lagi agar tidak menjadi korban penipuan, dan pelaku bisa mendapatkan putusan pengadilan yang seadil-adilnya.

Terakhir, sebutnya, semoga ketiga anak kembar tersebut dapat menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa, dan menjadi anak yang sholeh

Kepala Rutan Bireuen, Sofyan yang ikut mendampingi wartawan saat menemui Magfirah prihatin melihat kondisi bayi-bayi mungil ini. Dia bertekad akan membantu, mencarikan solusi yang tepat demi meringankan beban tahanan itu, dalam memenuhi kebutuhan pokok bagi tiga bayi kembar tersebut.

Pihaknya akan segera menyampaikan persoalan ini ke Dinas Sosial, supaya bisa dibantu untuk memenuhi kebutuhan makanan sehat dan Pampers bagi bayi-bayi tersebut.

Sementara itu, kepala Dinas Kesehatan Bireuen, dr Amir Addani M.Kes  menyebutkan, dokter selalu mengunjungi bayi-bayi itu setiap hari Senin dan Kamis, dan kondisi kesehatan mereka baik-baik saja, namun masih diperlukan perhatian lintas sektor, untuk menangani masalah in.

“Ketiga bayi itu saat ini dipantau langsung oleh dr Nanda dari Puskesmas Kota Juang. Selain itu, tetap berkoordinasi dengan pihak Rutan, agar dapat diawasi secara ketat,’ ungkapnya.

Bayi kembar itu baru berumur tiga bulan, maka belum diberikan makanan tambahan. Sehingga, hanya mendapat ASI eksklusif dari ibunya yang kini berstatus tahanan.

Tapi memang perlu segera mendapat penanganan serius dari instansi terkait, seperti konseling untuk ibu dari pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, supaya bisa memberikan bantuan kebutuhan kelengkqoan anak dan PMT ibu serta lain sebagainya, yang sangat dibutuhkan.

Sebagaimana diketahui, Magfirah, saat ditemui wartawan di Rutan Bireuen, Sabtu (8/12/2018) mengatakan, dia melahirkan tiga bayi kembarnya di RSUD Zubir Mahmud, Idi, Aceh Timur, pada Rabu (29/8/2018) sekira pukul 15.00 WIB.

Namun, lima hari setelah melahirkan, dirinya dijemput oleh polisi karena dituduh atau diduga tersangkut kasus penipuan atau calo CPNS yang terjadi tahun 2015 lalu.

“Karena itu, ketiga bayi kembarnya yang masih menyusui itu terpaksa dia bawa bersamanya  ke penjara,” sebutnya.

Dikatakannya, sejak dijemput oleh polisi di Peureulak, dia sebelumnya ditahan di Penjara Mapolres Bireuen, sejak 16 November 2018 atau 23 hari lalu,dia ditahan di Rutan Bireuen. (Ihkwati)

 

 

BAGIKAN