KABAR BIREUEN– Kasus persetubuhan dan perbuatan Cabul terhadap anak di bawah umur, merupakan satu dari enam kasus menonjol yang ditangani Polres Bireuen sepanjang tahun 2018.

Pada 2018, ada 27 kasus asusila/cabul, meningkat dibandingkan tahun 2017 sebanyak 23 kasus.

Hal itu dikatakan Kapolres Bireuen AKBP, Gugun Hardi Gunawan SIK,M.Si, didampingi Kasat Reskrim Polres Bireuen, Iptu Eko Rendi Oktama SH, Kasat Narkoba, Ipda M. Nazli, SH,MH, Kasat Intelkan, AKP Zakiul Fuad, Kabag Ops, AKP Awang Bayu Marantika SH, .dalam press rilis akhir tahun Polres Bireuen,  Senin siang (31/12/2018), di Gazebo Polres setempat.

Dikatakannya, kasus pencabulan anak di bawah umur terjadi pada 27 Oktober 2018 sekira pukul 21.00 WIB di jalan Desa Tingkeum, Kecamatan Kota Juang Bireuen telah terjadi persetubuhan dan  perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur yang dilakukan empat tersangka yakni, M I (16), pelajar, Desa Blang Tingkeum, RA (19), wiraswasta, Blang Tingkeum, SS (25), status DPO, dan T (40), Desa Teupuh, Kota Juang, juga masih DPO.

Tersangka melakukan aksinya dengan menghentikan sepeda motor yang dikendarai ZF (16), asal Desa Bireuen Meunasah Reuleut, Kota Juang dan pacarnya NM pada saat melintasi desa tersebut.

“Kemudian tersangka SS mencabut kunci kontak sepmor  milik korban  dan kemudian para tersangka secara bergiliran malakukan perbuatan cabul kepada korban,” sebut Kapolres

Kasus lainnya, permasalah tapal batas desa antara Desa Lancok dengan Desa Baro, Kecamatan Samalanga. Kasus penganiayaan berat yang terjadi di Desa Pante Gajah, Peusangan

Lalu, kasus dugaan dukun santet di Desa Paloh Panyang, Kecamatan Jumpa, Kabupaten Bireuen. Kasus pembunuhan di Desa Tingkeum Manyang, Kecamatan Kutablang serta permasalahan pembangunan Masjid Taqwa Muhamadiyah di Sangso, Kecamatan Samalanga, Bireuen

“Kriminalitas pada tahun 2018, sebut Kapolres mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2017 lalu. Pada 2018 ada 559 kasus sementara tahun lalu 232 kasus,” jelasnya.

Kasus kriminalpada 2018 yang ditangai Polres Bireuen, penganiayaan ringat sebanyak 125 kasus, cunramor, 86 kasus, pencurian biasa, 91 kasus, penipuan, 37 kasus,  KDRT, 27 kasus, penggelapan, 43 kasus dan cyber crime 6 kasus serta sejumlah kasus kriminal lainnya.

Kasus laka Lantas tahun 2017 sebanyak  227 kasus, pada tahun 2018 mengalami penurunanan, yaitu 212 kasus.

“Penyelesaian laka tahun 2018, sebanyak 185 kasus, korban meningal dunia 75 orang, luka berat, 14 orang, luka ringan 317 orang, total kerugian materil, Rp 178.150.000.

Narkotika pada tahun 2018, 89 kasus, lebih sedikit dibandingkan  tahun 2017 sebanyak 94 kasus. (Ihkwati)

 

BAGIKAN