Camat Peudada, Drs. M. Hasan, sedang mencoba menyeberang sungai dengan gerobak gantung. (Foto: Kabar Bireuen/Suryadi)

Selama tiga tahun mengemban amanah sebagai Camat Peudada, sudah banyak yang diperbuat M. Hasan bagi kepentingan masyarakat. Salah satunya, membebaskan Kecamatan Peudada dari banjir.

Peudada merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bireuen, Povinsi Aceh yang rawan banjir. Selama puluhan tahun, Peudada selalu menjadi langganan banjir. Baik itu banjir karena hujan maupun luapan air sungai.

Sebentar saja hujan deras, airnya langsung menggenangi pemukiman penduduk dan juga areal persawahan. Ini belum lagi areal pertambakan masyarakat yang dilanda banjir dan juga merusak fasilitas umum lainnya.

Akibatnya, masyarakat sangat dirugikan. Bayangkan, ketika petani baru saja menyemai benih atau menanam padi, tiba-tiba sudah dibawa hanyut banjir. Begitu juga saat hendak panen, sudah dihantam banjir.

Banjir langganan itu sudah berlangsung lama. Bahkan, sudah hampir 30 tahun lamanya masyarakat Peudada ‘bersahabat’ dengan tumpahan air. Berbagai usaha telah diupayakan masyarakat setempat. Namun, persoalan klasik itu tidak kunjung juga teratasi.

Hal itulah yang menjadi pemikiran Drs. M. Hasan, saat diberikan amanah sebagai Camat Peudada pada 2015 lalu. Apalagi, pada akhir 2015 terjadi banjir besar. Masyarakat sampai ada yang mengungsi di Gampong Meunasah Pulo.

Anggota DPRK Bireuen, Drs. Muhammad Arif, ikut prihatin atas bencana banjir yang setiap tahun melanda kecamatan asalnya itu. Atas dukungan dari masyarakat saat itu, dia ingin memotong atau merusak Jalan Medan-Banda Aceh di kawasan tersebut. Sebab, gorong-gorong di bawah badan jalan itu, tidak mampu menampung debit air yang melimpah.

Menyikapi hal tersebut, Camat Hasan tidak tinggal diam. Lalu, dia mengirim surat ke instansi terkait di provinsi. Itu sehubungan dengan banjir di kawasan tersebut yang melimpah airnya hingga ke badan jalan. Akibatnya, bisa mengganggu pengguna jalan.

“Alhamdulillah, dengan adanya Dana Desa, gampong-gampong yang selalu tergenang banjir, seperi Pulo Ara, Dayah Mon Ara, Alue Sijuek, Jaba, Alue Rheng, Karieng, Gampong Baro, Meunasah Tunong dan beberapa desa lainnya, dapat membiayai pembangunan saluran. Tujuannya, agar air yang tergenang bisa mengalir dengan deras,” jelas M. Hasan yang ditemui Kabar Bireuen di ruang kerjanya, Rabu, 4 April 2018.

Namun, menurut Camat Hasan, pembangunan saluran tersebut tidak juga bisa membuat air dengan lancar. Masalahnya, air masih juga tertahan di gorong-gorong pada beberapa titik jalan nasional tersebut. Bahkan, airnya juga masih meluap hingga ke badan jalan.

Syukurlah, belakangan surat permohonan dari camat tadi, disikapi oleh PPK 02 yang membidangi jalan nasional. Selain itu, juga dipenuhi permohonan pembangunan gorong-gorong di lima titik, dari delapan titik yang dimintakan.

Karena itu, sejak 2017 permasalahan banjir sudah mulai teratasi di Peudada. Bahkan, tahun 2018 ini Peudada sudah bebas banjir.

“Sekarang, kalau setiap hari hujan deras selama dua jam dalam dua minggu, Insya Allah Peudada tidak banjir lagi,” ungkap Camat Hasan dengan raut wajah gembira.

Begitu juga di bahu jalan depan Meunasah Pulo yang selalu tergenang air, kata dia, kini sudah teratasi. Pada 2017 lalu, PPK 02 telah membangun saluran box culvert di kawasan itu, sepanjang 700 meter hingga ke SDN 1 Peudada.

Selama ini, di kawasan tersebut memang selalu tergenang air dan menjadi tempat yang kumuh. Apalagi, di situ juga dijadikan tempat berjualan ikan.

“Kini, di sana telah dibangun saluran sepanjang 1,5 kilometer, sebelum jembatan Peudada sampai ke kawasan kota Peudada,” jelas camat yang sangat akrab dengan masyarakat ini.

Dia juga mengaku, selalu mendesak pemerintah provinsi dan juga kabupaten, agar mengalokasikan dana untuk pembebasan tanah di PPI Peudada. Tujuannya, agar PPI dan jetty di Krueng Peudada dapat dialihkan atau diluruskan. Ini juga untuk mencegah erosi yang bisa berakibat pengikisan tiang jembatan Peudada.

Selain itu, dia juga meminta dialokasikan dana untuk pembebasan jaringan irigasi Aneuk Gajah Rhet dan penyelesaian pembangunannya sesegera mungkin. Dengan begitu, dapat mengairi sawah masyarakat yang selama ini tadah hujan di sebagian desa dalam Kemukiman Pinto Rimba, Blang Birah dan Alue Rheng.

Camat Hasan memang dikenal sangat dekat dengan masyarakat. Dia selalu turun langsung ke lokasi, begitu mendapat laporan ada warga yang membutuhkan perhatiannya.

Saat turun ke lapangan, dia sangat terenyuh ketika mendapati anak-anak mengaji di tempat yang tak layak di Gampong Panton Mesjid. Mereka yang jumlahnya sekitar 100 orang, mengaji di balai tempat kenduri turun sawah berukuran sekira 4×5 meter. Balai tersebut ditempatkan di depan rumah seorang warga setempat, Tgk. Rasyidi. Anaknya Tgk. Rasyidi, Tgk. Darkasyi, sebagai guru ngajinya.

Saat waktu salat, mereka harus bergiliran. Masalahnya, ukuran balai tersebut sangat sempit. Tidak muat kalau mereka melaksanakan salat sekalian secara berjamaah.

Sebenarnya, Hasan berniat membantu membangun balai pengajian baru yang lebih layak dengan uang pribadinya. Namun, saat itu uang yang dia punyai sangat terbatas jumlahnya. Hanya lima juta rupiah.

Tentunya, jumlah tersebut tidak mencukupi untuk membangun balai pengajian yang layak dan agak luas, agar bisa menampung anak-anak mengaji yang jumlahnya ratusan orang. Dia berpikir, daripada nantinya kalau dibangun balai tersebut serba tanggung, lebih baik uang itu dipergunakan dulu untuk kebutuhan lain.

“Kemudian saya tanyakan pada Tgk Darkasyi, selain balai pengajian, apa yang sangat dibutuhkan anak-anak? Ternyata, mereka juga sangat membutuhkan sumur bor. Makanya, uang itu saya suruh pakai saja untuk membangun sumur bor,” ungkap mantan guru ini.

Yang juga sangat mengiris kalbunya, ketika baru-baru ini dia mendapat laporan, ada masyarakat di kawasan pegunungan Gampong Lawang yang harus menggunakan seutas tali seling saat menyeberangi sungai. Hal tersebut, untuk mengangkut berbagai hasil perkebunan mereka dari seberang sungai.

Pengangkutaan hasil perkebunan ala Tarzan ini, sudah berlangsung sejak tahun 2015 lalu. Cuma, baru sekarang Camat Hasan mendapat laporan dari salah seorang masyarakat. Dia memperlihatkan padanya video orang mengangkut hasil kebun, meluncur dengan seutas tali seling baja.

Peralatan penyeberangan tersebut dulunya dibikin seorang pekebun di kawasan Peungeuling yang akrab disapa Ayah Muni ini. Semua biayanya berasal dari kantong pribadi Ayah Muni. Meski begitu, dia membiarkan siapa saja boleh memakainya.

Cara kerjanya memang sederhana saja. Tali seling baja diikat pada pohon di kedua seberang sungai. Kemudian, dipasang katrolnya. Kalau mau mengangkut barang yang sudah dimasukkan ke dalam goni, tinggal diikat pada katrol. Bersamaan dengan pemiliknya, dapat bersama meluncur ke seberang sungai.

Tentu, tidak semua pekebun di sana berani mengangkut barangnya yang penuh resiko itu. Bisa-bisa kalau tidak kuat pegangannya, akan tercebur ke sungai atau terpelanting jatuh saat mendarat di seberang sungai.

Melihat cara kerja penyeberangan dengan seutas seling baja yang penuh resiko, Camat Hasan memutar otak. Dia berpikir, bagaimana caranya agar penyeberangan tersebut tidak berbahaya bagi keselamatan jiwa dan juga barangnya.

Lalu, dia berkonsultasi dengan Ayah Muni, karena dia juga berpengalaman kerja di bengkel. Akhirnya, didapat ide untuk membuat gerobak gantung dari besi. Cuma tali selingnya harus dua utas. Dengan kedua tali seling itulah, gerobak tersebut digantung di kedua sisi bagian atasnya.

Dananya, hasil patungan uang pribadi Camat Hasan dengan Ayah Muni. Gerobak gantung itu mereka wakafkan untuk masyarakat di kawasan tersebut yang membutuhkan sarana penyeberangan.

“Itulah yang dapat kami perbuat bagi masyarakat, untuk mempermudah penyeberangan buat sementara waktu. Sebelum pemerintah membangun jembatan yang lebih layak,” ungkap ayah empat anak ini. Dua orang di antaranya, Zikri Daulay (hafidz, aktor film/sinetron) dan Syakir Daulay (hafidz, dai, qari dan aktor film/sinetron) di Jakarta.

Nah, dengan adanya gerobak gantung tersebut, kini masyarakat yang berkebun di kawasan itu, sudah dapat dengan leluasa mengangkut hasil kebun mereka.

Resiko bahayanya sudah dapat dikurangi, ketimbang sebelumya. Sekarang tali selingnya sudah ada di kedua sisi dan lebih aman. Barangnya juga bisa muat lebih banyak. Demikian juga pemiliknya, dapat menyeberang sekaligus dengan aman. *** (Suryadi)

 

BAGIKAN