KABAR BIREUEN – Pemerintah Kabupaten Bireuen kembali menggelar Pengajian Subuh Keliling yang ke-58 berlangsung di Masjid Besar Baitul Kiram Kecamatan Pandrah.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Syariat Islam Kabupaten Bireuen ini dihadiri ratusan masyarakat, para Kepala SKPK, para Camat, Muspika serta Imum Mukim dan para Keuchik dalam Kecamatan Pandrah berlangsung Jumat (12/4/2019) pagi.

Sekda Bireuen Ir. H. Zulkifli, Sp mengapresiasi atas partisipasi ratusan masyarakat Pandrah mengikuti pengajian ini, Zulkifli mengucapkan terima kasih kepada Muspika khususnya Camat Pandrah Teguh Mandiri Putra serta Danramil Pandrah Kapten. Inf. Dailami yang telah memberikan kontribusi dan ikut hadir dalam menyukseskan acara ini.

Camat Pandrah Teguh Mandiri Putra, SSTP di sela-sela acara berlangsung, mengatakan, pihaknya telah mengimbau kepada seluruh masyarakat Pandrah untuk hadir mengikuti pengajian dan shalat subuh berjamaah.

“Sebenarnya masjid ini jamaah subuhnya rutin dilaksanakan semenjak 5 tahun lalu, dan tidak kurang 100 orang jamaah tiap hari. Selain itu, saya kira wirid jamaah subuh masjid ini merupakan wirid terpanjang jamaah subuh masjid di Kabupaten Bireuen yang dimulai dengan zikir dan istigfar serta baca Surah Waqiah rutin yang dipimpin oleh Tgk. Samsul Bahri,“ sebut Teguh.

Sementara itu Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kabupaten Bireuen Jufliwan, SH, MM dalam pidato singkatnya mengatakan acara ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan syariat islam di Kabupaten Bireuen.

“Ide dasar ini dicetuskan oleh Bapak Bupati dan Wakil Bupati. DSI hanya melaksanakan dan mengimplementasikan serta merangkum semua elemen masyarakat untuk memakmurkan Masjid dan pengajian-pangajian, baik pengajian anak-anak, majelis taklim, pengajian remaja masjid hingga pengajian akbar,” harapnya.

Acara dengan Tema Gerakan Jumat Subuh Mengaji yang ke- 58 diisi oleh Tgk. Saifuddin, SHi, menjelaskan orang-orang yang tidak diampuni dosanya pada bulan Sya’ban ada beberapa golongan, yaitu pembunuh muslim yang tidak halal daranya, tukang sihir, orang yang sombong.

Lalu makan riba, orang yang memutuskan tali silaturahmi, durhaka kepada dua ibu bapak,  ghibah atau orang yang suka mengumpat, namimah (adu domba), iri hati atau dengki, rafidhi atau aliran sesat, musauwir atau orang yang membuat patung, orang yang hidup dalam zina(melacur), judi, mabuk serta syirik. (Al Fadhal/Jurnalis Warga)

BAGIKAN