KABAR BIREUEN – Kalau saja tidak cepat diantisipasi para guru dan aparat keamanan, hampir saja terjadi tawuran antara siswa SMKN 1 Bireuen dengan siswa SMAN 2 Bireuen, Kamis (29/11/2018) sekira pukul 11.30 WIB.

Pemicunya, diduga karena lemparan batu pada pagi harinya. Namun, kedua belah pihak saling klaim tidak melakukannya. Sebaliknya, mereka sama-sama mengaku sebagai pihak yang pertama mendapat perlakuan tersebut atau korbannya.

Begitu mendapat laporan akan terjadi tawuran antar siswa kedua sekolah yang letaknya bersebelahan itu, aparat kepolisian dari Polres Bireuen dan Polsek Kota Juang serta anggota Satpol PP Bireuen, langsung meluncur ke lokasi.

Saat itu, para siswa SMKN 1 Bireuen sedang berkumpul di sebelah timur SMAN 2 Bireuen atau di sekitar kios keripik depan Stadion Cot Gapu. Sebagian lagi berkonvoi dengan sepeda motor di Jalan Medan-Banda Aceh, persis di kawasan depan SMAN 2 Bireuen.

Sedangkan siswa SMAN 2 Bireuen masih belajar di ruang kelas masing-masing. Mereka belum tiba waktu pulang. Sehingga, tidak sampai terjadi tawuran antar siswa kedua sekolah tersebut.

“Begitu kami datang, mereka langsung kami bubarkan dan mengarahkan agar pulang ke rumah masing-masing. Sekarang kondisinya sudah aman dan terkendali,” jelas Kabag Ops Polres Bireuen, Kompol Muhammad Rasyid, SH yang sedang memantau situasi bersama anggotanya di sekitar jalan menuju SMKN 1 Bireuen.

Kepala SMKN 1 Bireuen, Muhammad Yusuf, S.Pd, mengatakan, persoalan itu dipicu karena pada pagi harinya ada lemparan batu ke SMKN 1 Bireuen dari arah SMAN 2 Bireuen. Namun, kata dia, siswa SMKN 1 Bireuen tidak membalasnya. Saat itu, mereka sedang melaksanakan upacara bendera.

“Tadi saya sampaikan pada siswa-siswi kami, kita hari ini cepat pulang. Setelah kita bergotong royong, pukul sebelas langsung pulang, karena besok kita ujian,” jelas Muhammad Yusuf.

Jadi, menurut dia, tadi siswa SMKN 1 Bireuen ramai-ramai keluar sekolah, memang sudah waktunya pulang. Mereka hanya berkumpul-kumpul sebentar di pinggir jalan, sebelum pulang.

Sementara menurut Kepala SMAN 2 Bireuen, Hanafiah, S.Pd, pihaknyalah yang jadi sasaran pelemparan batu. Sampai siswa yang ruang belajarnya sebelah utara dekat pagar pemisah dengan areal SMKN 1 Bireuen, harus dipindahkan ke ruang lain yang agak jauh letaknya.

“Sebenarnya, bukan kali ini saja kami dilempari batu. Hampir tiap hari sekolah kami jadi sasaran pelemparan batu. Kami memang tidak tahu siapa yang melemparnya. Meski begitu, kami selalu mengingatkan anak-anak, agar tidak seorang pun membalasnya,” ungkap Hanafiah.

Menurut dia, tadi menjelang siang anak-anak SMAN 2 Bireuen memang sempat keluar ruangan, karena ada yang melempari sepeda motor mereka di tempat parkir dengan batu. Itu hanya untuk menyelamatkan sepeda motor mereka dari lemparan batu.

Sebenarnya, kata Hanafiah, kalau kita sama-sama bisa menjaga anak didik masing-masing, hal tersebut bisa dihindari. Harus ada ketegasan, kalau ada siswa yang memprovokasi dengan melempari batu ke sekolah tetangga atau membuat keonaran lainnya, harus berani mengeluarkannya dari sekolah.

“Kalau tidak, kejadian yang sama selalu saja terjadi. Sebenarnya, kami sudah sangat muak dengan kejadian itu-itu saja selama ini,” sesal Hanafiah.

Persoalan saling melempari batu atau penyebab lainnya yang berujung tawuran, memang  selama ini kerap terjadi antara siswa SMKN 1 Bireuen dengan siswa SMAN 2 Bireuen. Permasalahan klasik itu, hingga kini belum juga ditemukan jalan penyelesaiannya dengan arif dan bijaksana. (Suryadi)

 

 

BAGIKAN