Pedagang beras di Pasar Sabtu Bireuen

KABAR BIREUEN- Harga beras di pasar tradisionil di Kabupaten Bireuen sejak Januari 2018 hingga saat ini masih melambung tinggi.

Hal itu salah satunya disebabkan karena memasuki musim paceklik dan musim tanam rendengan.

Pantauan Kabar Bireuen di pasar tradisionil Bireuen, Kamis (25/1/2018) harga beras medium kualitas nomor satu cap panah, UB sebelumnya Rp 145 ribu per karung ukuran 15 kg, memasuki masa paceklik naik menjadi Rp 162 ribu per karung, naik Rp 17 ribu per karung.

Beras kualitas nomor dua Rp 138 ribu per karung naik menjadi Rp 155 ribu per karung naik Rp 17 ribu per karung.

Sudah menjadi tradisi bagi pengusaha kilang padi di Kabupaten Bireuen setiap musim paceklik selalu mengambil kesempatan menaikkan harga besar kepada pengecer di pasar tradisionil. Sehingga pengecer terpaksa menaikkan harga beras. Padahal stok beras di kilang-kilang padi dan pasar tradisionil masih melimpah.

Ti Habsah salah seorang janda miskin yang ditemui Kabar Bireuen di pasar Sabtu Bireuen hendak membeli beras raskin yang harganya lebih murah, tapi barangnya tidak ada di pasar tradisionil. Karena itu dia terpaksa membeli beras kualitas nomor dua satu bambu dengan harga Rp 15 ribu per bambu.

“Untuk mengatasi harga beras yang masih bertahan melambung tinggi masyarakat Bireuen sangat berharap kepada Dolok segera turun tangan untuk mengelar pasar murah di Kabupaten Bireuen guna membantu masyarakat miskin yang selama ini resah menghadapi harga beras yang masih bertahan melambung,” harap Ti Habsah. (Abu Iskandar).

BAGIKAN