Alm dr Fauziah

KABAR BIREUEN- 11 Juni 2018, tepat 17 tahun penabalan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bireuen menjadi RSUD dr Fauziah.

Bertepatan pada 11 Juni 2001, saat Aceh masih dalam status darurat, Bupati Persiapan Kabupaten Bireuen Dr H Hamdani Raden meresmikan nama Rumah Sakit Umum Bireuen ditabalkan dengan nama RSUD dr Fauziah Bireuen.

Nama itu diberikan untuk mengenang peristiwa berdarah dan sebagai hari yang paling bersejarah bagi dunia kedokteran di Aceh atas gugurnya seorang dokter wanita bernama dr Fauziah Kepala Puskesmas Peudada bersama seorang perawat Puskesmas T Mustafa.

Mereka tewas tertembak terjebak komplik Aceh dalam mengemban tugas kemanusiaan di desa pergunungan Cot Kruet Kecamatan Peudada 25 Mei 1999.

Tidak semua orang tahu mengapa Badan Layanan Umum Rumah Sakit Bireuen diberi nama RSUD Dokter Fauziah. Nama asalnya diketahui masyarakat dengan nama Rumah Sakit Umum Bireuen.

Pemberian nama RSUD dr Fauziah dari nama seorang dokter wanita dokter Fauziah Kepala Puskesmas Peudada yang gugur dimasa konflik Aceh dalam mengemban tugas kemanusiaan.

Sebagai mengenang jasa-jasanya sebagai petugas kesehatan atau relawan kemanusiaan yang gugur dalam mengemban tugas sangat pantas dianugerahkan penghargaan kepadanya sebagai pahlawan kemanusiaan.

Namun sudah 17 tahun penabalan namanya menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bireuen menjadi nama RSUD dr Fauziah, jasa-jasa almarhumah belum pernah sekalipun diperingati, baik pihak RSUD dr Fauziah maupun Pemkab Birteuen terkesan terlupakan.

Penulis dimasa darurat komplek Aceh sebagai relawan kemanusiaan menjabat sebagai Ketua perdana Palang Merah Indonesia Cabang BIreuen dan sebagai pendiri Palang Merah Indonesia di Kabupaten Bireuen.

Sebagai relawan kemanusiaan mempunyai tugas yang paling berat, tapi mulia kendati harus menghadapi tantangan mempertaruhkan nyawa dalam desingan peluru sekalipun.

Dengan menggunakan ambulance pinjaman dari PMI Padang Sumatera Barat bersama beberapa anggota PMI Bireuen dan dua relawan PMI Padang Sumbar berhasil mengevakuasi jenazah dr Fauziah, perawat T Musptafa dan beberapa perawat Pukesmas Peudada yang mengalami perdarahan berat luka tembak ke RSUD Bireuen untuk mendapat pertolongan medis.

Sebagai Direktur RSUD Bireuen pada masa komflik Aceh masih dijabat dr Edfuadi Harun, S pB (Alm) mengusulkan kepadanya agar nama RSUD Bireuen diusulkan kepada Bupati BIreuen Drs H Hamdani Raden ditabalkan dengan nama dr Fauziah yang gugur dalam komplek Aceh, dapat diterima dengan baik.

Almarhumah adalah puteri Kecamatan Peusangan, alumni Kedokteran USU Medan saat itu menjabat sebagai Kepala Puskesmas Peudada turun mengemban tugas kemanusiaan bersama perawat Teuku Mustafa dan beberapa perawat lainnya menumpang truk Reo aparat PPRM terjenak konflik bersenjata pihak bertikai dalam perjalanan di kawasan pergunungan Cot Kruet Peudada.

Dalam insiden berdarah itu, dr Fauziah bersama Teuku Mustafa yang duduk ditempat duduk depan bersama sopir truk aparat keamanan gugur terkena tembakan.

Kedua pahlawan kemanusiaan yang gugur sebagai syuhada kesuma bangsa yakni dr Fauziah Daud Kepala Puksesmas Peudada bersama petugas kesehatan Teuku Mustafa.

Gugurnya kedua pahlawan kemanusiaan dalam konflik bersenjata pertama kali terjadi di Aceh dan di Indonesia telah mengundang keprihatinan dunia kedokteran.

Direktur RSUD dr Fauziah dr Mukhtar Mars mengatakan RSUD dr Fauziah yang dipimpinnya merupakan sebuah Rumah Sakit tertua di Aceh didirikan sejak pejajahan Belanda tahun 1928.

Selama Bireuen masih dibawah Kabupaten induk Aceh Utara status RSU Bireuen sejak 1 Dersember 1971-1972 turun menjadi Puskesmas Jeumpa.

“Pada 19 Mei 1994 ditingkatkan statusnya menjadi RSI tipe D dan pada 5 Juni 1996 ditingkatkan statusnya menjadi tipe C. Tanggal 26 Desember 2013 tim Depkes RI meninjau RSUD dr Fauziah ditingkatkan statusnya menjadi RSU tipe B sebagai Rumah Sakit Rujukan Kabupaten tetangga, Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah dan sebagian Aceh Utara,” jelas dr Mukhtar Mars. (H.AR Djuli)

BAGIKAN